Surat untuk Para “Tuan” Palestina: “STOP Lecehkan Indonesia!”

Oleh Tuan Kopong MSF, dari Manila, Philipina

Ketika gelombang dukungan untuk Palestina didasarkan pada agama dengan kemasan kemanusiaan, maka kita menjadi “penjajah” atas Republik kita sendiri, yaitu Indonesia.

Dan itu yang sekarang sedang terjadi di Republik Indonesia. Keluarnya FATWA MUI soal haram beli produk Israel (https://www.cnbcindonesia.com/news/20231111071847-4-488210/isi-lengkap-fatwa-mui-soal-haram-beli-produk-israel) menjadi penunjuk jelas bahwa dukungan kepada Palestina bukan murni gerakan nurani kemanusiaan melainkan karena dan atas nama agama.

Dengan mengeluarkan FATWA tersebut, MUI tidak sadar akan dampak negatif yang dihadapi oleh para penjual dan pembeli, yaitu amburknya usaha mereka.

Seakan-akan bahwa dengan mengeluarkan FATWA tersebut Palestina langsung merdeka dan serentak menjadikan kemiskinan semakin bertambah di rahim pertiwi karena ketika pemerintah mengikuti FATWA tersebut maka para pengusaha akan ambruk dan sekian tenaga kerja akan kehilangan pekerjaan dan para pembelipun kesulitan membeli barang-barang.

Singkatnya, dengan adanya FATWA tersebut, MUI menjadi pahlawan bagi Palestina  atas nama agama dan membiarkan penderitaan yang akan terjadi di Republik ini. Silakan mendukung, namun jangan “merusak” kesejahteraan Republik ini.

Di tempat lain ada sekelompok pendukung Palestina yang mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina secara bersama-sama seraya menyanyikan lagu Indonesia Raya. Niat hati mendukung kemerdekaan Palestina, namun serantak melecehkan martabat Indonesia.

Mengibarkan bendera Palestina secara bersama-sama dengan bendera Indonesia, mereka sedang menunjukan bahwa Palestina adalah Indonesia dan Indonesia adalah Palestina. Sebuah penyejajaran yang melecehkan martabat dan wibawa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat.

Silahkan memberikan dukungan bagi Palestina, namun stop melecehkan martabat dan wibawa kedaulatan bangsa Indonesi. Karena setiap pilihan dan dukungan berdasarkan agama dalam kemasan kemanusiaan pada gilirannya hanya menodai dan melecehkan dukungan itu sendiri karena pada gilirannya menjadi nyata bahwa dengan dukungan itu kalian menjadi “tuan atau pahlawan” Palestina namun “penjajah” bagi bangsa sendiri.

Manila, 13 November 2023