Sat. Jun 27th, 2026
Hugo Rehi Kalembu: kemiskinan adalah sekolah paling jujur yang pernah ada.

Melalui akun Facebook pribadinya, politisi senior Hugo Rehi Kalembu kerap membagikan renungan kehidupan yang sederhana, tetapi menggugah.

Tulisan-tulisannya tidak tampil sebagai petuah yang menggurui, melainkan sebagai hasil perenungan panjang tentang hidup, perjuangan, dan cara manusia memaknai keadaan.

Dalam status yang diunggah pada 27 Juni 2026, Hugo menulis sebuah refleksi tentang kemiskinan—tema yang sering dihindari, bahkan dianggap memalukan oleh banyak orang.

“Kemiskinan sering dipandang sebagai aib. Padahal, kemiskinan adalah sekolah paling jujur yang pernah ada,” tulis Hugo pada kalimat awal.

Kalimat itu menjadi pintu masuk bagi gagasan yang lebih dalam: bahwa masa sulit bukan sekadar fase yang harus dilewati, tetapi ruang pembentukan karakter.

Menurut pria yang pernah mengabdi sebagai anggota DPRD selama 45 tahun itu, ketika seseorang diremehkan pada masa sulit, sesungguhnya ia sedang belajar tiga hal sekaligus.

Pertama, belajar tentang kesabaran. Dalam keadaan serba terbatas, seseorang memahami bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Tidak semua hal dapat dipercepat. Tidak ada jalan pintas menuju rezeki yang bernilai dan penuh berkah.

Kedua, belajar tentang syukur. Dalam kondisi berkecukupan, banyak hal terasa biasa. Namun ketika pernah hidup dalam kekurangan, sekeping roti atau secangkir kopi hangat hasil jerih payah sendiri dapat menghadirkan rasa nikmat yang jauh lebih dalam daripada jamuan mewah.

Ketiga, belajar tentang karakter. Saat seseorang tidak memiliki apa-apa, topeng kehidupan perlahan lepas. Di masa sulit, orang mengenal dirinya sendiri sekaligus mengenali siapa yang tetap bertahan di sekelilingnya.

Karena itu, menurut Hugo, kenikmatan keberhasilan bukan terletak pada apa yang dipamerkan, melainkan pada harga yang telah dibayar untuk mencapainya.

Ia menulis bahwa orang yang sejak lahir hidup bergelimang kenyamanan mungkin tidak sepenuhnya memahami arti sebuah pencapaian kecil. Sebaliknya, mereka yang pernah menjalani hari tanpa kepastian tentang esok, akan merasakan makna yang berbeda dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Pesan paling kuat dari renungan itu muncul pada bagian penutup.

“Jangan malu dengan masa miskinmu. Masa itu bukan noda. Masa itu adalah sertifikat yang membuat kemenanganmu nanti tidak terasa hampa.”

Hugo kemudian mengajak siapa pun untuk terus berjuang tanpa banyak sorotan, bekerja tanpa perlu tepuk tangan. Sebab ketika rezeki datang pada waktunya, yang tersisa bukan sekadar rasa bangga, melainkan syukur yang tumbuh dari perjalanan panjang.

Di tengah budaya yang sering mengukur nilai manusia dari apa yang dimiliki, renungan ini mengingatkan bahwa kemiskinan memang tidak romantis dan tidak layak dimuliakan. Namun, bagi sebagian orang, masa sulit dapat menjadi ruang yang mengajarkan keteguhan, kesabaran, dan penghargaan yang lebih mendalam terhadap hidup. (tD)

Related Post