
Roda bisnis selalu bergerak. Ada masa ketika perusahaan melesat tinggi, ada pula saat harus menata ulang langkah di tengah tantangan.
Bagi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, tahun 2026 menjadi momentum untuk melakukan penyesuaian sekaligus memperkuat fondasi masa depan.
Pada triwulan I 2026, perusahaan jamu terbesar di Indonesia ini dilaporkan mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 19 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan turun dari Rp 789,1 miliar menjadi Rp 640,5 miliar.
Namun, bagi Direktur Utama Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat, angka tersebut bukan cerminan melemahnya permintaan pasar. Penurunan justru terjadi karena strategi perusahaan melakukan penyesuaian stok atau inventory adjustment di tingkat distributor.
“Kami memang membatasi penjualan ke distributor agar stok kembali normal. Jadi bukan karena konsumen berhenti membeli,” ujar Irwan dalam konferensi pers di Jakarta.
Langkah itu diambil setelah terjadi penumpukan barang di jaringan distribusi pada akhir 2025. Saat itu banyak distributor membeli produk dalam jumlah besar dengan harga lama sebelum kenaikan harga berlaku. Sistem penjualan berjenjang yang memberi insentif pembelian dalam volume besar turut mendorong akumulasi stok.
Akibatnya, sebagian distributor menjual produk di bawah harga pasar resmi demi menghabiskan persediaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi merusak struktur harga dan menciptakan inefisiensi distribusi.
Meski laporan keuangan menurun, denyut pasar ritel justru tetap kuat. Di sejumlah wilayah seperti Jawa dan Sumatera, permintaan bahkan meningkat. Data penjualan dari distributor ke toko menunjukkan konsumsi masyarakat terhadap produk herbal Sido Muncul masih stabil.
Di tengah dinamika itu, kekuatan merek menjadi penopang utama perusahaan. Produk andalan Tolak Angin tetap mendominasi pasar obat herbal masuk angin dengan penguasaan pangsa pasar mencapai 72 persen berdasarkan data Nielsen.
Dominasi serupa juga terlihat pada lini produk lainnya. Kuku Bima menguasai 51 persen pasar minuman energi, sementara produk seperti Esemag, Tolak Linu, hingga berbagai jamu herbal lainnya tetap menjadi pemimpin di kategorinya masing-masing.
Posisi tersebut memberi ruang optimisme bagi manajemen untuk menghadapi 2026. Bagi Irwan, kekuatan merek yang telah dibangun selama puluhan tahun menjadi modal penting untuk menjaga profitabilitas perusahaan.
Tahun ini juga menjadi periode istimewa bagi Sido Muncul. Pada November 2026, perusahaan akan memasuki usia ke-75 tahun. Momentum itu dimanfaatkan untuk mempercepat transformasi dan pertumbuhan jangka panjang melalui enam strategi besar.

Salah satunya adalah peluncuran portal SidoHerbalPedia, sebuah platform edukasi mengenai pengobatan berbasis herbal dan jamu ilmiah. Portal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manfaat herbal Indonesia sekaligus memperkuat penjualan produk suplemen herbal.
Tidak berhenti di hilir, perusahaan juga mulai memperkuat riset dari sisi hulu dengan meningkatkan kualitas tanaman rempah sebagai bahan baku utama. Selain itu, riset tanaman obat untuk penyakit seperti kanker, diabetes melitus, dan peningkatan imunitas juga terus dikembangkan.
Langkah lain yang disiapkan adalah memperluas pasar ekspor. Setelah selama ini produk Sido Muncul banyak beredar di toko-toko komunitas Indonesia di luar negeri, perusahaan kini menargetkan masuk ke pasar mainstream di Arab Saudi dan China.
“Kami ingin produk bisa masuk ke pasar utama di Arab Saudi, dan kalau memungkinkan juga di China,” kata Irwan.
Ekspansi tersebut diharapkan menjadi sumber pertumbuhan baru di tengah semakin meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap produk herbal alami.
Di sisi lain, perusahaan tetap mewaspadai tantangan eksternal. Gejolak geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar mendorong kenaikan harga bahan baku kemasan plastik. Meski demikian, dampaknya dinilai masih terbatas karena sekitar 90 persen bahan baku Sido Muncul berasal dari dalam negeri.
“Kami bukan industri yang sepenuhnya bergantung impor. Jadi dampak kurs relatif kecil,” ujarnya.
Bagi Sido Muncul, tantangan tahun ini bukan sekadar soal angka penjualan. Perusahaan tengah menjaga keseimbangan antara efisiensi distribusi, penguatan riset, inovasi produk, dan ekspansi pasar.
Di usia yang hampir mencapai tiga perempat abad, Sido Muncul tampaknya ingin menunjukkan bahwa ketahanan bisnis tidak hanya ditentukan oleh tingginya penjualan sesaat, tetapi juga kemampuan beradaptasi ketika roda sedang berputar ke bawah.
Dan selama Tolak Angin masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, optimisme itu tampaknya belum akan pudar. (tD)

