Ciuman Pada Salib Kristus: Ciuman Cinta Atau Pengkhianatan?

 

Oleh Pater Tuan Kopong MSF, Dari Manila, Philipina

“Sahabat sering menjadi musuh yang mengkhianati. Ketika kita tidak ada masalah, mereka mengenal kita, bahkan tampak sangat karib. Itulah sahabat yang tidak sejati, akan pergi tatkala kita dalam masalah”.

Pengalaman seperti itu juga yang dialami oleh Yesus. Ketika Yesus belum menghadapi penderitaan dan salib, para murid selalu bersama dengan-Nya. Namun ketika Dia mulai menghadapi penderitaan dan salib, Dia ditinggalkan, dikhianati dan yang lain melarikan diri mencari keselamatan sendiri.

Yesus menderita di kayu Salib, bermula dari ciuman salah satu murid Yesus yaitu Yudas Iskariot. Ciuman Yudas Iskariot bukanlah ciuman cinta seorang murid pada Gurunya melainkan ciuman pengkhianatan karena Yudas memilih mencari kenyamanan dan keselamatan sendiri.

Pada hari ini kita semua menghormati Salib Kristus dengan menciumnya. Namun ada satu pertanyaan untuk kita: “Apakah ciuman kita itu adalah ciuman kasih atau ciuman pengkhianatan?”

Ciuman kita menjadi ciuman kasih jika kita tidak meninggalkan Yesus, apapun kesulitan dan persoalan yang kita hadapi. Demikian juga dalam kehidupan sesama kita, jika kita tidak meninggalkan mereka ketika mereka menghadapi masalah, melainkan menolong mereka dan mengungkapkan solidaritas Kristus kepada mereka, itu adalah ciuman Cinta.

Sebaliknya ciuman kita menjadi ciuman pengkhianatan atau ciuman Yudas ketika karena persoalan dan kesulitan serta karena uang dan materi kita meninggalkan Yesus. Atau berhadapan dengan penderitaan sesama kita, kita membiarkan mereka maka itu adalah ciuman pengkhianatan.

Pada hari ini, di banyak tempat dilaksanakan Tablo atau Jalan Salib Hidup. Dan banyak orang pasti menangis. Namun apakah kita juga menangis ketika melihat penderitaan sesama kita? Seringkali kita justru tidak peduli dengan mereka, mengucilkan mereka dan bahkan menertawai mereka. Apakah kita juga menangisi diri kita sendiri atau kesalanan kita? Karena kesalanan kita, Yesus dipaku dan dibunuh Salib, namun kita tidak mau bertobat. Mungkin tangisan kita hari ini menjadi tangisan orang-orang munafik.

Kita menangis karena sebuah “drama”, namun apakah kita menangis karena penderitaan sesama dan gereja atau paroki kita? Seringkali kita tidak menangisi gereja atau paroki kita yang sedang kesulitan namun kita lebih banyak mengeluh tentang kesulitan dan penderitaan gereja dan paroki kita.

Yesus meminta kita untuk tidak menangisi diri-Nya, tetapi menangisi diri sendiri, menangisi kesalahan  kita sendiri agar membuahkan pertobatan dan solidaritas pada sesama serta paroki kita.

Yesus sudah mengajarkan kepada kita bahwa SalibNya adalah ciuman Kasih dan Solidaritas bagi kita semua. Kita yang berdosa, namun kita tidak ditinggalkan oleh Yesus melainkan Dia mencium kita dengan tulus hati dan memeluk kesalahan kita dengan penuh Kasih.

Ciuman kita pada Salib Kristus menjadi ciuman Cinta kepada Yesus ketika kita selalu memegang teguh komitmen dan kesetiaan mengikuti Jalan Salib Yesus apapun persoalan dan kesulitan yang kita hadapai. Sebaliknya ciuman kita pada Salib Yesus menjadi ciuman pengkhianatan ketika karena kesulitan dan masalah yang dihadapi kita kehilangan komitmen dan kesetiaan mengikuti Jalan Salib Yesus.