Tue. Oct 27th, 2026
DR (HC) Irwan Hidayat bersama Anthony Sunjaya, MD, MSc, PhD (University of New South Wales, Australia, Dr Andrianes Bachnas, SpOG (UNS Indonesia), dan dr. Ratih Puspita Febrinasari.

Irwan Hidayat dorong keterbukaan hasil penelitian agar usaha kecil ikut berkembang dan kekayaan tanaman obat Indonesia bernilai ekonomi lebih besar.

SOLO — Temulawak tumbuh di tanah Indonesia dan telah lama dimanfaatkan sebagai bahan jamu. Namun, bagi pelaku usaha kecil, mengenal tanaman obat belum tentu cukup untuk mengembangkan produk yang memiliki dasar ilmiah kuat. Akses terhadap hasil penelitian menjadi salah satu tantangan yang perlu dijembatani.

Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk., Irwan Hidayat, menilai pengembangan industri jamu nasional membutuhkan kolaborasi lebih luas antara perusahaan, perguruan tinggi, dan pelaku usaha kecil.

Menurut Irwan, hasil penelitian ilmiah perlu dapat diakses lebih banyak pihak agar kekayaan tanaman obat Indonesia tidak hanya menjadi potensi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang lebih besar.

Gagasan itu disampaikan Irwan dalam 2nd IKAFARI (Ikatan Farmakologi Indonesia) International Conference dan 4th International Conference on Health, Technology, and Life Sciences (ICOHELICS) 2026 di Harris Hotel & Convention Solo, Jumat (23/10/2026).

“Kalau mereka punya produk temulawak, produk kunyit, produk jahe, mereka bisa melihat hasil penelitian mengenai khasiatnya. Dengan begitu, mereka bisa menjelaskan kepada konsumennya berdasarkan referensi yang tersedia,” ujar Irwan.

Ia memahami, penelitian membutuhkan biaya, fasilitas, dan sumber daya yang tidak selalu dimiliki para pengusaha, apalagi industri usaha kecil. Karena itu, akses terhadap pengetahuan ilmiah perlu diperluas agar pengembangan produk herbal tidak hanya menguntungkan perusahaan bermodal besar.

Untuk mendukung upaya tersebut, Tim Riset Sido Muncul bekerja sama dengan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) melakukan penelitian berbasis literature review. Hasil penelitian yang berbasis literature review tersebut dihimpun dan dipublikasikan melalui platform SidoHerbalMedia.com. Siapa pun dapat mengakses dengan mudah.

Melalui platform ini, pelaku usaha diharapkan bisa mengakses referensi ilmiah tanpa harus membangun fasilitas penelitian sendiri. Informasi tersebut dapat menjadi pijakan untuk memahami bahan yang digunakan sekaligus memberikan penjelasan yang lebih bertanggung jawab kepada konsumen.

“Tujuannya supaya usaha-usaha kecil ini bisa ikut berkembang. Mereka bisa memiliki dasar ilmiah untuk produk yang dibuat. Jangan sampai hanya beberapa pengusaha yang bisa berkembang,” kata Irwan.

Bagi  Irwan, kemajuan industri jamu tidak semestinya hanya diukur dari pertumbuhan perusahaan besar. Ekosistem yang sehat juga harus membuka kesempatan bagi usaha kecil untuk berinovasi dan mengambil bagian dalam pengembangan produk berbahan tanaman obat.

Pengujian, bukan sekadar klaim

Komitmen terhadap penelitian juga menjadi bagian dari perjalanan pengembangan produk Sido Muncul. Sejak 2002, perusahaan memperkuat standardisasi produk, kemudian melakukan pengujian praklinis dan toksisitas. Tolak Angin menjadi produk pertama yang menjalani uji toksisitas dalam upaya tersebut.

Irwan menekankan, penelitian harus terbuka terhadap berbagai kemungkinan hasil. Tidak semua bahan yang diuji menunjukkan efek sesuai perkiraan. Namun, hasil yang tidak sesuai harapan tetap memberikan informasi penting bagi pengembangan produk berikutnya.

“Ada bahan yang kami coba, tetapi ternyata tidak memberikan pengaruh. Dari situ kami mendapatkan informasi. Yang penting, kami mengetahui hasilnya,” ujarnya.

Sikap tersebut menegaskan bahwa pengembangan produk herbal tidak cukup mengandalkan klaim manfaat atau pengalaman penggunaan secara turun-temurun. Pengujian yang sesuai diperlukan untuk memperoleh informasi mengenai keamanan dan manfaat bahan secara lebih objektif.

Sido Muncul juga merencanakan, tepat pada hari ulang tahun yang ke-75 pada 11 November 2026, akan meluncurkan hasil penelitian terhadap sekitar 200. Melalui program itu, jumlah bahan yang terdokumentasi ditargetkan mencapai 269.

Mempertemukan kampus dan industri

Pentingnya kolaborasi turut mengemuka dalam ICOHELICS 2026, yang berlangsung pada 22–23 Oktober dengan tema Advancing Clinical and Pharmacological Innovations to Achieve the SDGs: Tackling Obesity, Metabolic Disorders, and Diabetes for Global Health Equity.

Ketua Panitia, dr. Ratih Puspita Febrinasari, menilai komunikasi antara akademisi dan industri diperlukan agar hasil penelitian berpeluang dikembangkan menjadi produk yang aplikatif.

“Komunikasi tidak hanya dilakukan di lingkungan akademik, tetapi juga sampai pada bagaimana bekerja sama dengan industri,” kata Ratih.

Konferensi ini mempertemukan akademisi, dokter, farmakolog, mahasiswa, dan profesional dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, Rumania, dan Oman.

Pertemuan lintas disiplin dan negara itu diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus membuka peluang penerapan hasil penelitian sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.

Bagi industri jamu Indonesia, tantangannya bukan semata-mata menemukan manfaat tanaman obat, melainkan memastikan pengetahuan tentangnya dapat diakses dan dimanfaatkan secara lebih luas.

Manfaatkan Kajian Literatur

Kepada media ini, Irwan mengungkapkan bahwa program pengembangan fitofarmaka yang difasilitasi pemerintah sangat baik, tetapi membutuhkan biaya besar dan waktu panjang. Sementara itu, berbagai penelitian ilmiah mengenai tanaman obat Indonesia telah dilakukan para peneliti dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Bahan yang diteliti pun umumnya merupakan tanaman yang sudah dikenal masyarakat dan mudah ditemukan di pasaran, seperti temulawak.

Karena itu, Irwan memilih memanfaatkan hasil penelitian yang telah tersedia sebagai landasan uji klinis melalui kajian literatur (literature review).

Pendekatan ini, menurut Irwan, memungkinkan pengembangan produk berbasis tanaman obat dilakukan secara lebih efisien tanpa mengabaikan dasar ilmiahnya.

“Fitofarmaka itu bagus, tetapi saya ingin memanfaatkan hasil penelitian yang sudah ada. Jadi, saya melakukan uji klinis berdasarkan literature review, bukan memulai riset dari nol,” jelasnya.

Baginya, upaya ini bukan semata-mata soal efisiensi biaya dan waktu, melainkan juga membuka akses yang lebih luas terhadap kekayaan hayati Indonesia.

Dengan pendekatan yang lebih terjangkau, hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak pelaku usaha, terutama usaha kecil.

“Saya ingin kekayaan alam kita dimanfaatkan dengan baik dan semua pelaku usaha mendapat akses, terutama yang kecil-kecil. Saya memilih jalan yang lebih murah, tetapi tetap autentik,” tambah Irwan.

Ketika hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium atau jurnal akademik, usaha kecil pun berpeluang tumbuh dengan pijakan ilmiah yang lebih kuat. Dari sana, kekayaan tanaman obat Indonesia dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang melibatkan lebih banyak pelaku usaha. (tD)

 

Related Post