Pater Prof. Dr. Herman Yosef May, CSsR, Profesor untuk Orang-orang Miskin itu Telah Tiada (1)

1248
Pater Prof. Dr. Herman Yosef May, CSsR, sangat mencintai Sumba. Foto: dokumen Redemptoris.
Pater Herman May, CSsR di tengah masyarakat Sumba, NTT. foto: dokumen Redemptoris.

Nadia dan Chealsea tidak bisa menyembunyikan kesedihan mendengar Pater Herman Josef May, CSsR meninggal pada  7 Juni 2020 di Biara Redemptoris Köln-Ehrenfeld -Jerman. Dia melayani di Sumba, NTT selama 42 tahun.

Sosok pastor yang sangat kebapakan, ramah, pandai bercerita dan murah hati tidak bisa hilang dari pelupuk mata mereka. “Pater baik sekali. Mengasihi orang benar-benar dari hati. Pater selalu punya rasa iba jika melihat orang cacat  dan orang miskin. Setiap kali Pater mau memberi sesuatu, pasti dengan senyum dan berkata, ‘pakai sebisanya saja’,”ungkap Nadia kepada tempusdei.id mengenang.

Lanjut Virginia Elisabeth Ana Gewa, nama lengkap Nadia, “Pater suka bercerita  tentang keluarganya di Jerman, tentang bapaknya yang seorang masinis  kereta api tertua.  Pater juga selalu suruh saya nyanyi karena kata Pater suara saya bagus dan supaya selalu gembira.”

Nadia, selalu terkenang Pater Herman. Foto: dokumen Rini Bato.

Hal lain yang Nadia tidak bisa lupa adalah hadiah baju komuni pertama yang ia terima bersama Chealsea  dan bantuan uang Rp.500 ribu/ bulan dari sponsor melalui Pater Herman. “Pater tidak sempat pamit waktu pulang ke Jerman jadi sedih sekali, sangat sedih apalagi Pater pulang dalam keadaan sakit. Terima kasih untuk semua kebaikan dan perhatian Pater. Pater pasti masuk surga,” ujar Nadia yakin.

Nadia juga sering menemani Pater saat berkunjung ke panti asuhan anak, keluarga-keluarga  miskin dan orang-orang albino yang memang  Pater Herman perhatikan secara khusus. Jumlah mereka hampir 300 orang di Sumba.

 

BACA JUGA: https://www.tempusdei.id/2020/06/1183/pater-prof-dr-hermann-yosef-may-cssr-satu-dari-trio-may-yang-mencintai-sumba-habis-habisan-2.php

Pater kelahiran Trier, Jerman, 21 Maret 1938 itu meninggal pada usia 82 tahun. Karena usianya yang sudah lanjut, dia sudah mulai pikun ketika masih di Sumba. Namun kata Pater Marianus Dapa Talu, CSsR, Pater Herman mmang sering lupa dengan nama konfraternya, tapi tidak dengan teologi dan ayat-ayat Kitab Suci. “Pengetahuannya tentang Teologi dan Kitab Suci luas dan mendalam serta selalu update. Dia memang banyak lupa nama-nama konfraternya tapi tidak dengan Kitab Suci,” kenang Magister di Novisiat CSsR Wanno Gaspar, Sumba ini.

BACA JUGA:  Luar Biasa! Pada Mata Uang Amerika Serikat Ada Tanda Tangan "Anak Haram" Ini

Pater Yanus juga menyebut, Pater Herman bahagia hidup dan berada di tengah-tengah orang miskin di Sumba. Tidak mengherankan bahwa sebagian besar hidupnya untuk karya pelayanan bagi orang miskin. Pater Herman kata imam yang piawai bermain sepak bola ini, adalah profesor bagi orang-orang kecil.

Komentarnya tentang hal-hal tertentu juga kadang mengejutkan. Suatu hari ketika konfraternya memberi tahu bahwa Pater Moses Beding, CSsR (alm) sakit dan masuk rumah sakit, dia berkata, “Tidak apa-apa karena bagi Pater Moses kematian itu indah,” sambil mengutip salah satu buku terjemahan Pater Moses tentang kematian.

Dekat dengan Anak-anak

Di mata Herman Dappa,  Pater Herman adalah  sosok yang sangat dekat dengan dunia anak- anak. Baginya, anak-anak adalah kelompok yang tidak boleh diabaikan.  Karenanya, penulis buku Panduan Membaca Khotbah di Bukit itu  memberikan perhatian besar kepada dunia anak-anak. Ia membentuk suatu tim yang dikenal dengan nama Tim Temu Minggu di Pusat Pastoral dan Sosial (PusPas) Katiku Loku. Tim ini kata Herman,  sangat produktif. Di bawah pimpinan Sr. Klemensia Kelen, ADM  dan Ibu Magdalena Wala, Ibu Angela Ina Kii pada tahun 2000-an banyak menghasilkan materi pembinaan dan permainan untuk anak-anak.

Selain itu, Pater Herman juga sangat peduli dengan kaderisasi awam Katolik. Setiap triwulan selalu diselenggarakan kursus-kursus bagi para Pembina Umat dan Guru Agama (PUGA) dengan berbagai materi yang ringan dan bernas bersama tim PUGA Puspas antara lain John Bili, Paulus Bauju, Blasius Ndadjang dan Herman Dappa.

Semua kegiatan ini dimaksud untuk membentuk kaum awam potensial agar memiliki keterampilan memimpin ibadat pada Hari Minggu dan Ibadat lainnya. Untuk itu mereka dibekali dengan berbagai pengetahuan tentang Kitab Suci, ajaran Iman Katolik dan tentu saja cara memimpin ibadat yang menarik dan khidmat. (EDL)

BACA JUGA:  Romo L. Sugiri dan Lukisan Punakawan untuk Romo Sindhunata SJ

 

Facebook Comments

1 KOMENTAR

  1. Selamat jalan kawan 🙏🏻 semoga kebaikan amal baik kepada kami saudaramu di dunia titipan Tuhan, Tuhan Yesus memberkati kita semua 🙏🏻

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here