Wed. Oct 21st, 2026

WAKTU di Antara Chronos dan Kairos

Oleh Benyamin Mali, Dosen Unika Atma Jaya Jakarta, dan Katekis Senior

Kita hidup dalam waktu (chronos), sejak pagi hingga malam. Namun, sering kali kita tidak menyadari bahwa di dalam perjalanan waktu sehari-hari itu terbentang kairos, yakni saat rahmat, kesempatan, dan karya keselamatan Allah hadir dalam hidup kita.

Allah menyatakan karya keselamatan-Nya bukan di luar waktu, melainkan juga di dalam sejarah dan pengalaman konkret manusia.

Dalam pemikiran Mircea Eliade, seorang ahli sejarah agama-agama, dikenal pembedaan antara waktu sakral dan waktu profan.

Waktu profan adalah waktu yang kita jalani dalam rutinitas kehidupan sehari-hari, sedangkan waktu sakral berkaitan dengan pengalaman akan Yang Ilahi, ketika manusia menyadari kehadiran dan karya Allah dalam hidupnya.

Kedua dimensi waktu ini dapat menjadi bahan refleksi bagi kita. Waktu adalah anugerah Allah yang mengundang manusia untuk bertumbuh secara utuh, sesuai dengan hakikat dirinya sebagai makhluk yang memiliki dimensi vertikal sekaligus horizontal: relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama serta dunia.

Pada siang hari, kita menjalani dimensi horizontal kehidupan melalui pekerjaan, pelayanan, dan berbagai usaha untuk membangun kehidupan. Kita menjadi homo faber, manusia yang berkarya, bekerja, dan menghasilkan sesuatu.

Melalui pekerjaan dan tanggung jawab, kita mengambil bagian dalam merawat serta mengembangkan dunia yang dipercayakan Allah kepada kita.

Namun, ketika malam tiba, kita diajak untuk kembali menyadari dimensi vertikal kehidupan. Kita menjadi homo orans, manusia yang berdoa. Dalam keheningan, kita membawa seluruh karya, kegembiraan, keberhasilan, kegagalan, dan kelelahan sepanjang hari ke hadapan Tuhan.

Kita belajar menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, sambil memohon kekuatan dan kebijaksanaan untuk melanjutkan perjalanan hidup.

Kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan. Manusia adalah homo religiosus, makhluk yang terbuka terhadap pengalaman akan Yang Ilahi, sekaligus homo amans, makhluk yang mampu mencintai.

Iman menemukan wujudnya dalam kasih, sementara kasih memperoleh kedalaman dan sumber kekuatannya dalam relasi dengan Allah.

Sayangnya, kita sering gagal menghayati keutuhan diri tersebut. Kita begitu sibuk mengejar pekerjaan, memenuhi tuntutan kehidupan, membangun karier, dan menyelesaikan berbagai urusan, sehingga lupa menyediakan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan.

Kita mengisi hari-hari dengan banyak kegiatan, tetapi terkadang membiarkan jiwa kita kekeringan karena kehilangan keheningan dan doa.

Dalam spiritualitas Kerahiman Ilahi yang dikenal melalui pengalaman rohani Suster Faustina Kowalska, terdapat sebuah teguran yang patut kita renungkan: manusia sering mempunyai waktu untuk berbagai urusan, tetapi kurang menyediakan waktu untuk datang kepada Yesus dan menerima rahmat-Nya.

Kalimat yang kerap dikaitkan dengan pesan rohani tersebut mengingatkan kita akan bahaya kesibukan yang membuat manusia menjauh dari sumber kehidupannya.

Akibatnya, pertumbuhan hidup kita menjadi tidak seimbang. Kita mungkin maju dalam pekerjaan, tetapi mundur dalam kedalaman rohani. Kita semakin produktif, tetapi semakin kehilangan keheningan. Kita mampu membangun banyak hal di luar diri, tetapi lupa membangun ruang batin tempat kita berjumpa dengan Tuhan.

Di sinilah kita perlu kembali memahami hubungan antara chronos dan kairos. Chronos adalah waktu yang terus bergerak, yang kita hitung dalam detik, menit, jam, dan hari.

Sementara itu, kairos menunjuk pada saat yang tepat dan bermakna, ketika kita menyadari kesempatan untuk mengalami rahmat dan menjawab panggilan Allah. Keduanya bukanlah musuh. Justru di tengah chronos, kita dipanggil untuk mengenali dan menghayati kairos.

Jangan sampai waktu profan dengan segala kesibukannya menenggelamkan kesempatan untuk mengalami waktu sakral. Jangan sampai pekerjaan membuat kita lupa berdoa, dan jangan sampai doa membuat kita mengabaikan tanggung jawab terhadap sesama.

Sebab, hidup yang utuh bukanlah hidup yang hanya dipenuhi aktivitas, tetapi hidup yang mampu menyatukan karya dan doa, kesibukan dan keheningan, perjuangan dan penyerahan diri.

Waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Waktu adalah anugerah untuk mencintai, kesempatan untuk bertumbuh, dan ruang bagi Allah untuk berkarya dalam hidup kita.

Maka, di tengah derasnya arus chronos, marilah kita belajar menemukan kairos: saat ketika kita berhenti sejenak, membuka hati, dan membiarkan rahmat Tuhan menyentuh serta memperbarui hidup kita.

Related Post