Dalam Sebuah Tarikan Nafas dan Decak Kagum di Kapernaum

172
Para peziarah berfoto sejenak di gerbang Kota kapernaum.

Siang itu cuaca di Kota Kapernaum, Israel sangat cerah. Meski begitu, hawa udaranya tetap saja terasa dingin sehingga orang-orang tetap menggunakan jaket, minimal sweater. Di depan gerbang kota ini decak kagumku kembali berbunga. Tentu saja bunga hatiku juga mekar di Betlehem, Nazareth dan beberapa tempat lain.

Kapernaum adalah sebuah nama yang kudengar sejak kecil di kampungku. Sosoknya kemudian tampak sangat riil di depan mata dan kuhirup udaranya yang bertiup dari Sungai Yordan dan Danau Tiberias, dua tempat yang amat bersejarah dalam perjalanan hidup Yesus Tuhanku yang usiaNya “hanya” 33 tahun itu. Letak Kapernaum tidak jauh dari Sungai Yordan dan Danau Gennesaret yang juga dikenal sebagai Danau Kinneret. Di kota yang didirikan tahun 150 SM inilah Yesus sering mengajar (Lukas 4:31) dan melakukan berbagai karya dan mukjizat.

Bersama rombongan, kami menginjakkan kaki di Kota Kapernaum yang biasa juga dieja Capharnaum atau Kfar Nahum, berarti Kota Nahum, pada hari kelima dalam ziarah 12 hari itu. Siang itu matahari  bergerak menuju   tengah-tengah langit atau posisi kulminasi. Cahaya pada jam seperti itu terasa over sehingga menyilaukan. Akibatnya, pada saat-saat tertentu orang harus memicing-micingkan mata.

Di Kapernaumlah Yesus membangkitkan anak perempuan Jairus, kepala rumah ibadah. Kisah ini tersua dalam Markus 5:22 dan Lukas 8:41. Dari kota ini juga kita mengenal peristiwa-peristiwa dramatis seperti Yesus melepaskan orang di Sinagoda yang kerasukan (lihat Markus 1:21-28). Atau kisah lain tentang orang lumpuh yang diturunkan dari atap untuk disembuhkan Yesus (Markus 2:1-12), terjadi di kota ini, dan masih banyak karya lain lagi.

Di Kota Kapernaum Yesus telah melakukan banyak karya dan mukjizat, namun seperti halnya Khorazim dan Betsaida, Yesus mengecam Kota Kapernaum ini. “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati…. (lihat Matius 11:23-24).

Yesus telah banyak mengajar dan membuat mukjizat di antara mereka, namun banyak penduduknya yang tidak mau bertobat dan percaya. Kata-kata Yesus dalam Matius 11:23-24 itu kemudian terbukti. Tahun 750 Kapernaum hancur. Kota yang Nampak hari ni hanyalah sebuah situs arkeologi, tinggal reruntuhan seperti banyak kota lain.

Seorang peziarah dari Rusia meminta saya untuk memotretnya sebab teman-temannya terpencar agak jauh darinya. “Would you like to take my picture?” kita-kira begitu katanya ke saya yang sedang menunggu giliran untuk berfoto di gerbang. Setelah saya memotretnya, dia lalu menawarkan diri untuk memotret saya. “Spasiba!” kataku. Dia pun kaget mendengar kosa kata Bahasa Rusia yang berarti “terima kasih” itu. Setelah ngobrol sebentar saja, kami harus cepat-cepat mengejar rombongan masing-masing, takut tertinggal.

Sepulang ke hotel saya lalu duduk terdiam mencoba “memutar film” singkat dalam khayalanku sendiri tentang kota yang terkenal dengan The Town of Jesus itu. Walau tidak tahan dengan udara yang sangat dingin untuk ukuranku yang terbiasa dengan suhu tropis, saya mencoba sedikit membuka jendela yang menyebabkan hawa dingin segera merangsek masuk. Saya sengaja agar setidaknya merasakan angin malam yang Tuhanku Yesus hirup tatkala berjalan kian ke mari mewartakan Kabar Sukacita dari BapaNya.

Ditemani angin pada malam itu saya menulis solilokui singkat dan sederhana ini:

Pada Malammu Kapernaum

Kapernaum, aku mestinya diam saja dalam hening malam tanpa rembulan ini
Tafakur dalam buaian rona cahaya lampu jalanmu
Bahkan membeku dalam angin yang merayap dan menyengat kulitku
Namun gemilang silammu bersama Tuhanku, Tuhan kita bersama
Menyeretku menulis puisi ini
Agar kau dan aku tak pendek ingat
Tentang Yesus anak kandungmu
Yang suaraNya parau karena melantamkan agung BapaNya dalam Sinagoga purba
Yang berselingkit dan menyenasib di antara senyum dan deritamu
Yang abai akan hidupNya sendiri
Masih ingat bukan, anak Yairus yang dibangkitkanNya?
Mertua Petrus yang tahir?
Setan yang terbirit-birit disusirNya?
Empat keping dirham dari mulut ikan?

Sesungguhnya!
Engkau adalah CintaNya
Engkau adalah buah hatiNya
Engkau nadiNya

Lihatlah!
IngatanNya bahkan lumpuh dan abai atas karang batok kepalamu
Ia tetap rela meregang nyawa di salib untuk kau dan aku
Kini tak ada pilihan lagi
Kita mesti salin getas hidup ini agar jadi puisi indah bagiNya

EMANUEL DAPA LOKA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here