
BEKASI – Empat puluh tahun bukan sekadar angka, tetapi perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan dalam membentuk manusia yang berpikir kritis sekaligus mengabdi bagi Gereja dan masyarakat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Misa dan Temu Kangen Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) St. Yohanes Pematangsiantar atau STFT Sinaksak, yang digelar di Bekasi, Selasa, 25 Agustus 2026.
Pertemuan lintas angkatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari sukacita Dies Natalis ke-40 STFT Sinaksak. Para alumni yang pernah menimba ilmu filsafat dan teologi di kampus di kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, kembali berkumpul, bukan semata-mata untuk bernostalgia, tetapi juga berefleksi mengenai perjalanan almamater dan menatap tantangan yang akan dihadapi pada masa mendatang.
Mengusung semangat dengan tema “Berjumpa, Berbagi, Meneguhkan”, kegiatan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Uskup Agung Palembang Mgr. Yohanes Harun Yuwono.
Dalam perayaan tersebut, Mgr. Harun didampingi konselebran imam alumni STFT Sinaksak, yakni RD Ignatius Putra Setiahati, RD Hans Jeharut, dan RP Daniel. Dalam homilinya, Mgr. Yuwono menyampaikan bahwa empat dekade telah melahirkan banyak alumni dengan jalan panggilan dan profesi yang beragam.
Ada yang melanjutkan panggilan sebagai imam dan hidup bakti, sementara yang lain menjalani panggilan sebagai awam dan berkarya di berbagai bidang kehidupan. Perbedaan jalan hidup tersebut justru menjadi kekayaan persaudaraan alumni.
Karena itu, alumni awam diharapkan dapat menjadi “perpanjangan tangan dan mulut” para imam, khususnya dalam kehidupan paroki dan berbagai bentuk pelayanan Gereja.
Ia juga mengapresiasi para alumni yang terus aktif dalam pelayanan Gereja maupun berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Selain para alumni awam, juga turut hadir alumni imam yang semakin memperkaya suasana persaudaraan, antara lain RP Erwin Manullang, OFMCap. (Sekretaris Eksekutif Komisi Seminari KWI), RP Barnabas Meriko, OFMCap. (Pastor Paroki Tebet), serta RD Rianto (imam yang berkarya di lingkungan TNI Angkatan Laut).
Dari Nostalgia menuju Refleksi
Perjumpaan alumni tidak berhenti pada Misa dan temu kangen. Seusai makan siang, acara dilanjutkan dengan diskusi dan refleksi mengenai kondisi STFT Sinaksak saat ini serta berbagai tantangan yang perlu diantisipasi pada masa mendatang.
Diskusi menghadirkan tokoh dan juga alumni STFT Sinaksak, di antaranya Dr. Salman Habeahan, Direktur Urusan Agama Katolik Kementerian Agama RI, bersama Mgr. Harun Yuwono sebagai narasumber.
Diskusi dimoderatori Dr. Raja Oloan Tumanggor, akademisi Universitas Tarumanagara. Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah perlunya para alumni ikut memikirkan roadmap pengembangan STFT Sinaksak untuk 10 tahun, bahkan 40 tahun mendatang.
Refleksi tersebut sekaligus melahirkan pertanyaan lain yang tidak kalah penting: Quo vadis, alumni STFT Sinaksak? Ke mana para alumni akan melangkah dan kontribusi apa yang dapat diberikan kepada almamater, Gereja, serta masyarakat di tengah perubahan zaman?
Ketua Umum Ikatan Alumni STFT Sinaksak, Febry Silaban, mengatakan peringatan 40 tahun semestinya tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan masa lalu. “Mencintai almamater bukan hanya dengan mengenang masa lalu, tetapi juga dengan ikut memikirkan masa depannya,” ujar Febry.
Menurutnya, perjumpaan para alumni diharapkan menjadi energi baru untuk membangun jejaring, saling menguatkan, sekaligus merumuskan bentuk kontribusi konkret bagi keberlangsungan dan perkembangan STFT Sinaksak. Ad multos annos, STFT Sinaksak! [FS]

