Sun. Jul 21st, 2024

Rivers of Babylon, Lagu Berlirik Ratapan, Namun Bernada Gembira

Sangat mungkin Pembaca pernah mendengar lagu Rivers of Babylon. Sekilas, dari nada dan bit-nya yang cepat, lagu ini terasa sebagai lagu riang gembira, bahkan bisa mengajak orang untuk bergoyang, atau  menari. Namun, kalau dilihat dari liriknya, lagu  ini adalah nyanyian ratapan, pujian dan harapan bangsa Israel di tanah Babilon. Mereka dibuang  oleh Nebukadnezar II pada tahun 586 SM. Liriknya diadaptasi dari Mazmur 137: 1-6.

Cermatilah lirik lagu tersebut:

By the rivers of Babylon, there we sat down
Di tepi sungai Babel, di sanalah kita duduk
Ye-eah we wept, when we remembered Zion.
Kita menangis, saat kita mengingat Sion.

When the wicked
Saat si jahat
Carried us away in captivity
Membawa kita ke penangkaran
Required from us a song
Diperlukan dari kami sebuah lagu
Now how shall we sing the lord’s song in a strange land
Sekarang bagaimana kita bisa menyanyikan lagu tuanku di negeri asing

When the wicked
Saat si jahat
Carried us away in captivity
Membawa kami ke penangkaran
Requiering of us a song
Membutuhkan kita sebuah lagu
Now how shall we sing the lord’s song in a strange land
Sekarang bagaimana kita bisa menyanyikan lagu tuanku di negeri asing

Let the words of our mouth and the meditations of our heart
Biarkan kata-kata dari mulut kita dan renungan hati kita
be acceptable in thy sight here tonight
Bisa diterima di depan matamu di sini malam ini

Let the words of our mouth and the meditation of our hearts
Biarkan kata-kata dari mulut kita dan meditasi hati kita
Be acceptable in thy sight here tonight
Bisa diterima di depan matamu di sini malam ini

By the rivers of Babylon, there we sat down
Di tepi sungai Babel, di sanalah kami duduk
Ye-eah we wept, when we remembered Zion.
Kita menangis, saat kita mengingat Sion.

Sungai Babilon

Zaman Penindasan

Tentu saja lagu ciptaan Brent Dowe dan Trevor McNaughton tersebut belum ada pada zaman penindasan itu. Pertanyaannya, mengapa kedua pencipta dari grup reggae Jamaika The Melodians pada tahun 1970 itu terinspirasi membuat lagu dengan lirik tersebut?

Pengalaman Jamaika berada di bawah penjajahan bangsa-bangsa secara silih berganti, beda-beda tipis dengan yang dialami oleh bangsa Israel. Sebuah bangsa terjajah pasti kehilangan kebebasan, independensi, keinginan pribadi, terbelenggu dalam kebodohan, keterbelakangan dan sebagainya.

Invasi Jamaika berlangsung pada Mei 1655  di masa Perang Inggris – Spanyol tahun 1654-1660. Dalam invasi ini, pasukan ekspedisi Inggris berhasil merebut koloni Spanyol di Jamaika (pada masa itu disebut “Santiago”). Penyerangan ini merupakan bagian dari rencana ambisius Oliver Cromwell untuk memperoleh koloni baru di benua Amerika; rencana ini disebut Rancangan Barat (Western Design).

Walaupun permukiman-permukiman besar seperti Santiago de la Vega (kini disebut Spanish Town) lemah perlindungannya dan dapat dengan mudah diduduki oleh Inggris, perlawanan dari para budak yang melarikan diri (atau kelompok Maroon Jamaika) terus berlanjut di wilayah pedalaman.

“Rancangan Barat” sendiri terbilang gagal, tetapi Jamaika tetap dijajah Inggris dan secara resmi diserahkan oleh Spanyol sesuai dengan ketentuan Perjanjian Madrid (1670). Koloni Jamaika tetap dijajah Inggris hingga negeri tersebut memperoleh kemerdekaannya pada 1962.

Banyak hal menyakitkan baik pada bangsa Israel maupun Jamaika. Pengalaman yang sangat menyakitkan bagi bangsa Israel, mereka dipaksa mengikungkan Mazmur untuk memuji Raja Babel, padahal bagi mereka, Mazmur adalah nyanyian sakral, untuk Tuhan. Dan ini membuat mereka berontak, merasa terasing sambil meratap memperjuangkan harga diri di tanah penindasan. Dalam keadaan ini, kerinduan mereka terhadap Yerusalem atau Sion semakin memuncak. Bagi mereka, di Yerusalemlah adalah sukacita.

Menangkap Spirit

Pencipta lagu Rivers of Babilon benar-benar menangkap spirit atau roh dari perjuangan dan gairah yang bergelora di antara bangsa Israel dalam situasi terjajah.

Pertanyaan lanjutannya, “Mengapa lagu bersyair meratap tersebut mereka (Jamaika) nyanyikan dengan riang gembira?” Karena dalam keadaan ditindas, bergemuruh semangat perjuangan dan harapan. Dari perpaduan rasa tertindas dan harapan akan “Yerusalem” itulah muncul sukacita sebagai semangat perjuangan. Ya, mereka berjuang dengan sukacita. Dari Alkitab, mereka beroleh ide untuk perjuangan mereka.

Lagu Rivers of Babylon dipopulerkan kembali di Eropa dengan versi sampul Boney M tahun 1978, yang dianugerahi cakram platinum dan merupakan salah satu dari sepuluh single terlaris sepanjang masa di Inggris.

Di Rastafari, “Zion” berarti utopis tempat persatuan, perdamaian dan kebebasan, berbeda dengan “Babilonia”, sistem yang menindas dan mengeksploitasi dunia modern yang materialistis dan merupakan tempat kejahatan.

Tahun 1978, lagu ini dicover oleh grup disko Boney M dan menjadi populer. Boney M dalam versi mereka, menanggalkan atribut-atribut Rastafarian yang terselip dalam lagu itu, dan secara murni hanya menampilkan lirik yang benar-benar dikutip dari Alkitab.

Dengan demikian, lagu ini tidak ditujukan pada suatu gerakan tertentu, dan dapat diterima oleh orang yang mengenal tulisan tentang hal itu dalam Alkitab. Sebelum itu, pada tahun 1931 ada lirik ciptaan Harry Partch, yang pada masanya dibawakan secara deklamasi dengan iringan musik dengan puisi dari Mazmur 137 : 1 – 6 atau By The Rivers Of Babylon. (Emanuel Dapa Loka/dbs)

 

Related Post