
Tiba-tiba aku teringat Pantai Walakiri di Sumba Timur dengan debur ombaknya yang lembut dan sapuan manja anginnya yang menerpa dancing trees yang memagut hati.
Hari menjelang senja pada pertengahan Juli 2023 ketika kami memacu Si Blacky, mobil Avanza 1.3, dari Kota Waingapu ke arah timur. Tujuan kami adalah sebuah pantai yang namanya telah melampaui batas Pulau Sumba dan dikenal hingga ke berbagai penjuru dunia: Pantai Walakiri.
Perjalanan menuju pantai ini menghadirkan pemandangan khas Sumba yang memikat. Jalanan membelah hamparan sabana luas yang seolah tak berujung, sebuah bentang alam yang mengingatkan pada ungkapan penyair Taufik Ismail tentang sabana yang “berbatas langit”.
Pepohonan dan rumah-rumah penduduk memang sesekali terlihat, tetapi jumlahnya tak banyak. Mata lebih sering tertuju pada hamparan padang cokelat yang dihiasi batu-batu karang yang tersebar di berbagai sudut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 24 kilometer dari Waingapu dan berbelok ke kiri, hamparan pasir putih dan laut jernih Pantai Walakiri menyambut dengan deburan ombak yang lembut. Suasana tenang dan alami segera membuat siapa pun merasa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Saat senja mulai turun, perhatian pengunjung akan tertuju ke sisi kiri pantai. Di sana tumbuh deretan mangrove kerdil dengan cabang-cabang yang meliuk-liuk unik. Pohon-pohon inilah yang menjadi ikon Pantai Walakiri.
Akibat terpaan angin laut, pasang surut air, dan kondisi pesisir selama bertahun-tahun, bentuk mangrove tersebut berubah menjadi siluet artistik yang menyerupai gerakan tari. Karena itu, pohon-pohon ini lebih dikenal dengan sebutan “Dancing Trees” atau “Pohon Menari”. Banyak sumber wisata menyebutnya sebagai dwarf mangroves karena ukurannya yang relatif kecil dengan ranting-ranting berkelok indah.

Keajaiban sesungguhnya hadir ketika air laut surut menjelang matahari terbenam. Siluet pohon-pohon itu memantul di permukaan air dangkal, menciptakan ilusi seolah-olah mereka sedang menari mengikuti irama alam. Perpaduan warna jingga senja, pantulan air, dan bentuk pohon yang eksotis menghadirkan panorama yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Tak mengherankan jika Pantai Walakiri menjadi lokasi favorit para fotografer dan wisatawan, termasuk turis mancanegara yang menjadikannya tempat foto pranikah. Setiap sudut pantai menawarkan latar yang romantis, terutama ketika matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Angin sore yang menyapu kulit dengan lembut berpadu dengan suara ombak yang berkejaran di bibir pantai. Kehangatan cahaya senja menciptakan suasana yang romantis sekaligus menenangkan, menghadirkan pengalaman yang sulit dilupakan.
Bagi wisatawan dari Jakarta, perjalanan menuju Pantai Walakiri dapat ditempuh dengan penerbangan menuju Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumba. Jika mendarat di Bandara Lede Kalumbang, Kabupaten Sumba Barat Daya, perjalanan darat menuju Walakiri memerlukan jarak sekitar 190 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat hingga lima jam.
Namun, jika memilih penerbangan menuju Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, perjalanan menuju pantai ini hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.
Pantai Walakiri menawarkan lebih dari sekadar keindahan panorama. Mengunjunginya bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional.
Setiap embusan angin, deburan ombak, dan jejak kaki di atas pasir seolah mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan menikmati makna sederhana dari alam yang bekerja dalam diam.
Ketika akhirnya meninggalkan pantai ini, yang terbawa pulang bukan hanya foto-foto indah atau kenangan perjalanan. Ada ketenangan yang perlahan menetap di dalam diri. Pantai Walakiri mungkin tidak menjanjikan perubahan besar dalam hidup seseorang, tetapi ia mampu mengubah cara memandang dunia—lebih tenang, lebih sederhana, dan lebih menghargai keindahan yang hadir tanpa banyak kata. (EDL/tD)

