Belajar dari Wawan yang Berani Lawan Tumor Otak

“Saat kamu merasa lemah dan putus asa, jangan biarkan keadaan itu menguasaimu. Ingat! Tuhan selalu memberi kekuatan.”

Panggilannya Wawan. Nama lengkapnya Robertus Mulyawan (45 tahun). Dia telah tiada karena dipanggil Tuhan pada 5 Oktober 2023 di RS Sin’t Carolus Jakarta setelah mengidap tumor otak selama beberapa tahun. Ditemani dengan setia oleh Ibu dan istrinya, sekitar 3 bulan sebelum dipanggil Tuhan, Wawan hanya berbaring di RS Carolus dengan kondisi dan kesadaran yang makin lama makin menurun.

Dua minggu sebelum kepulangannya ke rumah Bapa, Bu Vani Widjaja istrinya dan Bu Etty Kurniawati ibunya berusaha memanggil-manggil namanya sambil memberi tahu bahwa seri ketiga bukunya yang berjudul The Forgotten telah terbit. Sang istri menggenggamkan buku tersebut di tangannya. Ada respon dan senyum tipis di bibirnya. Amazing!

Dan memang, sebelumnya, dengan kesadaran yang sudah sangat menurun, Wawan masih sempat menanyakan penerbitan buku seri ketiganya tersebut. Khawatir ada ”apa-apa” pada Wawan, proses penerbitan buku tersebut dipercepat, secepat-cepatnya. Akhirnya Wawan sempat ”menimang” buku tersebut. Puji Tuhan.

Buku Trilogi “The Forgotten” simbol keberhasilan Wawan melawan tumor otak.

Yang luar biasa, ketiga buku The Forgotten tersebut ia hasilkan di saat ia menderita tumor otak yang antara lain menyebabkannya kehilangan pengelihatan secara total. Untuk mengerjakan buku tersebut, dia hanya mengandalkan daya ingat dan kekuatan analisis. Beruntung dia memiliki seorang sepupu (Onny) yang setia mendengar dia berkisah tentang berbagai hal, terutama kisah-kisah lama yang sudah tidak pernah dibicarakan atau sudah terlupakan, lalu menyalin apa adanya.

Onny tercengang mendengar banyak cerita langka. Memang sebelumnya, Wawan dikenal sebagai kutu buku dan ”tukang cerita”. Yang membuat Onny semakin heran, ketika cerita-cerita yang Wawan sampaikan dia konfirmasi di internet, semuanya ada. Uniknya, Wawan kisahkan cerita-cerita itu setelah lama tidak membaca. Berbagai data semisal nama-nama, tahun yang menyertai kisah-kisah itu terbilang akurat, setidaknya setelah dicek di internet. Rasa humornya pun masih terasa.

Agar kisah-kisah berharga yang keluar dari otak brillian itu tidak hilang begitu saja, sang ibu mencari editor untuk bisa menggarap menjadi buku.

Walau Wawan memiliki warisan lain untuk keluarga, ketiga buku tersebut boleh dikatakan merupakan peninggalan yang menempati tempat tersendiri di hatinya, sampai ia mengembuskan napas terakhirnya.

Wawan adalah kelas orang yang pantang menyerah. Tumor otak tidak mampu menghentikannya dari semangat untuk terus berkarya menggunakan otaknya yang sudah cidera oleh hantaman tumor. Prinsip Wawan, sebelum tumor merampas seluruh otaknya, dia tetap berjuang menggunakannya.

Jika Pembaca berkesempatan membaca ketiga seri The Forgotten tersebut, Pembaca akan merasakan getaran semangat seorang yang berada dalam impitan yang nyaris membuatnya tidak berkutik, namun tetap bertarung menghasilakan sesuatu yang bernilai bagi dunia literasi.

Akan terasa pula getaran cinta seorang ibu dan sang istri yang setia memberi hati dan cinta kepada kekasih mereka yang dalam deraan sakit.

Sampai akhir hayatnya, seperti dikatakan di atas, oleh karena kesadarannya yang semakin menurun, dia ”tidak merasakan” lagi sakitnya, tapi dia tetap bisa mengingat buku karyanya. Dan sekali  lagi, puji Tuhan, dia sempat ”menimang anak bungsunya” tersebut sebelum pulang ke kediaman abadinya.

Karena semangat dan cintanya, Wawan telah menjelma menjadi The Unforgotten. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa serial buku The Forgotten adalah simbol keberhasilan Mas Wawan mengalahkan tumor otak

Wawan yakin dan diteguhkan oleh ungkapan  “Saat kamu merasa lemah dan putus asa, jangan biarkan keadaan itu menguasaimu. Ingat! Tuhan selalu memberi kekuatan.”

Selamat pulang ke rumah Bapa, Mas Wawan. Jejak literasi dan ketangguhan pribadi yang dikau perlihatkan dan tinggalkan telah menjadi warisan bernilai tinggi dan tak terlupakan. Kami hendak belajar dari semangatmu. Requiescat in Pace. (Emanuel Dapa Loka)