Fri. Mar 27th, 2026

Simon Kirene, dan Ketika Salib itu Bukan Milik Kita

Simon dari Kirene membantu Yesus memikul Salib-Nya. (ilustrasi)

Oleh Budiyanto Delima, Seorang profesional

Dalam perjalanan menuju Golgota, para tentara Romawi memaksa seseorang untuk membantu memikul salib Yesus Kristus. Orang itu bernama Simon dari Kirene, yang kerapkali dipanggil dengan Simon Kirene.

Simon Kirene bukan murid Yesus. Ia tidak mengikuti Yesus. Ia juga tidak sedang mencari Yesus. Ia sama sekali tidak ada rencana dalam ”drama” penyaliban itu. Ia hanya kebetulan lewat, namun tiba-tiba ia dipaksa untuk memikul salib Yesus.

Kisah Simon Kirene mengajarkan sesuatu yang penting dalam iman Katolik.

Secara logika, bagi Simon maupun bagi kita, peristiwa tersebut terasa seperti pengalaman yang kurang beruntung. Lagi apes! Hari yang biasa berubah mejadi hari yang berat.

Namun dalam rencana Allah, peristiwa tersebut ternyata sebuah anugerah yang tidak semua orang dapatkan. Simon Kirene menjadi satu-satunya orang dalam Injil yang secara fisik berjalan bersama Yesus memanggul salib-Nya.

Tradisi Gereja percaya bahwa perjumpaan itu mengubah hidupnya. Dalam injil disebutkan anak-anaknya (Markus 15:21): Aleksander dan Rufus, dikenal dalam komunitas Kristiani awal.

Artinya satu momen yang tampaknya kurang beruntung, justru menjadi pintu rahmat bagi keluarganya.

Perjumpaan Simon Kirene dengan Yesus dalam waktu yang cukup singkat namun merubah ia seumur hidup, sampai keluarganya (anak-anaknya) menjadi bagian penting dalam Gereja (Roma 16:13).

Pengalaman Simon Kirene menjadi cermin bagi kita:

  • Pernahkan kita mengalami situasi seperti Simon: tiba-tiba harus memikul beban yang tidak kita rencanakan?
  • Pernahkah kita merasa hidup “menunjuk” kita untuk menanggung sesuatu yang tidak kita pilih?
  • Pernahkah kita mengalami situasi yang terkesan tidak adil dalam hidup kita? – Bagaimana reaksi kita: mengeluh, menolak atau menerimanya?

Seringkali kita berkata: “Tuhan, kenapa aku?”

Kadang Tuhan hadir bukan dalam hal-hal besar, tetapi dalam salib kehidupan sehari-hari.

Salib itu bisa berupa:

  • Tanggung jawab keluarga
  • Pekerjaan yang berat
  • Merawat orang sakit
  • Mengampuni orang yang menyakiti kita
  • Tetap jujur ketika semua orang memilih ‘jalan mudah’ – Menjadi pendegar bagi orang yang sedang hancur.
  • Membantu orang lain walau sendiri sedang lelah.
  • “Luka” dalam pelayanan.

Ketika kita memikul beban itu dengan kasih, sebenarnya kita sedang berjalan bersama Kristus.

Simon mungkin merasa dipaksa. Namun tanpa ia sadari, ia mendapat rahmat besar: ia berjalan bersama Yesus.

Sebagai umat Katolik, kita dipanggil bukan hanya menghormati salib, tetapi juga berani memikulnya bersama Kristus. Artinya:

  • Tidak lari dari tanggung jawab.
  • Tidak menutup mata terhadap penderitaan orang lain.
  • Bersedia membantu walau tidak nyaman.
  • Setia dalam hal kecil sehari-hari.
  • Berusaha memahami sesama yang tidak sejalan.

Setiap kali kita membantu memikul “salib” orang lain, kita sebenarnya sedang melakukan apa yang dilakukan Simon Kirene.

Refleksi:

Mungkin hari ini ada salib yang terasa berat dalam hidup kita.

Namun kisah Simon Kirene mengingatkan kita: salib yang kita pikul tidak selalu tanda kesalahan.

Kadang itu adalah cara Tuhan mengajak kita berjalan lebih dekat dengan-Nya.

Karena di jalan salib itulah kita belajar mencintai seperti Kristus.

Dan di ujung salib selalu ada kebangkitan.

Related Post