BELAJAR PASRAH

165

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku best seller

“Belajar pasrah membutuhkan waktu panjang. Namun lambat laun karena belas kasih Tuhan, saya bisa lebih berserah.”

TEMPUSDEI.ID (23/11) – Saya biasa berdoa satu jam sehari. Hari itu saya sudah berdoa hampir satu jam, namun saya tidak merasa “connect” dengan Tuhan. Saat hampir mengakhiri doa harian, saya baru merasakan “nyambung” dengan Tuhan. Padahal sebentar lagi saya harus berangkat menjemput anak di tempat kursus. Hati ini masih ingin berdoa. Tuhan seperti “menahanku” untuk tinggal bersama-Nya lebih lama lagi. Akhirnya, saya mengikuti dan meneruskan berdoa hingga hampir tiga puluh menit lagi. Saat-saat itu saya mengalami kasih Tuhan yang begitu mendalam. Tetapi, selama tiga puluh menit itu saya juga tidak tenang dan khawatir akan terlambat menjemput anak.

Akhirnya setelah berdoa, saya langsung pergi menjemput anak saya Winner. Sesampainya di tempat kursus, ternyata tidak seperti biasanya anak saya masih mau bermain dengan teman-temannya. Saya lega karena ternyata Winner tidak gelisah karena terlambat dijemput. Malahan saya masih menunggu sampai ia selesai bermain dengan teman-temannya.

Tuhan lebih tahu dan Dia tidak pernah salah. Hanya memang saya masih sering belum mengerti bagaimana mengikuti bimbingan-Nya. Ini hanya satu contoh kecil, saya belajar mengerti kehendak-Nya. Tidak selalu mudah karena kadang saya masih lebih berpegang pada pikiran dan rencana sendiri daripada kehendak-Nya.

Tidak mudah menundukkan keinginan, harapan dan rencana saya di bawah kekuasaan Tuhan. Saya masih terus berjuang agar semakin pasrah pada kehendak-Nya. Hari demi hari saya ingin lebih lagi membiarkan Tuhan memimpin hidup saya, membiarkan pikiran dan rencana saya dibawa mengalir ke dalam pikiran dan rencana Tuhan yang kadang tak terselami.

BACA JUGA:  Menyirami dan Menyiangi Benih-benih Iman, Harapan dan Kasih
Salah satu buku Eleine Magdalena.

Belajar pasrah membutuhkan waktu panjang. Namun lambat laun karena belas kasih Tuhan saya bisa lebih berserah. Saya tidak lagi terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Semua ini adalah rahmat. Ternyata Tuhan tidak pernah salah. Dia memberi yang kami sekeluarga butuhkan pada waktu-Nya.

Saya melihat pimpinan Tuhan selangkah demi selangkah dalam hidup. Tuhan yang memanggil. Ada tarikan untuk terus mengikuti-Nya. Dorongan yang lembut tetapi kuat untuk menghendaki apa yang dikehendaki-Nya. Ini membuat saya selalu ingin dibentuk menjadi apa saja, sekecil atau sebesar apa pun yang Tuhan kehendaki. Terpujilah nama Tuhan. (Kisah Kasih Tuhan, 2015)

 

 

 

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here