Thu. Jul 2nd, 2026

Ketika Terang Kembali Menyapa: Jejak Panjang Sido Muncul Melawan Katarak

Sido Muncul berikhtiar befrbagi harapan dan cahaya. (ist)

Cahaya adalah anugerah yang sering kali baru disadari nilainya ketika perlahan menghilang.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk kembali berikhtiar mengembalikan harapan para penderita katarak melalui dua produk unggulannya, Tolak Angin dan Kuku Bima. Pada Rabu, 24 Juni 2026, perusahaan kembali menggelar bakti sosial operasi katarak gratis bagi 100 warga Cirebon dan sekitarnya.

Program tersebut dilaksanakan bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Pusat dan Rumah Sakit UniMedika Sumber Waras Cirebon.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, kepada Direktur RS UniMedika Sumber Waras Cirebon, dr. H. Budi S. Soenjaya, MM., serta disaksikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni.

Namun yang sesungguhnya diserahkan hari itu bukan hanya dukungan penyelenggaraan operasi. Ada harapan agar lebih banyak masyarakat terbebas dari ancaman kebutaan yang sebenarnya dapat disembuhkan.

Lebih dari Sekadar Program CSR

Bagi Irwan Hidayat, kegiatan sosial bukanlah agenda seremonial yang dijalankan sesekali. Ia memandangnya sebagai bagian dari filosofi menjalankan usaha.

“Sebuah usaha bisa sukses dan langgeng kalau bisa memberikan manfaat kepada masyarakat. Ini cara saya berpromosi sambil membantu. Jadi, saya menggunakan seluruh kemampuan dana Tolak Angin dan Kuku Bima untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada masyarakat. Dana yang digunakan pun bukan hanya dari anggaran CSR, tetapi juga dari anggaran iklan,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan pendekatan yang jarang ditemui. Alih-alih memisahkan aktivitas bisnis dan kegiatan sosial, Sido Muncul justru menggabungkan keduanya. Dana promosi tidak hanya dipakai untuk membangun merek, tetapi juga diarahkan menjadi investasi sosial yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara langsung.

Model inilah yang membuat berbagai program kemanusiaan perusahaan dapat terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Konsisten Selama 15 Tahun

Kolaborasi antara Tolak Angin, Kuku Bima, dan PERDAMI bukanlah kerja sama yang baru dimulai. Sejak 2011, program operasi katarak gratis telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Dalam kurun waktu tersebut, lebih dari 57.000 mata berhasil dioperasi.

Pada 2025 saja, sebanyak 1.050 penderita katarak telah mendapatkan operasi secara cuma-cuma. “Tahun lalu, kami sudah mengoperasi sebanyak 1.050 penderita katarak. Tahun ini, Tolak Angin dan Kuku Bima akan terus konsisten melakukan operasi katarak gratis, apalagi penderita katarak di Indonesia masih mencapai puluhan hingga ratusan ribu,” kata Irwan.

Baginya, kebutuhan operasi tidak akan pernah benar-benar selesai. Katarak merupakan penyakit degeneratif yang akan terus muncul seiring bertambahnya usia penduduk. Sementara itu, tidak semua masyarakat memiliki kemampuan ekonomi ataupun akses terhadap layanan kesehatan yang memadai.

“Jadi ini akan terus ada, tidak akan selesai, karena ini penyakit degeneratif. Pemerintah memang ada BPJS, tapi tidak semua tercover, dan kami masuk di sela-sela itu. Bagi kami, kegiatan seperti ini adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan. Banyak orang sakit tanpa kemampuan finansial, inilah saatnya kita membantu,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana dunia usaha dapat menjadi pelengkap bagi upaya pemerintah dalam memperluas akses pelayanan kesehatan.

Menghapus Rasa Takut

Di luar persoalan biaya, masih banyak penderita katarak yang enggan menjalani operasi karena rasa takut.

Padahal, menurut Irwan, operasi merupakan satu-satunya cara memulihkan penglihatan akibat katarak. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari program ini.

“Kesehatan mata adalah faktor penting penentu kualitas hidup seseorang. Kalau orang itu sudah kehilangan penglihatan, 50 persen kualitas hidupnya hilang. Semoga operasi katarak ini tidak menjadi hal yang menakutkan untuk masyarakat, khususnya para penderita katarak, karena satu-satunya cara untuk sembuh dari katarak hanya dengan operasi. Begitu selesai operasi, maka bisa langsung kembali melihat,” katanya.

Pesan tersebut sederhana, tetapi penting. Sebab, keberhasilan operasi bukan hanya mengembalikan fungsi penglihatan, melainkan juga mengembalikan kemandirian, produktivitas, dan rasa percaya diri seseorang.

Menebar Manfaat yang Lebih Luas

Operasi katarak hanyalah satu dari sekian banyak program sosial yang dijalankan Sido Muncul. Selama bertahun-tahun, perusahaan juga rutin menggelar operasi bibir sumbing gratis, membantu penanganan stunting melalui pemberian nutrisi, hingga berbagai kegiatan kesehatan masyarakat lainnya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon, kolaborasi seperti ini menjadi contoh nyata bagaimana dunia usaha dapat mengambil peran dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut dan jumlah penderita katarak makin berkurang,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni.

Keberhasilan sebuah operasi tidak hanya diukur dari beningnya kembali lensa mata pasien. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika seseorang dapat kembali melihat masa depannya dengan jelas.

Dan selama masih ada mata yang menunggu untuk kembali memandang terang, langkah-langkah kecil seperti yang dilakukan Sido Muncul akan selalu menemukan maknanya. (tD/*)

Related Post