Melayani Adalah Anugerah

173
Eleine Magdalena dengan suka cita.

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku best seller

Seorang teman pernah berkata, “Kalau ada orang yang minta bantuan, minta sumbangan, layaknya kita bersyukur karena tenaga, ide, uang kita masih laku, masih mau diterima Tuhan”.

Bukan Tuhan yang butuh kita, tapi kitalah yang membutuhkan pekerjaan dari Tuhan. Sesungguhnya melayani adalah anugerah.

Tampaknya pendapat seperti ini berkebalikan dengan kenyataan yang sering kita jumpai. Dalam hal sumbang-menyumbang mungkin kita protes: “Sumbangan lagi, sumbangan lagi”. Atau mungkin berpikir: “Kok aku lagi, aku lagi yang dimintai”.

Dalam memberi tenaga mungkin kita berpikir nanti saja kalau sudah pensiun. Atau, mungkin kita berpikir tidak ada keuntungan dalam melayani malahan kita harus berkorban waktu, tenaga dan materi.

Umumnya orang suka mendapat penghargaan atas jasanya. Wajar tampaknya untuk minta dihormati karena sudah bekerja dengan jujur dalam proyek sosial atau pembangunan gereja. Atau, mungkin dalam hati kita berharap Allah mengganjar pelayanan kita dengan berkat yang melimpah. Perkataan Yesus dalam Luk. 17:7-10 mengingatkan kita bagaimana harus bersikap sebagai pelayan Tuhan:

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya; akan berkata pada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: ‘Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum?’ Adakah ia akan berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Tentu saja tidak!” Yesus melanjutkan, “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

BACA JUGA:  Pelayan yang Tuhan Kehendaki

Yesus menginginkan kita tidak mementingkan upah dalam hidup rohani. Para murid lebih dari satu kali mempersoalkan siapa di antara mereka yang terbesar di dalam Kerajaan Surga (Mrk. 9:34, Luk. 9:46). Upah bukan hanya soal materi, tapi juga soal kedudukan, pujian, dan berkat rohani. Janganlah apa pun menjadi motivasi kita dalam melayani, kecuali demi melakukan kehendak-Nya. Tidak ada seorang pun pantas berkata: “Allah berhutang kepada saya”.

Sesungguhnya kitalah yang berhutang kepada Allah. Kita telah ditebus dari dosa dan kematian. Kita berhutang nyawa dan keselamatan pada Kristus. Hidup kita sepenuhnya menjadi milik Kristus. Inilah hidup kekal dan keselamatan dalam Kristus, yaitu dengan menjadi milik-Nya. Kalau kita menyadari hal ini, tentu sudah selayaknya kita giat melakukan kehendak-Nya apa pun risikonya. Bukan demi upah, tetapi untuk menyenangkanNya. Inilah cara kita bersyukur atas kehidupan yang telah dianugerahkanNya kepada kita melalui wafat dan kebangkitanNya. MelayaniNya adalah suatu kehormatan dan anugerah. (Mata Iman, 2017)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here