Romo L. Sugiri SJ, Wafatnya Imam Karismatis yang Bijaksana dan Murah Senyum

391
Romo Sugiri SJ lengkap dengan pakaian adat Jawa. Dia sangat mencintai budaya Jawa. Foto: ist
Romo Sugiri SJ dalam pakaian adat Jawa. Foto: EDL

 

Wafatnya Romo L. Sugiri SJ pada 11 Juni 2020, meninggalkan duka mendalam di hati sangat banyak umat yang mengenalnya. Mereka kehilangan seorang bapak, sahabat, teman diskusi, penasihat, pendoa, rekan sepelayanan dan seterusnya. Romo Sugiri dikenal dan dikenang sebagai imam yang murah senyum, berwawasan luas, memiliki kematangan iman dan kerohanian, berkesan, tidak mudah dilupakan dan seterusnya. Kepada Emanuel Dapa Loka dari TEMPUSDEI.ID mereka mencurahkan kenangan dan doa mereka:

 

 

Romo Chris Purba SJ, moderator Badan Pelayanan Keuskupan Pembaruan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (BPK PKK KAJ).

Romo Chris Purba SJ. Foto dok HIDUP

Romo Sugiri merupakan teman sekomunitas, Rupert Meyer Jakarta. Rm Sugiri mengumpulkan para Jesuit sekomunitas untuk ber-fellowship sebulan sekali di Villa Erema Village. Tujuannya agar kami sungguh merasakan dan mengalami hidup sebagai saudara dan sukacita, dapat melayani dengan sukacita. Menurutnya, perlu ada waktu untuk “refreshing of mind and body,” agar tidak jadi “burning out” dan tetap kreatif.

Rm Sugiri orang yang sangat inspiratif sebagai Jesuit dan dalam karya evangelisasi. Dia belajar terus-menerus, maka tidak ada tanda-tanda kepikunan sampai akhir hayatnya. Bahkan di usia lanjut pun, dia memberi inspirasi bagaimana lukisan jadi sarana evangelisasi. Terasa sekali semangat pembaruan hidup rohani melalui Pembaruan Karismatik, dia hayati dan praktikkan. Ada yang apriori terhadapnya dan menyebutnya mendirikan “kerajaan sendiri,” ternyata kemudian hari orang-orang melihat itu tidak benar. Sebab dia punya sikap lepas bebas. Semuanya “for the Glory of God.”

Vinsen Chandra, kordinator BPK PKK KAJ

Ronald Moniaga dan Vinsen Chandra. Foto: EDL

Romo sugiri adalah figur romo yang mengalami kuasa Roh Kudus dan bersemangat membagikan rahmat pembaruan sampai ke seluruh Indonesia. Beliau merintis sekolah evangelisasi yang sekarang sudah meluas , bukan hanya di KAJ sampai ke seluruh indonesia. Jasanya sangat banyak untuk Gereja Katolik Indonesia dan Gerakan Katolik Karismatik. Kita semua sangat kehilangan figur yang penuh semangat mewartakan kabar gembira, selalu gembira dan tersenyum.

BACA JUGA:  Rektor Perempuan Pertama ITB dalam Sejarah 100 Tahun: Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D

Ronald Moniaga, mantan Koordinator BPK PKK KSJ

Romo Sugiri adalah sosok seorang karismatis. Dimana pun dia berada, dia selalu membawa suatu karisma di sekelilingnya, yang membuat orang melihat dan mendengarnya. Ketenangan dan pengetahuannya yang sangat luas membuat orang kagum, tetapi kerendahan hati dan kesalehannya membuat orang nyaman berbincang lama dengan dia. Kita kehilangan sosok seorang Karismatik sejati, tetapi cerita hidupnya akan tetap abadi.

Selamat jalan Romo Sugiri. Engkau akan kami kenang selamanya dan doakan kami yang masih mengembara ini. Kiranya Tuhan menyertaimu sepanjang jalan menuju ke rumah Bapa di Surga.

Meike Lolong Clasina, Pewarta Senior

Lukisan Romo Sugiri, tampak Alex Kandou, Esther Kandou, Romo Sugiri dan Meike Lolong. Foto: ist

Saya mulai ikut melayani di Karismatik Katolik sejak tahun 1988, padahal saya berasal dari Gereja Protestan dan belum terdaftar resmi di Gereja Katolik. Akibatnya dalam surat pengutusan, nama saya sering dicoret oleh Kordinator BPK selama kurang lebih 10 tahun. Meski begitu, saya tetap melayani sekalipun tanpa nama. Prinsip saya, yang saya layani adalah Tuhan.

Ketika Romo Sugiri masih menjadi Moderator BPK PKK KAJ, saya datang kepadanya untuk konseling. Saya tidak pernah lupa nasihatnya yang berwawasan luas dan membawa damai di hati. Beliau berkata Gereja Katolik dan Protestan itu: Allah Bapanya sama, Yesus Kristusnya sama, Roh Kudusnya sama, dan Bunda Marianya sama, hanya caranya saja berbeda. Beliau menerima saya. Kemudian, Almarhum Uskup Agung Leo Soekoto memberi surat pengutusan bagi saya untuk pelayanan di Gereja Katolik, bahkan datang ke rumah saya untuk mendoakan almarhum ayah saya yang pada saat itu sedang sakit.

Kemudian saya merasakan Tuhan memimpin saya ke Gereja Katolik. Akhirnya saya diberi surat resmi dan diterima di Gereja Katolik, tanpa dibaptis lagi. Baptisan saya dianggap sah oleh Gereja Katolik karena saya berasal dari gereja main stream.

Romo Sugiri menerima saya bahkan melukis kami berempat (Pak Alex Kandou, Romo Sugiri, Ibu Esther Kandou dan saya), dengan judul lukisan Evangelii Gaudium. Sungguh merupakan suatu kehormatan dan berkat bisa mengenal keluasan hati Bapa dan kebaikan Tuhan yang konsisten melalui Romo Sugiri.

BACA JUGA:  Selamat Jalan, Romo Lambertus Sugiri, SJ, Mencintai Jawa dan Kebudayaannya, Menangis Saat Meninggalkan Solo

Cecilia Novalassa, rekan sepelayanan

Cecilia dan Romo Sugiri. Foto: dok Cecilia.

Saya mengenal Romo Sugiri SJ sejak beliau berkarya di Katedral tahun 1999. Kami bersama-sama dalam pelayanan baik di DPH maupun di Persekutuan Doa Karismatik dan Kursus Evangelisasi Pribadi.

Beliau pribadi yang luar biasa. Selalu hadir sebagai Imam yang membimbing, menjadi guru, mau memberi kesempatan kepada awam untuk menggali talenta dan menggunakannya, sehingga terampil dan percaya diri. Dia memberi dukungan dalam masa sulit dan tidak segan-segan menumpangkan tangan dan mendoakan saat berjumpa.

Beliau imam yang sangat setia hadir di ruang pengakuan dosa pada hari Minggu-minggu biasa. Ini sesuatu yang luar biasa. Beliau sangat rajin membaca dan terus belajar. Terakhir saya mengunjungi di Theresia, pada masa kondisi kurang sehat pun beliau tetap membaca buku-buku tebal dan terus mengasah otaknya.

Semangatnya luar biasa, terutama untuk mewartakan Injil. Dalam Temu Nasional Pengajar Evangelisai Oktober 2019, beliau sangat bersemangat memberikan sesi pengajaran selama 90 menit. Satu yang saya ingat, beliau menyampaikan bahwa kita harus selalu membawa sukacita bagi sesama, karena Yesus adalah pembawa sukacita.

Yang pasti beliau sangat menyemangati dan mendukung saya dalam pelayanan. Ini membuat saya makin menemukan Tuhan dan bertumbuh dalam iman.

Selain Imam, beliau adalah guru, mentor, penyemangat dan juga hadir sebagai figur yang kebapakan, yang memberi dukungan dan berdoa bagi saya pribadi.

Yoppy Taroreh, Pewarta Senior

Pasutri Yoppy dan Yvonne Taroreh. Foto: ist

Pengkaderan Romo Sugiri sangat luar biasa. Dialah yang membawa Karismatik masuk ke Indonesia melalui Jakarta pada tahun 1976, yang kemudian berkembang luar biasa walaupun tantangannya juga luar biasa. Tahun 1986 saya bergabung dalam Karismatik, saya melihat figurnya sebagai bapa,  dan leader  yang luar biasa. Kadang-kadang ia calm, tegas dan lembut. Dia paham alur pikir dan psikologi umat di Indonesia ini.

BACA JUGA:  Romo Dr. Rofinus Neto Wuli, Tokoh Kristiani 2020 Versi Majalah Narwastu

Waktu itu saya masih muda, baru umur 30-an, masih berkobar-kobar. Saya masuk Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP) angkatan pertama. Kami 48 orang, waktu itu dan masih di Delta Building. SEP ini kadernya awam, pembicaranya awam dan sesekali klerus. Ini menunjukkan betapa ia sangat percaya dan menghargai potensi awam. Di situ semangat saya terbakar.

Pada awal kemunculan Karismatik, tantangannya luar biasa, tapi Romo Sugiri dengan tenang menghadapi. Namanya Pembaruan Karismatik Katolik, banyak sekali yang menentang. Dia ada di dalam sebagai pemimpin yang menghadapi tantangan, dan dia sangat teguh. Kalau dia mundur dan tidak merani melawan arus, tentu tidak ada SEP dan KEP yang saat ini sudah ada dan melayani di paroki-paroki dan Keuskupan-keuskupan. KWI pun mengakui bagaimana gereja Katolik Indonesia bangkit oleh karena kerjasama berbagai pihak, termasuk gerakan  Karismatik yang Romo Sugiri pelopori. Terima kasih Romo Sugiri, beristirahatlah dalam Damai.

Yvonne Taroreh, pewarta senior

Secara khusus saya sangat terkesan dengan pribadi Romo Sugiri yang mengader saya untuk mewartakan Firman Tuhan. Sebelumnya saya tidak pernah mengira akan menjadi pambawa Firman. Mengapa? Karena saya tidak berani dan tidak biasa berbicara di depan umum.

Tapi Romo memaksa saya dan katakan, “Kamu harus coba!” Ketika selesai membawa Firman di kelompok kecil saya katakan, “Ini yang pertama dan terakhir.” Saya tidak mau lagi karena saya stress. Romo Sugiri malah salami saya dan katakan, “Kamu punya bakat.” Saya katakan, “Saya saya nggak mau lagi, Romo. Saya takut.” Itulah awal pelayanan saya. Saya bersyukur melalui bimbingan Romo Sugiri, saya dimampukan untuk melangkah dan kemudian saya bisa menjadi pewarta.  Terima kasih, Romo. Selamat jalan ke rumah Bapa (tD/EDL)

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here