
BOGOR – Polemik pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai Uskup Keuskupan Bogor belum juga usai. Surut sebentar, namun muncul lagi. Di sana-sini masih ada gerakan yang menyoalnya.
Kali ini Solidaritas Umat menyurati Keuskupan Bogor untuk mendorong penyikapan yang adil, transparan, dan terbuka terkait pengunduran diri Paskalis Bruno Syukur, OFM, dari jabatan Uskup Bogor. Solidaritas Umat Surati Keuskupan Bogor, Dorong Dialog Terbuka Pasca Pengunduran Diri Mgr. Paskalis.
Solidaritas Umat Surati Keuskupan Bogor, Dorong Dialog Terbuka Pasca Pengunduran Diri Mgr. Paskalis
Perwakilan Solidaritas Umat, Robertus Robet, mengatakan umat berharap Keuskupan dapat membuka ruang dialog serta mendengarkan aspirasi yang berkembang di tengah umat.
“Dengan iman yang teguh, kami berharap penyelenggaraan Ilahi yang berkarya melalui Administrator Apostolik Keuskupan Bogor dapat menuntun penyelesaian persoalan ini secara bijak, benar, dan adil,” ujar Robet dalam keterangan Solidaritas Umat, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, dialog terbuka penting untuk menjaga kepercayaan umat terhadap para gembala Gereja sekaligus menghidupi semangat sinodalitas.
“Kami berharap agar para imam dan umat dapat berjalan bersama dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan menggereja,” katanya.
Tokoh masyarakat yang juga mewakili Solidaritas Umat, Yustinus Prastowo, menilai klarifikasi yang terbuka diperlukan agar berbagai spekulasi di tengah umat dapat dihindari.
“Gereja adalah komunitas iman yang dibangun di atas kepercayaan. Karena itu, setiap persoalan yang menyangkut kepemimpinan Gereja perlu ditangani secara transparan dan adil agar kepercayaan umat tetap terjaga,” ujar Yustinus Prastowo.
Prastowo menegaskan langkah yang dilakukan Solidaritas Umat bukan untuk memperkeruh situasi, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar persoalan tersebut dapat disikapi secara jernih dan bermartabat.
“Kami berharap Keuskupan berani membuka ruang dialog yang positif dan membangun bersama umat. Tujuan kami sederhana: menjaga persekutuan umat sekaligus memastikan setiap persoalan diselesaikan secara bijak, benar, dan adil,” kata Prastowo.
“Keuskupan harus berhenti memilih sikap diam seolah membiarkan situasi saling curiga berkembang liar,” tambahnya.
Dalam surat tersebut, Solidaritas Umat juga menyampaikan sejumlah harapan kepada Christophorus Tri Harsono, antara lain membuka diri untuk mendengarkan keprihatinan umat terkait berbagai tuduhan terhadap Paskalis, membangun kembali kepercayaan umat melalui keterlibatan umat non-tertahbis dalam semangat sinodalitas, memastikan setiap pengambilan keputusan dilakukan secara akuntabel dan transparan, serta menyampaikan visi dan arah pastoral ke depan bagi kehidupan Gereja di Keuskupan Bogor.
Surat tersebut ditandatangani sekitar 50 umat Katolik dari berbagai paroki di Keuskupan Bogor. Beberapa di antaranya merupakan tokoh masyarakat, seperti Tomi Aryanto, Alexander Philiph, Agustinus Bandur, Leonardus DaSilva, Gandung Suhardono, serta Laurentius Baskara yang dikenal sebagai aktivis Orang Muda Katolik.
Sejumlah tokoh perempuan juga turut menandatangani surat tersebut, antara lain Ermelina Singereta, Angela Clark Fidela, Erika Agatha, Angelika Widiastuti, Veronica Mahal, serta Yovita Masri.
Tokoh lain yang turut berpartisipasi antara lain Siprianus Edi Hardum, Frans Asisi Datang, Justinus Robby Sodo, Isaac Frigy De Qurino, dan Andrew Leo Wijaya.
Melalui surat tersebut, Solidaritas Umat berharap Christophorus Tri Harsono dapat meluangkan waktu untuk beraudiensi guna membahas langkah-langkah konkret menindaklanjuti berbagai harapan yang disampaikan umat. (tD/*)

