Mon. Jun 29th, 2026

Camino Misionero, Ketika Setiap Langkah Menjadi Doa

Stanislaus Jumar Sudiyana, Peserta Camino Misionero, asal Paroki Santa Clara Bekasi Utara

Di tengah kehidupan yang serba cepat, Camino Misionero mengajak saya melakukan sesuatu yang sederhana, tetapi semakin langka: berjalan. Bukan berjalan untuk mengejar tujuan, melainkan berjalan untuk memberi ruang bagi hati agar kembali mendengar.

Menyusuri jalan-jalan desa, persawahan, dan gereja-gereja tua dari Kerkhof Muntilan hingga Gereja Santo Petrus Borobudur, Jawa Tengah saya merasakan bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar ziarah fisik. Setiap langkah membawa saya menyusuri jejak awal berkembangnya Gereja Katolik di Tanah Jawa, sekaligus mengingatkan bahwa iman tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari ketekunan, pengorbanan, dan kesediaan untuk terus melangkah.

Perjalanan ini juga membawa saya semakin mengenal sosok Pater Fransiscus Georgius Josephus Van Lith, SJ, yang oleh banyak umat dikenang sebagai leluhur rohani orang Katolik Jawa.

Stanislaus Jumar

Warisan terbesarnya bukan sekadar mendirikan sekolah atau membuka karya misi, melainkan menghadirkan Gereja yang berakar pada budaya Jawa.

Van Lith tidak datang untuk menghapus identitas masyarakat, tetapi menghargainya, mempelajarinya, lalu mewartakan Injil melalui bahasa, budaya, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Dari sanalah benih Gereja Katolik di Tanah Jawa bertumbuh hingga kini.

Berdiri di tempat-tempat yang pernah menjadi medan karya pelayanannya membuat saya memahami bahwa karya besar tidak selalu lahir dari hal-hal yang spektakuler.

Ia dimulai dari kesabaran mendampingi, mendidik, membangun kepercayaan, dan mencintai manusia apa adanya bahkan rela belajar bahasa Jawa sebagai bahasa ibu masyarakat lokal. Nilai-nilai itulah yang terasa tetap hidup sepanjang Camino Misionero.

Sebagai seorang jurnalis, saya terbiasa berjalan memburu berita dan berpacu dengan waktu dari Aceh hingga Papua bahkan hingga belahan bumi lain. Namun di Camino Misionero, saya belajar memperlambat langkah.

Keheningan justru menjadi ruang untuk berefleksi, membaca kembali perjalanan hidup, dan menyadari bahwa Tuhan sering berbicara dalam kesunyian yang selama ini terabaikan.

Yang paling membekas adalah pengalaman berjalan bersama. Perbedaan usia, profesi, status sosial dan asal daerah seolah melebur dalam semangat saling menolong. Ketika ada peserta yang tertinggal, yang lain menunggu.

Saat ada yang mulai kelelahan, tangan-tangan lain hadir memberi semangat. Saya melihat Gereja bukan hanya sebagai bangunan, melainkan sebagai persekutuan umat yang saling menopang dalam perjalanan kehidupan.

Camino juga mengajarkan bahwa sejarah bukan sekadar kisah yang tersimpan di dalam buku. Ketika jejak itu dilalui dengan kaki sendiri, sejarah berubah menjadi pengalaman yang hidup.

Kita tidak hanya mengenang Van Lith sebagai tokoh masa lalu, tetapi diajak meneruskan semangatnya: menghadirkan Gereja yang membumi, dekat dengan masyarakat, menghargai kebudayaan, dan menjadi tanda kasih bagi siapa saja tanpa membedakan latar belakang.

Saya pulang dengan kaki yang lelah, tetapi hati yang dipenuhi rasa syukur. Camino Misionero menyadarkan saya bahwa hidup pada hakikatnya adalah sebuah peziarahan. Yang terpenting bukan seberapa cepat kita mencapai tujuan, melainkan apakah selama perjalanan kita mampu menghadirkan kasih, menjaga harapan, dan menjadi teman seperjalanan bagi sesama.

Barangkali, itulah makna terdalam Camino Misionero. Ketika langkah kaki perlahan berubah menjadi doa, perjalanan menjadi ruang untuk semakin mengenal Tuhan, dan jejak Van Lith terus hidup, bukan hanya dalam catatan sejarah, tetapi dalam setiap orang yang memilih melayani dengan kasih, kerendahan hati, dan penghormatan kepada sesama.

Berkah Dalem, Gusti Mberkahi

Related Post