
Oleh Benyamin Mali, Dosen Unika Atma Jaya Jakarta, dan Katekis Senior
Seorang umat lingkungan mengeluh karena ditegur setelah memimpin doa Rosario dengan menyampaikan ujud atau intensi doa pada awal setiap peristiwa. Seusai doa Rosario, seseorang menegurnya, “Caramu memimpin Rosario itu salah karena menempatkan ujud doa pada awal setiap peristiwa, bukan pada awal rangkaian Rosario.”
“Siapa yang bilang salah?” tanyanya.
“Kata Romo Anu di TikTok,” jawab si penegur dengan ketus.
Tulisan ini mencoba mengupas apa yang bisa disebut sebagai “teologi Rosario TikTok” yang membingungkan umat. Benarkah cara tersebut salah? Sebagai umat Katolik, mari kita melihat apa yang diajarkan Gereja.
Rosario Itu Devosi, Bukan Liturgi
Inilah kuncinya. Misa Kudus memiliki Tata Perayaan Ekaristi yang harus diikuti sesuai dengan ketentuan Gereja. Rosario berbeda. Rosario merupakan devosi yang berkembang dalam kehidupan iman umat.
Dokumen Gereja, Rosarium Virginis Mariae (2002) yang ditulis oleh Santo Yohanes Paulus II dan Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, memberikan pedoman mengenai doa Rosario, termasuk unsur-unsur pokoknya: Syahadat, Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan, serta permenungan atas peristiwa-peristiwa Gembira, Terang, Sedih, dan Mulia.
Namun, perlu dibedakan antara pedoman mengenai struktur pokok Rosario dan kebiasaan dalam menyampaikan ujud doa. Tidak ada ketentuan universal yang secara khusus mewajibkan agar seluruh ujud disampaikan hanya pada awal rangkaian Rosario. Karena itu, penempatan ujud pada awal setiap puluhan tidak serta-merta membuat doa Rosario menjadi salah.
Perlu ditegaskan pula bahwa Rosario bukan dogma Gereja. Dalam Gereja Katolik, dogma adalah kebenaran iman yang ditetapkan secara definitif oleh Magisterium dan harus diimani oleh umat Katolik. Contohnya ialah dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa (1854) dan Maria Diangkat ke Surga (1950).
Rosario merupakan devosi, bukan dogma. Devosi tumbuh dalam kehidupan iman umat, serta didukung dan dianjurkan oleh Gereja. Karena itu, tata cara pelaksanaan suatu devosi tidak memiliki kedudukan yang sama dengan dogma.
Dengan demikian, perbedaan dalam penempatan ujud doa tidak dapat begitu saja disebut sebagai pelanggaran ajaran resmi Gereja. Umat juga tidak dapat dianggap sesat hanya karena menyampaikan ujud doa pada awal setiap puluhan Rosario.
Menyamakan perbedaan kebiasaan dalam berdoa Rosario dengan pelanggaran dogma merupakan kekeliruan dalam memahami kedudukan devosi di dalam Gereja Katolik. Hal yang perlu dijaga ialah agar devosi tetap sejalan dengan iman dan ajaran Gereja.
Ujud Doa adalah Doa Syafaat
Ujud dalam doa Rosario merupakan ungkapan kasih dan kepedulian kita terhadap sesama. Dasarnya dapat ditemukan dalam Kitab Suci: “Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang” (1 Timotius 2:1).
Dalam berdoa Rosario, kita dapat membayangkan peristiwa perkawinan di Kana (Yohanes 2:1–11). Ketika keluarga yang mengadakan pesta kehabisan anggur, Maria menyampaikan persoalan itu kepada Yesus: “Mereka kehabisan anggur.”
Kisah ini memperlihatkan kepedulian Maria terhadap kebutuhan orang lain. Dengan meneladaninya, kita pun membawa berbagai kebutuhan, pergumulan, dan harapan kepada Tuhan melalui doa.
Ujud doa bukan sekadar daftar permintaan. Di dalamnya ada perhatian terhadap keluarga, anak-anak, orang sakit, mereka yang mengalami kesulitan, serta berbagai persoalan yang dihadapi sesama.
Karena itu, menyampaikan ujud doa merupakan bagian dari penghayatan iman dan kepedulian kita terhadap kehidupan.
Dua Kebiasaan yang Sama-Sama Dapat Dilakukan
Cara pertama: Semua ujud disampaikan pada awal Rosario.
Dalam cara ini, kita membawa seluruh daftar permohonan kepada Tuhan melalui doa Rosario. Misalnya, kita berdoa bagi keluarga, anak-anak, orang sakit, pekerjaan, dan perdamaian dunia.
Cara ini praktis dan banyak digunakan dalam berbagai komunitas. Seluruh ujud disatukan pada awal doa, kemudian umat melanjutkan Rosario dengan merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus dan Maria.
Cara kedua: Ujud doa dibagi pada setiap peristiwa.
Dalam cara ini, setiap peristiwa Rosario didoakan dengan ujud tertentu. Misalnya, peristiwa pertama untuk keluarga, peristiwa kedua untuk anak-anak, dan peristiwa ketiga untuk orang sakit.
Cara ini dapat membantu umat mengarahkan perhatian pada kebutuhan tertentu ketika merenungkan setiap peristiwa Rosario. Umat pun memiliki kesempatan untuk menghayati ujud doa secara lebih khusus.
Kedua cara tersebut dapat digunakan sepanjang tidak bertentangan dengan iman dan ajaran Gereja. Yang terpenting bukanlah memperdebatkan letak ujud doa, melainkan menghayati Rosario dengan penuh iman, khidmat, dan kesungguhan hati.
Apakah Posisi Ujud Menentukan Terkabul atau Tidaknya Doa?
Tidak. Terkabulnya doa tidak ditentukan oleh letak ujud, seolah-olah menyampaikannya pada awal rangkaian Rosario lebih berkuasa daripada menyampaikannya pada awal setiap puluhan.
Jika posisi ujud dianggap menentukan terkabulnya doa, kita berisiko mengubah doa menjadi semacam rumusan mekanis yang menyerupai jimat atau takhayul. Padahal, doa merupakan ungkapan iman, kepercayaan, dan penyerahan diri kepada Allah.
Kita berdoa dengan iman, kerendahan hati, dan ketekunan, seraya menyerahkan hasilnya kepada kehendak Allah. Sikap ini tercermin dalam jawaban Maria ketika menerima kabar dari Malaikat Gabriel: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).
Jawaban Maria mengajarkan penyerahan diri kepada kehendak Allah. Dalam semangat yang sama, kita menyampaikan ujud doa bukan untuk memaksa Tuhan memenuhi permintaan kita, melainkan untuk mengungkapkan harapan dan mempercayakan kehidupan kepada-Nya.
Kesimpulan untuk Umat
Jangan bingung atau merasa bersalah hanya karena menyampaikan ujud doa pada awal setiap peristiwa Rosario. Perbedaan kebiasaan dalam berdoa tidak dengan sendirinya berarti ada yang salah.
Berdoalah dengan cara yang membantu kita semakin khusyuk, menghayati misteri kehidupan Yesus dan Maria, serta semakin dekat dengan Tuhan.
Ujud doa boleh disampaikan sekaligus pada awal Rosario atau dibagi pada setiap peristiwa. Keduanya dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan iman, harapan, dan kasih.
Yang terpenting bukanlah di mana ujud doa ditempatkan, melainkan bagaimana kita berdoa dengan tulus dan menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Dalam doa Rosario, kita belajar berjalan bersama Maria untuk semakin dekat dengan Yesus.*

