
Oleh Budiyanto Delima, Pelaku Bisnis, Pelayan Gereja & Komunitas
Malam itu, meja perjamuan tidak diisi orang-orang tanpa cela.
Yesus duduk bersama murid-murid-Nya — dan Ia tahu semuanya.
Ia tahu ada Yudas yang akan mengkhianati.
Ia tahu Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali.
Di luar sana, tekanan dari Kayafas semakin menguat,
dan Pilatus yang akan ‘mencuci tangan’ untuk mencari aman.
Perjamuan itu belum sempurna:
Masih ada ambisi.
Masih ada ketakutan.
Masih ada ego.
Ada kerapuhan iman.
Namun justru di meja yang belum sempurna itu,
Yesus memecah roti dan berkata: “Inilah Tubuh-Ku.”
Yesus tidak menunggu semuanya sempurna.
Ia tidak menunggu murid-murid-Nya naik kelas rohani.
Ia memulai karya keselamatan di tengah proses.
Yudas masih bergumul secara duniawi.
Petrus masih labil secara iman.
Para murid lainnya masih belum mengerti sepenuhnya.
Tetapi kasih Tuhan sudah lebih dulu utuh.
Sering kali kita menunda melayani Tuhan:
“Nanti kalau hidupku lebih baik…”
“Nanti kalau aku sudah pantas…”
“Nanti kalau aku sudah punya waktu…”
Padahal Ekaristi bukan hadiah untuk yang sudah sempurna.
Ia adalah kekuatan untuk yang sedang dibentuk.
Perjamuan itu belum sempurna —
karena murid-muridnya belum selesai diproses.
Dan mungkin, kita juga belum selesai.
Namun kabar baiknya: Tuhan tidak menunggu versi terbaik kita.
Ia hadir untuk membentuknya.
Karena di meja Tuhan, yang belum sempurna tidak ditolak —
melainkan disempurnakan.*

