
Oleh Benyamin Mali, Dosen Unika Atma Jaya, dan Katekis Senior
Iman yang Menyerahkan Hati, Akal yang Mencari Kebenaran
Credo ut intelligam—aku percaya supaya aku mengerti. Gagasan yang diasosiasikan dengan Santo Agustinus ini kemudian menemukan rumusan yang terkenal dalam pemikiran Santo Anselmus dari Canterbury: Fides quaerens intellectum, iman yang mencari pengertian.
Keduanya menegaskan bahwa iman dan akal budi bukanlah dua kekuatan yang saling meniadakan. Iman bukan musuh akal, sebagaimana akal bukan ancaman bagi iman. Keduanya justru dipanggil untuk saling menerangi.
Percaya bukan berarti berhenti berpikir. Sebaliknya, percaya adalah alasan untuk mulai menggali lebih dalam.
Dalam penafsiran spiritual yang sering dikaitkan dengan kata credo, iman dapat dipahami sebagai tindakan menyerahkan hati kepada sesuatu yang dipercayai.
Iman bukan semata-mata persetujuan intelektual terhadap seperangkat ajaran, melainkan keterlibatan seluruh diri dalam relasi dengan Sang Misteri.
Sementara itu, intelligam menunjuk pada usaha untuk memahami. Dalam refleksi filosofis, memahami bukan sekadar mengumpulkan informasi atau menghafal rumusan.
Memahami berarti berusaha menembus permukaan, menangkap makna, dan menyelami kedalaman. Di sinilah letak pentingnya credo ut intelligam: aku percaya supaya aku mengerti.
Ada saat ketika manusia harus berani membuka hati terlebih dahulu. Ia memasuki wilayah misteri yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika. Namun, penyerahan hati itu bukan undangan untuk mematikan akal budi.
Justru dari dalam keterbukaan iman, akal memperoleh ruang untuk bertanya, merenung, dan mencari makna yang lebih mendalam.
Iman menjadi titik berangkat bagi pemahaman. Bukan garis finis yang menutup perjalanan berpikir.
Namun, ada pula sisi lain yang tidak boleh diabaikan: intellego ut credam—aku mengerti supaya aku percaya.
Iman yang dewasa tidak takut pada pertanyaan. Ia tidak alergi terhadap penelitian, sejarah, konteks, atau penalaran kritis.
Sebaliknya, iman yang dewasa memberikan ruang bagi akal untuk bekerja keras: menggali sumber, memeriksa fakta, menimbang argumentasi, dan menguji pemahaman.
Akal tidak boleh malas hanya karena hati telah percaya. Ia tidak boleh loyo hanya karena sebuah keyakinan diwariskan oleh tradisi. Apa yang dipercayai perlu terus dipahami agar tidak berhenti sebagai kebiasaan, slogan, atau kepatuhan tanpa kesadaran.
Di sinilah iman bertumbuh menjadi keyakinan yang berakar, teguh, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tanpa usaha memahami, iman berisiko tergelincir menjadi fanatisme buta.
Orang merasa paling benar bukan karena telah memahami kebenaran, melainkan karena tidak pernah sungguh-sungguh menguji pemahamannya sendiri.
Ia menolak pertanyaan, mencurigai perbedaan, dan menganggap keraguan sebagai ancaman.
Padahal, pertanyaan yang jujur tidak selalu melemahkan iman. Terkadang, justru melalui pertanyaan, iman dibersihkan dari prasangka, kekeliruan, dan pemahaman yang dangkal.
Sebaliknya, akal yang menolak segala sesuatu yang belum dapat dijelaskan secara tuntas juga berisiko terjebak dalam kesombongan intelektual.
Tidak semua misteri dapat dituntaskan dalam sekali berpikir. Mengakui keterbatasan akal bukan berarti menyerah kepada ketidaktahuan, melainkan menyadari bahwa pencarian kebenaran membutuhkan kerendahan hati.
Karena itu, credo ut intelligam dan intellego ut credam bukanlah dua jalan yang bertentangan. Keduanya merupakan dua gerak yang saling melengkapi dalam perjalanan manusia mencari kebenaran.
Yang pertama mengajak kita membuka hati agar dapat memahami. Yang kedua mengajak kita menggunakan akal agar kepercayaan tidak kehilangan kedalaman dan tanggung jawabnya.
Iman membuka pintu bagi pengertian; pengertian menolong iman bertumbuh dewasa.
Maka, percaya bukan alasan untuk berhenti bertanya. Dan berpikir bukan alasan untuk menolak percaya.
Kita percaya, lalu mencari pengertian. Kita memahami, lalu memperdalam kepercayaan. Kita bertanya, menemukan, mengoreksi, dan belajar kembali. Proses itu berlangsung terus-menerus, sebab manusia tidak pernah selesai menyelami kebenaran.
Credo ut intelligam adalah titik berangkat. Intellego ut credam adalah perjalanan yang terus berlangsung.
Pada akhirnya, orang beriman yang berpikir bukanlah orang yang memiliki jawaban untuk segala hal. Ia adalah orang yang berani menyerahkan hati tanpa mematikan akal, dan berani menggunakan akal tanpa menutup hati.
Sebab iman yang sejati tidak takut pada pencarian kebenaran. Dan akal budi yang rendah hati tidak perlu memusuhi misteri.*

