Pater Hermann Yosef May, CSsR, Doktor Summa Cum Laude, Murid Paus Benediktus XVI (5)

820
Kembar Pater Karl-Heinz May, CSsR dan Pater Hermann Yosef May, CSsR (alm). Dokumen foto Pesta Emas Imamat (2014) di Jerman.
Keempat “May Bersaudara”, tiga jadi imam. Foto direpro oleh Pater Jack Umbu Warata, CSsR.

Ketika berangkat ke ladang misi di Sumba pada Oktober 1976, Pater Herman Yosef May, CSsR (alm) telah mengantongi gelar Professor Doktor bidang Teologi Dogmatis dari Universitas Regensburg, Jerman. Dalam bidang keilmuan, pencapaiannya paripurna. Bahkan, gelar doktoralnya ia raih dengan nilai sempurna, mengantongi predikat Summa Cum Laude. Predikat ini di atas Magna Cum Laude. Di bawah magna adalah Cum Laude.

Tidak main-main, dosen penguji doktoralnya adalah Dr. Joseph Aloisius Ratzinger sebelum diangkat menjadi Kardinal. Ratzinger ini kemudian terpilih sebagai Paus dan dikenal dengan nama Paus Benediktus XVI.

Sedikit ceritera tentang Paus Benediktus, pada tanggal 25 November 1981, Paus Yohanes Paulus II menunjuknya menjadi Prefek Kongregasi untuk Ajaran Iman, Komisi Kitab Suci dan Komisi Teologi Internasional Kepausan.

Pada tanggal 6 November 1998, Kardinal Ratzinger dipilih sebagai Subdekan Dewan Kardinal, dan pada tanggal 30 November 2002 Paus Yohanes Paulus II mengesahkan pemilihannya sebagai Dekan Dewan Kardinal oleh para Kardinal. Sebagai Presiden Komisi bagi Persiapan Katekismus Gereja Katolik yang baru, Ratzinger bekerja selama enam tahun (1986-1996) sebelum akhirnya mempersembahkan Katekismus baru kepada Paus.

Kardinal Ratzinger termasuk salah seorang yang paling berpengaruh dan dihormati di Vatikan. Ia merupakan tangan kanan serta rekan terdekat Paus Yohanes Paulus II. Ia pula yang memimpin pemakaman Sri Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 8 April 2005. Ia juga yang memimpin konklaf yang dimulai pada tanggal 18 April 2005 untuk memilih Paus yang baru. Dalam konklaf inilah ia terpilih menjadi Paus.

Pater Yoakim R. Ndelo, CSsR, Provinsial Redemptoris Indonesia. Foto: ist

Kembali kepada Pater Hermann, pencapaiannya mengundang decak kagum. Tidak heran Provinsial Redemptoris Indonesia, Pater Pater Yoakim R. Ndelo, CSsR menyebut Pater Hermann sebagai pribadi yang sangat pintar, tapi apa adanya. “Dia merupakan salah satu murid dari Ratzinger – Paus Benediktus XVI sebelum beliau menjadi diangkat sebagai Kardinal. Ilmu dan kepintaran yang dimilikinya diabdikan untuk orang Sumba yang sederhana dan itu tidak mengurangi kualitas intelektual yang dimilikinya,” aku Pater Kimy, sapaan akrab imam asal Kodi, Sumba Barat Daya ini.

BACA JUGA:  Prof. Adrianus Meliala: Demi Senangkan Mama, Rela jadi Tukang Cuci Piring dan Supir Taksi

Tambah Pater Kimy, Pater Herman tidak pernah berhenti belajar dan membaca buku-buku ilmiah. Bahkan menurut pengakuan Pater Herman sendiri, setiap hari dia membaca Kitab Suci dalam bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Juga selalu mempunyai koleksi buku teologis terbaru dan sangat tekum memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. “Pater Herman itu mempunyai totalitas dalam berkarya dengan seluruh kemampuannya,” puji Kimy.

Menurut Kimy, semua yang Pater Hermann capai dan pengabdiannya di Sumba memberi refleksi bahwa Ilmu dan gelar akademis yang seorang imam atau religius pada umumnya, bukanlah alasan untuk pilih-pilih tempat berkarya. Di mana pun ditugaskan harus diterima dengan gembira hati dalam semangat melayani.

Kimy  pun mengingatkan kepada para imam muda, juga kepada para frater bahwa tahbisan atau kaul kekal bukan saatnya berhenti memperkaya diri dengan pengetahuan. “Teruslah membaca dan mendalami ilmu pengetahuan khususnya di bidang teologi. Pater Herman meninggalkan teladan yang selalu relevan bagi orang-orang muda,” pungkas imam yang juga gemar membaca dan belajar ini. (tD/EDL)

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Sy bangga krna pernah mkn semeja dgn beliau (P. Herman Mau) di rumah kolping katikoloku Sumba tengah. Bahagia bersama para Kudus di surga Pater

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here