Ciuman Pada Altar: Ciuman Pengorbanan atau Pengkhianatan?

Oleh Pater Tuan Kopong, MSF, Refleksi dari Manila, Philipina

Setiap kali mencium altar sebelum dan sesudah misa, saya selalu berbisik dalam hati, “Semoga ciuman ini adalah penyerahan diri dan bukan pengkhianatan.”

Ya, setiap kali mencium altar saat memulai perayaan misa dan setelah misa, ingatan selalu terarah pada ciuman Yudas Iskariot kepada Yesus yang berakhir dengan pengkhianatan pada Yesus.

Ciuman pada Altar menjadi pengingat bagi saya pribadi sebagai seorang imam. Saya bukanlah orang yang paling sempurna. Mungkin saya adalah seorang imam yang paling rapuh, namun kerapuhan tidak menjadi alasan bagi saya untuk mengkhianati Yesus sang Imam Agung saya.

Setiap kali mencium altar saat hendak memulai perayaan ekaristi, saya diingatkan oleh imamat saya. Pertama, ketika saya mencium altar, saya hendak menyatukan imamat saya dengan satu-satunya imamat yang paling agung, yaitu imamat Yesus Kristus. Saya mensyukuri imamat sebagai korban persembahan hidup yang tidak bisa dihargai oleh uang sekalipun.

Bahwa sebagai imam saya membutuhkan uang, namun uang bukan menjadi tujuan dari pelayanan saya. Ketika uang menjadi tujuan dari pelayanan saya sebagai seorang imam, maka saya menjadikan imamat saya sebagai sebuah pekerjaan yang menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadi, membeli perlengkapan vlog untuk youtube dan lainnya.

Ketika uang menjadi tujuan, maka waktu saya hanya dihabiskan untuk pekerjaan yang menghasilkan dengan mengatasnamakan pelayanan, namun saya sendiri justru melupakan Yesus. Tidak memberikan sedikit waktu untuk-Nya melalui doa dan refleksi pribadi. Dan ketika itu terjadi maka saya menjadi seorang “pengkhianat” yang mengkhianati Yesus dengan tidak menghidupi kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian secara baik dan benar.

Kedua, ketika saya mencium altar, saya hendak menyatukan semua umat dalam satu perjamuan. Membawa mereka untuk ikut mencium Yesus, yaitu menyatukan hidup mereka dengan persembahan hidup Kristus.

Setiap kali mencium altar, saya selalu diingatkan bahwa saya bisa menjadi alasan yang mempersatukan umat dengan berpegang tegas pada prinsip dan lembut pada cara. Artinya, mempersatukan umat bukan berarti menjadi seorang imam “murahan” yang mudah didikte oleh umat dan mengikuti kemauan mereka, melainkan menjadi imam yang punya prinsip namun juga menjadi teladan pengorbanan.

Di sisi lain, saya juga bisa menjadi alasan umat meninggalkan Gereja ketika tidak lagi merasakan kehadiran wajah Yesus melalui pengorbanan dalam pelayanan saya. Atau menjadi alasan bagi mereka untuk meninggalkan Gereja ketika saya hanya mendekati mereka yang “kaya” dan menjaga jarak dengan yang “miskin.”

Demikian juga setiap kali mencium altar setelah Pengutusan dalam misa, saya merasakan ada sukacita dan kekuatan bahwa ciuman ini menjadi misi bagi saya untuk membawa altar lebih dekat kepada umat, mencium dan merasakan aroma hidup mereka melalui sapaan, kunjungan ataupun cerita tanpa membeda-bedakan.

Dengan membawa altar lebih dekat kepada mereka, merekapun ikut mencium atau merasakan aroma pelayanan saya; “apakah pelayanan saya adalah sebuah pengkhianatan atau pengorbanan yang berbau domba atau berbau “parfum”.

Dengan mencium altar, saya diingatkan bahwa altar menjadi saksi penciuman saya, yaitu ciuman pengorbanan yang tidak menjadikan uang, relasi dan kekayaan menjadi ukuran pelayanan saya atau menjadi ciuman pengkhianatan yang menjadikan uang, relasi dan kekayaan sebagai ukuran pelayanan saya yang justru menjauhkan Yesus dari kehidupan saya dan mendiskriminasi umat yang lain karena mereka yang merasakan aroma parfum dan bukan aroma domba.

Maka bagi saya, pembaruan janji imamat adalah mempersembahkan imamat suci yang adalah anugerah Allah di atas altar, dan melalui imamat itu membawa umat untuk lebih dekat dengan Altar pengorbanan Kristus dan membawanya ke tengah-tengah kehidupan mereka melalui pelayanan tanpa ukuran apapun.

Renungan menjelang Misa Krisma dan Pemberkatan Minyak (28-Maret, 2024)