Tidak Segan-segan Membuat Tanda Salib Haru di Depan Dosen Penguji

Di lapangan bola, sangat biasa tersua seorang pencetak goal beragama Katolik membuat tanda salib usai mencetak goal. Alo Giyai pun merasa bangga membuat tanda salib di hadapan para dosen pengujinya usai dinyatakan lulus ujian doktoral dengan predikat sangat memuaskan.

Dr drg Aloysius Giyai, M. Kes tidak bisa menyembunyikan rasa haru, bahkan air matanya sambil membuat tanda salib, ketika Wakil Rektor IPDN Jakarta Dr Rizari Azhar  mengatakan, “Untuk pertama kalinya di sidang yang terhormat ini, secara resmi saya menyebut ‘Doktor Aloysius Giyai’”.

Ungpakan tersebut disampaikan Dr Rizari Azhar  usai mengumumkan kelulusan Alo dalam promosi doktoral  ilmu pemerintahan pada 20 Maret 2023.

Dalam promosi tersebut, Direktur RSUD Jayapura tersebut berhasil mempertahankan disertasinya berjudul Implementasi Kebijakan Percepatan Jangkauan Pelayanan Kesehatan Bergerak di Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua dengan predikat Cum Laude.

Rasa haru itu menyeruak karena Alo mengingat jalan perjuangan kehidupannya yang sangat berat dan diwarnai aneka tragika. Dalam perjalanan hidup itu, beberapa saudara kandung meninggal akibat diserang penyakit dan tak terobati.

Hal tersebut terjadi oleh karena keluarga Giyai terbelit oleh kemiskinan yang nyaris tak terurai. Jalan hidupnya bersama keluarga seakan berada dalam pekat malam, di musim hujan pula. Mereka hidup di alam yang liar, walau alam yang sama menyimpan aneka kekayaan.

Hidup mereka terkungkung dalam keterbelakangan, tak berpendidikan, terisolir, sewaktu-waktu terancam oleh alam yang dihuni oleh aneka satwa liar.

Tapi siapa sangka, “cahaya pembebasan” itu justru sekonyong-konyong datang dalam wajah penghinaan yang diterima keluarga Giyai dalam sebuah pesta?

Keluarga Giyai dihina di tengah orang banyak pada sebuah pesta karena tidak bisa menyumbang Sarden dan Supermie untuk penyelenggaraan pesta itu.

Saat Alo dengan gembira menerima ijazah doktoralnya. (EDL)

Sungguh! Bukan karena tidak mau memberi atau menyumbang kedua jenis makanan itu, tetapi karena keluarga Giyai belum pernah mendengar apalagi melihat Sarden dan Supermie tersebut.

“Dendam” ayah Alo Giyai terbakar dan membara. Dalam perjalanan pulang ke rumah, dia bersumpah kepada Ugatame atau Tuhan bahwa dia akan menyekolahkan anak-anaknya agar bisa melihat pabrik Sarden dan Supermie di Jawa atau Belanda. Doa yang sangat sederhana namun bermakna sangat dalam.

Sejak itu dia pun dengan amat spartan memaksa anak-anaknya untuk sekolah, bagaimana pun sulitnya jalan pendidikan itu. Tidak main-main. Alo mengakui, tumitnya dan tumit saudara-saudarinya yang malas ke sekolah tidak lolos dari anak panah sang ayah. “Ayah dengan keras mendidik kami. Tidak ada satupun tumit kami yang lolos dari anak panah ayah, tatkala kami malas ke sekolah,” ungkap Dr. Aloysius Giyai, M. Kes.

Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Papua dengan susah payah, Alo kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Setelah itu, ia bekerja mulai dari tingkat paling bawah di Dinas Kesehatan Provinsi Papu, lalu secara perlahan diiringi tantangan demi tantangan, Alo menduduki berbagai jabatan penting seperti Direktur RSUD Abepura, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Direktur RSUD Jayapura.

Saat menjadi Kepala Dinas Kesehatan Papua, Aloysius Giyai menginisiasi “Pelayanan Kesehatan Kaki Telanjang” yang dia sebut Satgas Kijang. Dan studi doktoralnya tersebut mendapatkan inspirasi dari program Satgas Kijang ini.

Alo dengan perjalanan hidupnya sesungguhnya adalah inspirasi yang menggetarkan. Dan pencapaian akademik tingkat doktoral tersebut kian menegaskan bahwa semangat seorang Alo tak bisa ditaklukkan oleh apa dan siapa pun. Dia ibarat menempuh dan menembus batas-batas kemustahilan.

Selamat, dan teruslah menjadi inspirasi! (EDL)