
Yang berasal dari tanah akan kembali kepada tanah. Dan hari ini, perjalanan panjang Umbu Djima di atas tanah Sumba yang dicintainya telah sampai pada garis akhir. Ia kembali ke rumah Bapa di Surga, meninggalkan jejak pengabdian yang tak akan mudah terhapus oleh waktu. Selamat pulang, Umbu Djima.
Boleh jadi, nama Umbu Djima tidak lagi begitu akrab di telinga generasi muda hari ini. Banyak anak muda di Nusa Tenggara Timur mungkin lebih mengenal tokoh-tokoh politik masa kini dibanding para pemimpin yang bekerja puluhan tahun silam.
Itu wajar. Setiap generasi memiliki ruang ingatannya sendiri, memiliki tokoh zamannya sendiri. Namun sejarah tidak pernah dibangun hanya oleh mereka yang sedang populer hari ini. Ada orang-orang yang bekerja dalam sunyi, memikul beban pada masanya, lalu perlahan dilupakan ketika zaman berganti. Umbu Djima adalah salah satunya.
Ia bukan tokoh yang lahir dari sorotan media sosial. Ia bukan pemimpin yang dibentuk oleh pencitraan digital atau tepuk tangan algoritma. Ia datang dari masa ketika kepemimpinan diuji oleh keberanian mengambil keputusan di tengah tekanan kekuasaan yang besar. Dan justru karena itu, kisah hidupnya layak dikenang dan dihormati.
Sejarah mencatat bahwa pengangkatan Umbu Djima sebagai Bupati Sumba Barat pada tahun 1985 oleh Ben Mboi bukanlah keputusan biasa. Pada masa Orde Baru, ketika jabatan-jabatan strategis daerah sangat kuat dipengaruhi kalangan militer, Umbu Djima hadir sebagai sosok sipil yang dipercaya memimpin. Bahkan, pencalonannya sempat mendapat penolakan dari petinggi ABRI saat itu.
Namun Ben Mboi melihat sesuatu yang lebih penting daripada sekadar latar belakang kekuasaan. Dalam memoarnya, ia menulis bahwa kepemimpinan harus berorientasi pada kebutuhan rakyat, bukan pada pembagian “kapling kekuasaan.”
Ben Mboi percaya bahwa Umbu Djima memiliki kemampuan dan keberanian untuk menjawab persoalan kemiskinan dan kelaparan yang kala itu menghantui Sumba Barat. Dan sejarah membuktikan keyakinan itu tidak salah.
Umbu Djima menjadi satu-satunya Bupati Sumba Barat dua periode berlatar belakang sipil pada zamannya. Itu bukan sekadar catatan administratif. Itu adalah simbol bahwa keberpihakan kepada rakyat kadang membutuhkan keberanian melawan arus. Bahwa seorang pemimpin tidak selalu harus lahir dari lingkar kekuasaan yang dominan. Dan bahwa di tengah sistem yang keras, masih ada ruang bagi orang-orang yang bekerja dengan hati.
Hari ini, ketika kabar wafatnya menyebar, kita mungkin bertanya: mengapa sosok seperti Umbu Djima penting untuk dikenang?
Jawabannya sederhana: sebab sebuah daerah tidak dibangun hanya oleh generasi hari ini. Kita berdiri di atas pondasi yang diletakkan oleh orang-orang sebelum kita. Jalan yang kita lalui, kebijakan yang kita nikmati, stabilitas sosial yang kita rasakan—semuanya adalah hasil kerja panjang banyak orang yang mungkin namanya tidak lagi disebut setiap hari.
Karena itu, generasi muda perlu belajar satu hal penting: menghargai sejarah bukan berarti hidup di masa lalu, tetapi memahami bahwa masa kini tidak lahir begitu saja. Ada orang-orang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan reputasi mereka agar daerah ini bisa sampai pada titik hari ini, walau mereka pun tidak lolos dari kelemahan.
Kita tidak harus sepakat dengan semua keputusan para pemimpin terdahulu. Tidak ada manusia yang sempurna. Namun memberi apresiasi kepada mereka yang pernah mengabdi adalah tanda kedewasaan sebuah generasi. Sebab bangsa atau daerah yang besar bukanlah yang gemar melupakan orang-orang lamanya, melainkan yang mampu merawat ingatan kolektifnya.
Umbu Djima telah menjalani zamannya. Ia hadir pada masa ketika Sumba membutuhkan tipe kepemimpinan tertentu. Ia bekerja dengan tantangan dan konteks yang berbeda dari hari ini. Dan di situlah kita belajar sebuah kebijaksanaan lama: setiap zaman ada orangnya, dan setiap orang ada zamannya.
Kalimat itu mengajarkan kita untuk rendah hati terhadap sejarah. Bahwa setiap generasi memiliki tantangan sendiri, dan setiap pemimpin hadir untuk menjawab kebutuhan pada masanya. Ada orang yang lahir untuk membangun fondasi. Ada yang hadir untuk menjaga. Ada yang datang untuk memperbarui. Dan semua memiliki tempatnya masing-masing dalam perjalanan sejarah sebuah daerah.
Maka janganlah generasi muda hanya terpaku pada apa yang viral hari ini, lalu melupakan mereka yang pernah berkeringat untuk tanah ini jauh sebelum era digital datang. Sebab tanpa orang-orang seperti Umbu Djima, mungkin sejarah Sumba Barat tidak akan berjalan seperti yang kita kenal sekarang.
Kini, perjalanan itu telah selesai. Seorang putra terbaik Sumba telah kembali kepada Sang Pencipta. Tetapi pengabdian yang tulus tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup dalam kenangan rakyatnya, dalam cerita yang diwariskan, dan dalam nilai-nilai yang tetap tinggal meski manusianya telah berpulang.
Selamat jalan, Umbu Djima. Terima kasih karena pernah mengabdi bagi rakyat dan tanah Sumba.
Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian berpihak kepada masyarakat.
Kiranya Tuhan menerima segala lelah pengabdianmu, dan menghadiahkan damai kekal di rumah Bapa di Surga.* (Emanuel D. Loka/RED)

