Selamat Jalan, Pater Wilhelm Ernst Wagener, CSsR, Perginya Pastor Dermawan yang Murah Senyum

555
Pater Wagener saat merayakan Ekaristi. Foto Ubas
Umbu Bintang sedang menabur bunga. (foto oleh Pater Agus Malo Bulu, CSsR)

Umbu Bintang, mantan Bupati Sumba Tengah: tanpa orang ini, kami tidak mungkin jadi siapa-siapa

Tanpa diduga, Umbu Bintang, mantan Bupati Sumba Tengah, NTT hadir dalam pemakaman Pater Wilhelm Wagener, CSsR di Kompleks Biara Wanno Gaspar, KM 6, Waikabubak, Sumba Barat  pada 13 April 2020. Dia pun mendapat kesempatan menaburkan bunga di makam. Saat menabur bunga, para penabur bunga menaburkan bunga tanpa mengucapkan apa-apa.

Ketika tiba giliran Umbu Bintang, ia berkata, ”Tidak bisa tidak. Saya harus hadir dalam pemakaman ini. Untuk kami mahasiswa di Jogja dulu saat Pater Wagener bertugas di di sana, kami bukan apa-apa atau kami tidak akan jadi apa-apa, tanpa orang ini. Pater menolong siapa pun yang datang padanya. Ia tidak membeda-bedakan apakah Katolik atau Protestan atau siapa pun,” kenang Umbu Bintang dengan mata berkaca-kaca.

Umbu Bintang adalah salah satu dari sedikit pelayat yang menghadiri pemakaman Pater Wagener. Andai bukan karena hantu bernama corona, sangat pasti para pelayat tumpah ruah dari berbagai sudut pulau Sumba, bahkan dari berbagai tempat. Pater Wagener dikenal sebagai seorang pendoa, ramah, selalu tersenyum kepada siapa pun, penuh perhatian dan mudah diajak bicara.

Seperti pengakuan Umbu Bintang, Pater Wagener memang sangat dermawan dan peduli dengan keadaan keuangan para mahasiswa. Dia pun seringkali mengunjungi kos para mahasiswa untuk memberi semangat belajar dan mengingatkan tujuan utama mereka datang ke Yogyakarta. Yang selalu ia ingatkan agar belajar dengan baik, cepat lulus dan pulang ke Sumba untuk membangun kampung halaman. Ia bahkan menginisiasi pembentukan Panurma (Panitia Umusan Mahasiswa), semacam lembaga pemberi beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi atau setidaknya yang mau berusaha sungguh-sungguh dalam studi, namun lemah secara ekonomi.

BACA JUGA:  IN MEMORIAM Umbu Zasa: Menggerakkan "Semangat Satu Sumba" (2)

Duka bagi Sumba

Pater Wagener saat menerima ucapan selamat dari Provinsial CSsR Pater Yoakim R. Ndelo, CSsR (Foto oleh Ubas Adrianus)

Matahari hampir kembali ke peraduannya pada Minggu Paskah, 12 April 2020. Jarum jam menunjukkan pukul 17.50 WITA. Saat itulah imam berusia 87 itu mengembuskan nafas terakhir di Biara Santo Alfonsus Weetebula atau Konventu Redemptoris ditemani Sr. Mathilda, ADM dan seorang perawat.

Sekelebat kemudian, lonceng Katedral yang jaraknya hanya 100 meter dari Konventu berdentang panjang, pertanda ada seseorang yang meninggal. Hanya dalam hitungan detik, berita kepulangan imam kelahiran Essen-Steele, Jerman 26 Februari 1933 itu beredar luas. Sontak, umat Katolik dan masyarakat pulau Sumba berduka karena kehilangan seorang gembala yang amat mereka kenal dan cintai. Tangis pun pecah di mana-mana.

Walau sangat sedih dan kehilangan, umat dan masyarakat “rela” tidak melayat atau tidak melihat jenazahnya untuk terakhir kalinya karena harus menjalankan social distancing akibat pandemik corona. Mereka hanya mendaraskan doa dengan lilin bernyala bagi keselamatan jiwanya. Meski begitu ada juga yang tetap datang menghadiri Misa Requiem di Katedral dan menghadiri pemakamannya sambil berusaha menjaga jarak sambil mengenakan masker.

Saat merayakan sebuah Misa di Konventu CSsR (Foto oleh Ubas Adrianus)

Pater Wagener lahir pada tanggal 26 Februari 1933 di Essen-Steele. Setelah lulus dari sekolah menengah di Collegium Josephinum di Bonn, ia mengikrarkan kaul pertamanya pada 25 Maret 1954 dalam Kongregasi Redemptoris (CSsR).

Setelah menyelesaikan studinya di Sekolah Tinggi Filsafat-Teologis Redemptoris di Hennef, ia ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 31 Maret 1959 oleh Uskup Ferche. Pada tahun 1960, Pater Wagener dikirim ke Pulau Sumba sebagai misionaris oleh Kongregasi Redemptoris dari Cologne pada usia 27 tahun. Ia meninggaalkan negerinya Jerman pada Desember 1960 menggunakan kapal kargo Hapag – Lloyd – Gesellschaft menuju ke Jakarta. Ia dengan antusiasme yang tinggi berlayar berminggu-minggu menuju Sumba. Dia akhirnya tiba di Jakarta setelah 5 minggu berlayar.

BACA JUGA:  SETARA INSTITUTE, Bom Makassar: Protokol Penanganan Ekstremisme-Kekerasan Tidak Boleh Kendor

Pada 30 Maret 1961, ia sampai di Pulau Sumba. Dalam empat bulan pertama setelah kedatangannya, ia memiliki waktu dan kesempatan untuk mengenal budaya dan orang-orang di Sumba dan, terutama, untuk belajar bahasa Indonesia. Dia kemudian diangkat sebagai Pastor Paroki di Waingapu, ibukota Sumba Timur. Wilayah parokinya mencakup seluruh wilayah Kabupaten Sumba Timur.

Pada tahun 1969 daerah misi di dua pulau Sumba dan Sumbawa, dari Roma ditingkatkan menjadi Keuskupan. Pada tahun 1970 ia diangkat sebagai Administrator Apostolik pertama untuk Keuskupan Sumba-Sumbawa (1970-1975). Setelah lima tahun menjabat, dia menyerahkan keuskupan Sumba-Sumbawa kepada Administrator Apostolik Hendricus Haripranata SJ.

Sejak menginjakkan kaki di Sumba pada 30 Maret 1961, ia langsung mencebur diri secara total dalam pelayanan kepada masyarakat Sumba walau dengan fasilitas yang amat terbatas dan wilayah pelayanan yang sangat luas.

Saat itu ia tinggal di pastoran beratap ilalang dan berdinding pelepah lontar. “Hanyalah tikus-tikus teman saya,” katanya pada suatu saat.

 Perintis Ekumene

Saat mengunjungi umatnya yang sederhana. (Foto dokumen CSsR)

Pada awal kedatangannya, ia merasa sangat tidak nyaman bukan karena beratnya medan pelayanan, tapi karena melihat hubungan antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen Sumba (GKS) berbilang jelek. Para pimpinan dan umat kedua gereja tersebut memendam rasa saling curiga.

Dikatakannya dalam buku Melintasi Zaman, Mengalirkan Kehidupan (editor: Emanuel Dapa Loka), ketika tiba pada tahun 1961 di Waingapu, dia merasa sangat terganggu, susah dan cemas melihat hubungan antara kedua gereja tersebut yang sangat tegang, lebih-lebih di bidang persekolahan. “Melalui pendekatan-pendekatan pribadi dengan pendeta-pendeta di Waingapu, hubungan yang bagaikan es membeku itu, lama-lama cair. Hubungan yang kaku dan dingin menjadi hubungan persaudaraan kristiani yang hangat dan akrab,” ujarnya. Ia kemudian dikenal sebagai perintis ekumene.

BACA JUGA:  Posko Gotong Royong Ikatan Keluarga Sumba di Jakarta Terus Salurkan Bantuan

Pater Wagener sangat mencintai Gereja di Sumba. Ia bahkan sejak lama menyatakan keinginan untuk menyelesaikan pelayanannya di Sumba. Ia ingin meninggal dan dikuburkan di Sumba. “Saya mau mati secara sempurna di Sumba, dan tidak berpikir untuk pulang ke Jerman,” begitu katanya kepada Uskup Edmund Woga, CSsR pada suatu kesempatan.

Pater Wagener bersama Uskup Weetebula Mgr. Edmund Woga, CSsR dan Provinsial CSsR Pater Yoakim R. Ndelo, CSsR. Foto Ubas Adrianus

Kini Pater Wagener telah tiada, namun dia telah meninggalkan keteladanan yang bernilai tinggi berupa rasa cinta pada sesama dan masa depan orang muda, gereja dan bangsa. Dia juga sangat peduli dalam mendampingi para calon imam atau frater.

Dia telah meninggalkan segalanya di Jerman bagi umat Allah di Sumba. Dan kini ia sudah kembali kepada Penciptanya dan menyatu dengan tanah Sumba yang ia cintai.

Selamat jalan, Pater. Sampai jumpa di Tanah Air Surgawi tempat Pater kini menikmati kebahagiaan bersama Bapa di Surga beserta para Kudus. Tanpa rasa sakit lagi. Ginjal dan seluruh organ tubuh sudah baru sama sekali. Requiescat in Pace.

EMANUEL DAPA LOKA

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here