Makna Paskah Hari Ini, dan Mau Apa ke Depan? (2)

508
Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo (Foto: kompas.com)

Pandemik covid-19 menjadi tantangan dunia yang nyata saat ini. Ia merobohkan berbagai kemapanan yang selama ini seakan telah menjadi kemutlakan.

Pademik yang sama juga banyak mencairkan hati yang beku. Gengsi dan kesombongan lumer. Naluri kemanusiaan untuk membantu sesama tampak di mana-mana. Ada bergerilya mendatangi para ojoek online untuk sekadar berbagi dengan mereka.

Kardinal Suharyo dalam khotbahnya pada Misa Paskah 12/4 di Katedral Jakarta mengatakan, “Kita bersyukur karena di tengah-tengah pandemi wabah virus Corona 19 ini, kita menyaksikan kerelaan berkorban, solidaritas yang dahsyat dalam berbagai macam bentuknya. Dalam bahasa iman, tumbuhnya kerelaan berkorban, tumbuhnya solidaritas adalah Paskah yang nyata”.

Dia pun berharap agar semua yang baik, tidak berhenti ketika nanti wabah ini lewat. “Tetapi kita juga masih berharap, bahkan dituntut untuk merayakan Paskah yang lain, yakni Paskah Ekologis. Ketika kita dibebaskan dari dosa ekologi, kolektif maupun pribadi, dibebaskan dari sikap tidak peduli terhadap alam, atau bahkan nafsu merusak alam dan dianugerahkan kepada kita kekuatan untuk terus mewujudkan Paskah Ekologis itu,” ungkapnya dengan suara lembut.

Lantas, bagaimana kita memaknai Paskah tahun ini dalam terang iman?

Tempusdei.id secara acak meminta tanggapan sejumlah pihak. Berikut kata mereka:

Yustinus Prastowo, intelektual dan ahli perpajakan

Kata sejarawan ekonomi Joel Mokyr, revolusi industri di Inggris juga hasil dari relasi kuasa 3 pilar: negara-pasar-masyarakat sipil. Tiap usai revolusi (ekonomi, teknologi, pandemi), akan lahir model kelembagaan baru. Saya rasa dengan menguatnya praksis filantropi, donasi, gotong royong selama pandemi ini, akan melahirkan model relasi kuasa yang baru.

Masyarakat sipil akan kembali menguat, korporasi semakin tertanam dalam  urusan publik, dan negara musti patuh pada daulat rakyat. Kalau kita baca ini sebagai peluang, ada harapan besar dunia baru pasca pandemi yang lebih ideal. Tergantung kita, apakah sadar dan mau memanfaatkan momentum atau tidak.

Salah satu yang penting saat ini: jaga ketenangan. Pemerintah jangan terlihat panik dan kalap. Tapi berikan pesan semua sudah dipikirkan dan bisa dikendalikan. Di sisi lain, solidaritas publik musti dikapitalisasi menjadi modal sosial baru dan akan menjadi alat tawar menawar kekuasaan yang efektif (baca: kontrol etis). Pasca pandemi kita akan masuk dunia baru dengan semangat, cara hidup dan pendekatan baru.

BACA JUGA:  Paus Fransiskus Kirim Rosario kepada Pembunuh Pastor Roberto Malgesini

YG.R. Setio Lelono, aktivis lintas agama, tinggal di Bekasi

Di tengah pandemik covid-19, kita melihat diri kita kecil sekali dan Allah sangat besar. Dan pasti, semangat Paskah akan mengingatkan ketidakberdayaan kita jika tanpa Tuhan.  Kita yakin, Allah itu Mahabesar dan penuh kasih.

Jumat Agung yang menegangkan dalam jalan penyelamatan telah lewat. Paskah Tuhan telah datang dan semangatnya akan tinggal bersama kita. Semoga iman kita semakin bertumbuh melalui karya pelayanan kita. Saya kira, Allah yang Pengasih dan Penyayang mempunyai rencana indah di balik wabah covid-19.

Mari tetap semangat dan bersama menumbuhkan persatuan dan kesatuan serta kerukunan. Selamat Paskah. Semoga Wafat dan KebangkitanNya memberikan harapan, kekuatan serta semangat untuk memperbarui diri dan membuat kita berhikmat untuk hidup yang lebih baik dan bermartabat.

Irwan Hidayat, pemilik perusahaan jamu Sidomuncul

Paskah adalah kisah kasih. Ini Kasih yang tidak batasnya dari Tuhan yang kita rayakan dan syukuri dalam Paskah. Paskah kali ini datang di saat kita dalam krisis. Ini seakan mengajak kita berbuat sesuatu. Dalam masa krisis seperti ini, kita harus terpanggil untuk saling menopang agar tak satu pun yang jatuh dan tak bisa bangun. Jika demikian, kita akan lolos dari pandemik ini.

Eka Budianta, intelektual dan sastrawan

Bangkit bisa berarti hidup lebih sederhana, lebih adil, lebih peka terhadap kaum tertindas. Kita sering lupa, hal yang biasa bagi kita – misalnya makan siang di restoran mewah, atau menginap di hotel bintang 5 seminggu lebih mahal dari biaya hidup orang lain seumur hidupnya. Bangkit berarti tidak melupakan lingkungan yang mendukung kita.

Intinya, Covid-19 mengubah manusia dari makhluk sosiofisikal menjadi sosiospiritual. Secara ekstrim bisa disebut homosapien menjadi homodeus dari insanbadaniah menjadi insanrohaniah.

Benyamin Mali, dosen Atma Jaya Jakarta

Rasanya Paskah 2020 ini unik sekali. Seluruh rangkaian perayaan Ekaristi Tri Hari Suci, kita ikuti melalui siaran televise atau live streaming. Untung sekali ada teknologi yang sangat membantu ini.

Yang dapat kita petik dari pengalaman ini ialah bahwa ajaran tentang “Tuhan yang hadir di mana-mana dalam keutuhan ke-Allah-anNya”, sungguh kita alami secara konkret, dan iman kita tidak runtuh hanya karena suatu “tradisi berkumpul secara berjemaah untuk memuji dan meluhurkan Tuhan” tidak terlaksana sebagaimana biasanya.

BACA JUGA:  Sadis! Mereka Tembak 2 Petugas Medis Covid-19

Iman kita malah semakin diwarnai dengan suatu kerinduan yang nyata dan mendalam akan kehadiran Allah Tuhan kita.

Hal lain yang menjadi nyata, kita mulai sadari kembali makna “Gereja Keluarga—Ecclesia Domestica”. Selama ini kita abaikan makna dan manfaat Ecclesia Domestica ini. Jarang kita sebagai satu keluarga  menyatu dalam Ibadat Keluarga, yang diisi dengan bacaan Kitab Suci dan renungan sederhana keluarga, dan doa-doa.

Paskah 2020 sejenak mengingatkan kita arti pentingnya membangun Gereja Keluarga ini karena keluargalah basis sesungguhnya dari suatu iman yang kokoh kuat.

Vivie Jericho, seorang profesional, tinggal di Bandung

Makna Paskah untuk saya syukurdan keuntungan diselamatkan, dipilih dan ditebus oleh Tuhan Yesus. Siapa kita ini sampai dilayakkan?

Kalau dalam hidup sehari-hari, sebagai seorang Ibu dan wanita yang bekerja, saya selalu bekerja dengan sukacita full heart, tidak hanya untuk dua anak saya, tapi juga untuk anak-anak yang lain. Saat seperti corona time ini, kita harus saling empathy, saling support dan saling jaga. Sedapat mungkin, mari melakukan apa pun yang bisa kita lakukan dengan gembira dan semangat.

Loise Angelica, siswi SMAN 2 Babelan, Bekasi

Ke depan kita harus berusaha tidak melakukan dosa ekologis seperti yang dikatakan Bapa Uskup, dengan cara merawat lingkungan sekitar dan menanam beberapa tanaman serta merawatnya.  Kita jangan mementingkan kepentingan diri sendiri. Kita juga jangan serakah dengan lingkungan sekitar. Saya jadi ingat kata-kata Paus Fransiskus “membuang-buang makanan sama dengan merampas hak orang miskin”. kata-kata ini selalu diucapkan papa saya di rumah. Jadi saat ini saat banyak saudara kita yang susah dapat makanan, jangan buang-buang makanan. Selamat Paskah.

Paskalis Bataona, entrepreneur di Jakarta

Kebangkitan Kristus mesti memampukan kita menempatkan peristiwa Paskah sebagai warta kehidupan. Dia yang hidup dan memberikan kehidupan telah melampaui kubur dan kematian. Paskah menegaskan bahwa Yesus adalah pembawa warta kehidupan.

Ke depan, dengan Paskah manusia perlahan bangkit meninggalkan kuburan-kuburan yang selama ini membelenggu dirinya untuk bangkit. Kuburan-kuburan dapat berupa sikap egois,  sikap tamak, acuh kepada alam, sikap koruptif. Yang mau kita perjuangkan ke depan adalah kita mampu keluar dari kubur-kubur kita itu dan mulai memupuk sikap bela rasa.

BACA JUGA:  Presiden Jokowi: Selamat Hari Kenaikan Isa Almasih

Pater Willy Ng. Pala, CSsR, seorang pastor tinggal di Sumba, NTT

Ini Paskah luar biasa. Kemarin saya katakan ke konfrater, akhirnya kapel-kapel kita di biara merasakan gema Tri Hari Suci dari “anak-anaknya”. Biasanya semua imam pergi dan Misa bersama umat.

Saya lihat pada Paskah tahun ini, setiap keluarga mengalami rumahnya tidak lagi sebagai “papan hunian” semata. Rumah mereka sungguh menjadi Gereja tempat beribadat dan memaknai arti sebagai Gereja yang sesungguhnya. Altar dipersiapkan, waktu doa ditentukan (walaupun sesuai siaran ibadat online). Tapi tidak sedikit keluarga yang memimpin ibadat sendiri dalam keluarga nya. Wah ini tidak pernah terpikir baik oleh keluarga maupun oleh otoristas Gereja.

Situasi sulit saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk tidak peduli antar kita. Sebaliknya saya melihat justru di sinilah solidaritas kita harus semakin dikuatkan.  Setiap orang mesti siap sedia bagi yg lain secara nyata kini sini.

Romo Pachal Saturnus, pastor, aktivis anti trafficiking di Batam

Bangkit itu bergerak dari suatu keadaan sebelumnya dan menuju satu keadaan baru. Kubur itu kecemasan, ketakutan, kekuatiran, pergulatan iman dll. Yesus sendiri ada dalam kubur hidup kita, dalam kecemasan kita, dalam kesedihan, kekuatiran dan pergulatan iman kita. Dia masuk ke ruang kubur itu bahkan membenamkan diri untuk turut merasakan. Tapi dia juga yang hari ini mengajak kita bangkit.

Jalani saja hidup ini. Semua harus kita lewati dengan pengharapan Tuhan akan menyertai kita. Terpujilah Tuhan.

Emanuel Bria, intelektual

Paskah 2020 ini momentum yang unik. Biasanya semua orang Kristen merayakannya bersama di Gereja namun saat ini karena Covid-19 kita harus berdiam di rumah untuk rayakan Paskah. Banyak yang telah menjadi korban dari Covid-19, sakit dan bahkan meninggal dunia termasuk sahabat dan keluarga. Dampak yang lain adalah ekonomi keluarga-keluarga yang kena imbas. Ada yang harus kehilangan pekerjaan, pendapatan berkurang dll.

Inilah saat paling tepat bagi kita sebagai orang kristiani untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Paskah adalah pesan kasih tanpa batas Tuhan kepada manusia. Mari kita berbagi dari apa yang kita miliki untuk ringankan beban saudara-saudara kita yang lain.

 

All by tD

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here