Pater Hermann Yosef May, CSsR dan Cintanya bagi Orang Albino yang Selalu Hangat (3)

264
Pater Herman Yosef, CSsR bersama seorang albino. Foto: ist
Sebagian dari para penderita albino di Sumba. Foto: dokumen Pater Herman.

Entah jengkal mana lagi dari daratan Pulau Sumba yang Pater Herman belum kunjungi. Bersama para rekan Redemptoris dan awam, ia keluar masuk kampung dan desa selain untuk memberikan pelayanan rohani seperti Misa dan berbagai bentuk ibadat lain, ia juga menggunakan kesempatan untuk mengamati kehidupan,  perkembangan ekonomi dan pendidikan masyarakat, terutama mereka yang sangat miskin.

Para penderita albino yang tersebar secara sporadis di Sumba menarik perhatian dan kepeduliannya. Di matanya, para penderita albino ini, tidak atau kurang mendapat perhatian dari keluarga mereka. Banyak yang buta huruf, miskin dan terpinggirkan atau terasing dari keluarganya sendiri.

Sebagai informasi teknis, albinisme atau albino adalah kelainan yang ditandai dengan berkurangnya produksi melanin sepenuhnya atau sebagian. Ketika seseorang terkena penyakit albino, tubuhnya akan kesulitan menciptakan pigmen. Pigmen adalah bahan di dalam tubuh yang menghasilkan warna.

Awalnya, ia berusaha mengenal mereka secara perlahan karena Pater tidak ingin perasaan mereka terganggu kalau tiba-tiba berhadapan dengan orang asing. Setelah mengenal, ia acap kali mengunjungi dan membantu mereka dengan berbagai cara.

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2020/06/1177/pater-prof-dr-herman-yosef-may-cssr-profesor-untuk-orang-orang-miskin-itu-telah-tiada-1.php

Setelah sering mengunjungi dan mengenal sebagian dari penderita albino dari dekat, tahun 2010 Pater Herman mengajak Sesilia Pawolung salah satu stafnya di Pusat Pastoral (Puspas) Katikuloku, Sumba Tengah dan beberapa orang lain untuk berkeliling mendaftar semua penderita albino di seluruh daratan Sumba. Maka terselengaralah tourney dari Kodi, Yawila, Waikabubak, Tanarighu dan beberapa tempat lain. “Pater sangat menyayangi mereka. Tiap 3 bulan kami undang mereka ke Katikuloku dan Weetebula untuk diberi obat, pakaian, kacamata rayban dan lain-lain,” ujar Sesil.

Pater Jemput dan Antar

Mereka membutuhkan perlakukan sewajarnya. Foto: Pater Herman Yosef May, CSsR.

Jangan bayangkan bahwa mereka akan dengan mudah datang sendiri memenuhi undangan Pater. Mereka menghadapi banyak kendala antara lain tidak memiliki uang untuk naik kendaraan umum di samping rasa minder dan berbagai alasan lain. Sebagian, khususnya yang jauh seperti di sekitar Yawila Pater Herman jemput sendiri antar dengan mobilnya. Sedangkan yang lain, di bawah kordinasi para guru agama dikumpulkan di suatu tempat dan dijemput juga. Biasanya, dikumpulkan pada hari Jumat, lalu diantar pulang pada Sabtu siang atau sore.

Sejumlah penderita albino Pater bantu untuk sekolah dan kuliah. Ada dari antara mereka yang kuliah di Sekolah Teologi Kristen. “Pater tidak pandang mereka Katolik, Protestan atau Marapu. Pater bantu semua. Pater sayang mereka semua,” ujar wanita yang biasa disapa mama Tasya  ini. “Pater prihatin karena mereka kurang diperhatikan oleh keluarga dan masyarakat. Bahkan ada yang tidak sekolah padahal sudah umur SMP,” tambah mama Tasya.

Menurut Pater Pladius Pole, CSsR yang pernah bersama Pater Herman dalam misi tersebut, jumlah albino lebih dari 200 orang. Dan mereka ini Pater Hermann kenal secara pribadi dan sudah mengunjungi rumah mereka. Mereka sangat gembira mendapat kunjungan dari Pater Herman. Dengan kunjungan itu, mereka seperti mendapat energi baru untuk menjalani kehidupan yang tidak mudah. “Pater Herman bercerita bahwa beliau dengan mobilnya sudah keliling seluruh Pulau Sumba antara lain untuk kunjungi orang albino,” ujar iman muda yang dipanggil Pater Pole ini.

Selain kebutuhan makan minum, jelas Pater Pole, kebutuhan utama mereka yang lain adalah adalah baju lengan panjang atau celana panjang yang dipakai untuk segala macam aktifitas seperti berkebun, ke gereja, dan lain-lain. Yang juga sangat penting adalah topi untuk menjaga mata, wajah dan leher mereka dari kontak langsung rayban atau kaca mata hitam untuk melindungi mata mereka dari sinar matahari. “Dan Pater Herman bersama tim selalu berusaha atau berjuang menyediakan obat-obatan khusus, kaca mata, pakaian dan topi untuk mereka,” jelas Pater Pole.

Pater Herman mengunjungi rumah para albino. Foto: Pater Hermann.

Ketika ditanya, apakah ada program khusus dari Pemerintah untuk para albino, Pater Pole menduga belum ada program khusus dan mendetail dari Pemerintah untuk mereka. “Tapi kelihatannya pemerintah sangat mendukung, setidaknya dengan memberi kesempatan secara leluasa kepada Pater Herman untuk melakukan sosialisasi atau memberikan berbagai informasi  kepada mereka. Otak para albino biasanya berfungsi baik. Tidak ada masalah. Mereka jangan hanya jadi penjaga hewan atau buruh proyek jalan raya. Mestinya semua pekerjaan di bawah langit terbuka untuk mereka asal diberdayakan,” tambah Pater Pole lagi.

Memiliki Keahlian dan Semangat

Dengan segala keterbatasan yang ada, mereka tetap berjuang untuk hidup seperti masyarakat lainnya. Salah satunya adalah Ama Bulu yang berkat bantuan Pater Herman membuka bengkel di Jl. Lintas Weetebula-Waikabubak. Dengan letaknya yang strategis, bengkel miliknya laris dan memproduksi aneka meubel. “Banyak orang albino yang bekerja dengan terampil. Atas perhatian dan bantuan Pater Herman, banyak yang punya penghasilan tetap. Pater juga menjadi pelanggan produk mereka seperti bingkai-bingkai karya Ama Bulu,” jelas Pater Pole.

Dari pengamatan Pater Pole, mereka cukup kreatif dan memiliki daya juang tinggi. Berkat dukungan untuk bersekolah dan biaya, cukup banyak anak-anak albino yang tinggal di asrama. Tidak jarang mereka menjadi juara kelas. “Pater Herman berencana lebih memberdayakan mereka lagi bukan dengan kursus. Mereka yang sudah  punya keterampilan sebagai tukang misalnya, dibantu dengan peralatan lengkap. Jadi mereka bisa berkreasi dengan peralatan yang diberikan. Pater Hermann sangat mengimpikan kaum albino ini berprestasi dan mendapat perlakuan yang sewajarnya,” pugkas Pater Pole.

Ke depan, tongkat estafet pelayanan kepada kaum albino ini akan dilanjutkan oleh Pater Marcelinus Lelu Lede, CSsR. Pater Marcel berencana, setelah situasi sudah lebih aman dari korona akan memberikan pelatihan menenun dan keterampilan mengolah sumber pangan lokal agar memiliki nilai ekonomi yang tinggi. “Mohon dukungan agar ini bisa jalan dengan baik,” pinta imam muda asal Paroki Gerardus Mayela, Kalembuweri, salah satu paroki di Sumba. (tD/EDL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here