Puisi Agust G. Thuru: Nyanyian Jerit

73
Jangkring pada sebuah batu. Foto oleh Yose Wahyu
Oleh Agust G Thuru
Jika jangkrik  menjerit
biarkan saja tak usah peduli
mungkin ia sedang lantunkan  doa
dengan cara dan bahasanya
yang engkau tak selami

Jika kelelawar menjerit
biarkan  saja tak usah tanggap
mungkin ia sedang birahi
pada dunia malam
untuk melahirkan anak-anaknya

Jika burung hantu menjerit
biarkan saja tak usah didengar
mungkin ia sedang memberi tanda
bahwa akan ada kematian
karena tertular virus korona

Jika ada jeritan  para miskin papa
sendengkan telinga dan dengar
mungkin jeritnya  bukan  lapar
tapi ia kehilangan  harapan
karena keadilan hilang darinya

Denpasar, 4 Agustus 2020

Agust G. Thuru lahir di Maghilewa Inerie, Ngada, Flores NTT, 25 Mei 1957. Menyelesaikan pendidikan di STKIP Widya Yuwana Madiun. Pernah bekerja sebagai guru. Sejak 1990 sampai sekarang menekuni dunia jurnalistik. Saat ini Pimred tabloid Mentik, tinggal di Denpasar Bali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here