Eleine Magdalena Sengkey Raih Gelar Doktor tentang Perkawinan yang Menderita

Hal yang Dr Eleine Magdalena Sengkey paling syukuri  usai berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan para penguji pada 23 Maret lalu di STFT Widya Sasana Malang adalah mendapat kesempatan studi doktoral Teologi Katolik di dalam negeri.

Mengapa? Karena sebagai perempuan dan ibu rumah tangga, jika harus studi di luar negeri, akan sangat merepotkan. Apalagi, ketua Komisi Kitab Suci Keuskupan Malang itu memiliki jadwal pelayanan yang terbilang padat. Eleine adalah salah satu awam Katolik yang laris manis menjadi pembicara dalam berbagai retret atau rekoleksi atau Kebangunan Rohani Katolik.

“Sebagai ibu rumah tangga, saya sangat bersyukur dengan adanya Prodi Teologi di STFT Widya Sasana Malang ini. Akan sangat repot kalau saya studi di luar negeri. Puji Tuhan,” kata ibu dari dua anak ini.

Mengapa? Bukankah telah banyak wanita Indonesia menyelesaikan studi doktoral di dalam negeri? Benar! Untuk berbagai disiplin ilmu, sudah sangat banyak doktor perempuan lulusan dalam negeri. Tapi, khusus doktor Teologi Katolik, Eleine baru orang keempat. Bahkan sebagai perempuan, dialah doktor perempuan pertama untuk studi Teologi Katolik lulusan Indonesia.

Hal ini terjadi karena baru pada tahun 2019 lembaga pendidikan Katolik di Indonesia untuk pertama kalinya membuka program studi doktoral bidang Teologi. Dalam hal ini STFT Widya Sasana Malang yang membuka untuk pertama kali dan mendapat dukungan dari berbagai lembaga pendidikan Katolik lainnya.

Dalam ujian doktoral tersebut, Eleine mempertahankan disertasi berjudul Aplikasi Teologi Detachment Santo Yohanes Salib dalam Perkawinan yang  Menderita di hadapan promotor Prof Dr Henricus Widyarto Gunawan (Uskup Malang) dan co promotor Prof Dr. FX Armada Riyanto (Ketua STFT Widya Sasana Malang serta para dosen penguji.

 Penderitaan dalam Perkawinan

Dalam penelitiannya, Dr Eleine mewawancarai wanita-wanita atau istri yang mengalami penderitaan dalam perkawinan mereka, namun tetap ingin mempertahankan rumah tangga mereka.

Eleine menemukan dalam penelitian dan pembahasannya bahwa Teologi Detachment Yohanes Salib relevan bagi pasangan suami-istri yang mengalami penderitaan namun ingin mempertahankan perkawinannya. Menurutnya, penderitaan perkawinan dalam terang teologi Yohanes Salib dapat menjadi pintu menuju detachment.

Tambahnya, penderitaan yang diterima sebagai bagian dari panggilan hidup berkeluarga menjadi suatu malam gelap yang memurnikan jiwa. “Malam gelap” bagi Yohanes Salib adalah enomena spiritual yang dikerjakan dalam diri manusia namun tidak dapat dilepaskan dari keberadaan eksistensial manusia.

Jelas Eleine, perjuangan manusiawi dalam menjalani panggilan hidup sebagai suami istri untuk mengatasi penderitaan dapat dilihat sebagai malam gelap aktif dan pengalaman rahmat dalam menerima penderitaan perkawinan dapat dilihat sebagai malam gelap pasif. Detachment merupakan bagian dari malam gelap.

Lebih lanjut kata Eleine, suami istri dalam perkawinan Katolik terikat secara spiritual tepat sebagaimana dimaksudkan detachment, yakni mengarahkan segalanya kepada Allah. Namun jelas penulis buku Kekasih Tuhan dan Kekasih Suami ini, jalur untuk mencapai tujuan perkawinan harus dibantu secara spiritual agar keterikatan suami istri ini benar-benar bersifat spiritual.

Dengan begitu, kesulitan-kesulitan yang dialami pasangan suami istri ini tidak menjadi penghalang untuk sebuah keterikatan dalam perkawinan, melainkan menjadikan penderitaan sebagai sarana yang mempersatukan pasangan suami istri dengan Tuhan dan sesama.

Tambah Eleine, perkawinan Katolik dibimbing oleh Rahmat Allah untuk bertransformasi menjadi manusia baru yang akal budinya diterangi oleh iman, daya ingat dimurnikan oleh pengharapan dan kehendak dikuatkan oleh kasih. Detachment inilah yang harus diupayakan oleh pasangan suami-istri agar keterikatan dalam perkawinan benar-benar menjadi keterikatan yang bersifat spiritual.

Eleine menemukan dalam penelitiannya, para istri tetap bertahan dalam penderitaan perkawinan dengan berpegang pada ajaran Injil dan ajaran Gereja. Proses dari penderitaan menuju hati yang lepas bebas dapat dilihat dalam terang teologi detachment Yohanes Salib sebagai proses menuju detachment melewati malam gelap aktif dan pasif, indrawi dan rohani.

Hasil disertasi Eleine menawarkan teologi detachment Yohanes Salib untuk menerangi penderitaan dalam perkawinan agar penderitaan yang dialami tidak sia-sia melainkan menjadi jalan pertumbuhan rohani dan kekudusan melalui penghayatan detachment.

Menurut Yohanes Salib, penderitaan manusia diakibatkan oleh akal budi, ingatan dan kehendak yang belum dimurnikan. Ketika jiwa yang mengalami penderitaan kodrati berpegang setia pada iman, harapan dan kasih, maka pada saat itulah akal budi, ingatan dan kehendak dimurnikan.

Menurut Eleine, ajaran detachment Santo Yohanes Salib dapat diaplikasikan dalam perkawinan. Baik perkawinan maupun detachment memengaruhi cara pandang, melepaskan ide yang tidak realistis, memori yang menyakitkan, menguatkan relasi suami-istri, mengarahkan kehendak kepada Tuhan dan lebih berkomitmen bagi pertumbuhan rohani din sendiri dan pasangan. (Emanuel Dapa Loka)