
Mereka adalah imam, tetapi juga matematikawan, penjelajah pengetahuan, dan astronom. Dari kalender yang kita gunakan setiap hari hingga cara manusia membaca cahaya bintang, jejak tiga ilmuwan Yesuit ini masih terasa hingga sekarang.
Setiap hari kita melihat tanggal di layar ponsel atau kalender di dinding. Angka itu tampak sederhana dan seolah sudah ada sejak dahulu. Namun, sistem penanggalan yang digunakan sebagian besar dunia saat ini memiliki sejarah panjang dan melibatkan perhitungan astronomi yang rumit.
Di baliknya ada nama Christopher Clavius, imam Yesuit dan matematikawan yang hidup pada abad ke-16.
Clavius hanyalah satu dari sejumlah ilmuwan yang lahir dari tradisi intelektual Serikat Yesus. Sejak didirikan pada 1540, para Yesuit tidak hanya berkarya dalam pendidikan dan pelayanan keagamaan, tetapi juga mengembangkan studi matematika, astronomi, geografi, dan ilmu-ilmu alam.
Karya mereka sekaligus menunjukkan bahwa hubungan agama dan sains dalam sejarah tidak selalu sesederhana gambaran tentang dua dunia yang terus bertentangan. Tiga tokoh berikut menjadi contoh menarik.
Christopher Clavius dan Kalender yang Kita Gunakan
Christopher Clavius (1538–1612) lahir di Bamberg, Jerman, dan kemudian menjadi imam Yesuit serta pengajar Matematika di Collegio Romano, Roma. Pada zamannya, ia dikenal sebagai salah satu matematikawan terkemuka dan dijuluki “Euclides abad ke-16.”
Namanya paling erat dengan reformasi kalender.
Kalender Julian yang digunakan selama berabad-abad memiliki sedikit kekeliruan dalam menghitung panjang tahun. Selisih yang tampak kecil itu terus terakumulasi sehingga pada abad ke-16 kalender telah bergeser sekitar sepuluh hari dari perhitungan astronomis.
Persoalannya bukan sekadar angka. Pergeseran tersebut memengaruhi penentuan ekuinoks dan perhitungan tanggal Paskah.
Pada 1579, Paus Gregorius XIII menugaskan sebuah komisi untuk memperbaiki kalender. Clavius menjadi tokoh penting dalam pekerjaan tersebut. Ia mengembangkan perhitungan matematis, bekerja berdasarkan usulan Aloysius Lilius, dan kemudian mempertahankan sistem kalender baru melalui berbagai tulisan ilmiah.
Hasilnya adalah Kalender Gregorian, yang kini digunakan di sebagian besar dunia.
Salah satu aturan yang bertahan hingga sekarang adalah ketentuan tahun kabisat: tahun yang habis dibagi 100 tidak menjadi tahun kabisat, kecuali juga habis dibagi 400. Karena itu, 2000 merupakan tahun kabisat, sedangkan 1900 bukan.
Pengaruh Clavius tidak berhenti pada kalender. Ia juga berperan penting dalam memperkuat pendidikan matematika di sekolah-sekolah Yesuit ketika matematika belum selalu mendapat tempat penting dalam pendidikan filsafat.
Namanya kini bahkan diabadikan pada salah satu kawah besar di Bulan: Kawah Clavius.
Athanasius Kircher, Ilmuwan yang Ingin Mengetahui Segalanya
Jika Clavius dikenal karena ketelitian matematisnya, Athanasius Kircher (1602–1680) justru terkenal karena keluasan minatnya.
Lahir di Jerman, Kircher kemudian menetap di Roma setelah pergolakan Perang Tiga Puluh Tahun. Di Collegio Romano, ia menjadi salah satu pusat pertukaran informasi dan pengetahuan pada zamannya.
Kircher menulis lebih dari 40 karya besar mengenai bidang yang sangat beragam: Mesir kuno, hieroglif, geologi, magnetisme, musik, optik, bahasa, kedokteran, budaya Tiongkok, agama, hingga gunung berapi.
Ia sering disebut sebagai salah satu polimath, atau orang yang menguasai banyak bidang ilmu.
Namun, Kircher juga memperlihatkan sisi lain perjalanan ilmu pengetahuan. Tidak semua teorinya benar. Penafsirannya terhadap hieroglif Mesir terbukti keliru. Sejumlah teorinya mengenai bumi dan fenomena alam juga kemudian ditinggalkan.
Meski demikian, pengaruhnya tetap besar. Kircher memiliki akses ke jaringan misionaris Yesuit di berbagai belahan dunia. Catatan perjalanan, informasi geografis, benda-benda budaya, dan hasil pengamatan dari berbagai tempat mengalir ke Roma dan menjadi bahan kajiannya.
Karyanya dibaca oleh tokoh-tokoh seperti Leibniz dan Huygens, dan terdapat alasan untuk menduga bahwa Newton juga mengenalnya.
Salah satu kisah paling terkenal tentang Kircher terjadi setelah letusan Gunung Vesuvius pada 1631. Ia mendatangi kawasan gunung tersebut dan melakukan pengamatan langsung terhadap kawahnya.
Di tengah bahaya, rasa ingin tahunya membawanya mendekati salah satu kekuatan alam yang paling menakutkan.
Kircher juga memiliki “kawah” yang memakai namanya—bukan di bumi, melainkan di Bulan.
Angelo Secchi dan Ketika Bintang Mulai Dibaca
Memasuki abad ke-19, astronomi mengalami perubahan besar. Teleskop semakin berkembang, tetapi astronom pada masa itu masih banyak berfokus pada posisi dan gerak benda-benda langit.
Angelo Secchi (1818–1878) datang dengan pertanyaan yang berbeda.
Imam Yesuit asal Italia dan direktur observatorium Collegio Romano ini ingin mengetahui bukan hanya di mana sebuah bintang berada, tetapi apa sebenarnya bintang itu.
Secchi menggunakan spektroskopi, teknik yang memecah cahaya menjadi spektrum. Dari spektrum tersebut, ilmuwan dapat memperoleh informasi mengenai sifat fisik benda langit.
Ia mengamati dan mengklasifikasikan lebih dari 4.000 bintang berdasarkan karakteristik spektrumnya. Sistem klasifikasi yang ia kembangkan kemudian menjadi salah satu dasar bagi perkembangan klasifikasi bintang modern.
Karena itu, Secchi dikenang sebagai salah satu pelopor astrofisika, cabang astronomi yang mempelajari sifat fisik benda-benda langit, bukan hanya posisi dan geraknya.
Penelitiannya juga mencakup Matahari, magnetisme bumi, meteorologi, dan oseanografi.
Ketika Roma menjadi bagian dari Kerajaan Italia pada 1870, Secchi tetap mempertahankan kesetiaannya kepada Paus Pius IX. Reputasinya sebagai ilmuwan begitu kuat sehingga ia tetap dipercaya memimpin observatorium.
Setelah wafat pada 1878, tradisi observatorium tersebut terus berkembang dan kemudian menjadi bagian dari sejarah Observatorium Vatikan.
Namanya juga kembali muncul dalam penelitian antariksa modern. Instrumen SECCHI pada wahana antariksa STEREO dinamai untuk menghormati jasanya.
Tiga Imam, Tiga Abad
Clavius membantu manusia menata waktu. Kircher berusaha memahami dunia dalam segala kerumitannya. Secchi mengajarkan manusia membaca cahaya bintang.
Mereka hidup dalam tiga abad berbeda dan bekerja dengan cara yang berbeda. Tidak semua gagasan mereka bertahan. Beberapa bahkan terbukti keliru.
Namun sejarah ilmu pengetahuan memang tidak hanya dibangun oleh jawaban yang benar. Ia juga tumbuh dari pertanyaan, pengamatan, percobaan, kesalahan, dan keberanian untuk mencari tahu.
Kisah ketiganya karena itu menawarkan gambaran yang lebih kompleks mengenai hubungan agama dan sains. Mereka menunjukkan bahwa dalam sejarah Serikat Yesus, kehidupan keagamaan dan pencarian pengetahuan pernah berjalan beriringan.
Hari ini, jejak mereka masih dapat ditemukan. Pada kalender yang kita gunakan untuk mengatur hari. Pada nama kawah di permukaan bulan. Pada cara astronom membaca cahaya bintang. Tiga imam itu telah lama meninggal.
Tetapi pertanyaan yang mereka ajukan masih terus berjalan—bersama waktu, bersama cahaya, dan bersama manusia yang tak pernah berhenti ingin mengetahui lebih jauh tentang dunia yang ditinggalinya. (aleteia/tD)

