MERAWAT KEPEKAAN HATI KAUM MUDA

Oleh Maria Imakulata Tamo Ina, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Katolik Weetebula, Sumba-NTT

Perkembangan alat teknologi komunikasi dan  informasi merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa dibendung.

Daya pengaruh teknologi komunikasi terus menyusup masuk bukan hanya ke ruang publik, tetapi juga ke ruang privasi.

Jika dahulu manusia kesulitan untuk menyaksikan berita, menonton film, dan mengakses informasi lain, sekarang cukup di dalam kamar dengan bermodalkan handphone (HP), pulsa internet dan jaringan yang lancar, maka semua informasi bisa diperoleh dengan sangat mudah dan sangat cepat.

Handphone yang dimaksud di sini adalah Handphone android yang lengkap dengan fitur-fitur dan aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan oleh manusia untuk menyimpan data, pengoperasian aplikasi yang mendukung pekerjaan, dan sebagai sarana hiburan contohnya aplikasi Facebook, WA, Instagram, Game online dan sebagainya.

Kehadiran alat teknologi komunikasi yang semakin canggih dalam kehidupan manusia khususnya kaum muda memberikan dampak yang sangat besar. Adapun dampak positif dari perkembangan alat teknologi komunikasi tersebut bagi kaum muda adalah teknologi menyiapkan berbagai wahana yang dapat mempermudah dan mempercepat komunikasi antar individu di mana handphone tersebut bisa mendekatkan yang jauh tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu.

Handphone memudahkan siapa saja, termasuk kaum muda dalam mengakses berita-berita terkini dan berbagai jenis pengetahuan yang dibutuhkan. Selain memiliki dampak positif, perkembangan dan penggunaan alat teknologi komunikasi (handphone) juga mempunyai dampak yang negatif. Dampak negatif penggunaan alat teknologi komunikasi yang berlebihan (adiktif) oleh manusia khususnya kaum muda adalah lemahnya kepekaan hati dalam dirinya terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya.

Perlu Kepekaan

Kepekaan merupakan kesanggupan seseorang bereaksi terhadap suatu keadaan atau situasi. Orang yang memiliki kepekaan hati adalah orang yang bisa membaca kondisi lawan bicaranya.

Contoh konkret yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang menandakan rendahnya kepekaan hati kaum muda adalah ketika kaum muda melihat orang tua sibuk bekerja, tetapi mereka memilih acuh tak acuh dan sibuk bercengkrama dengan dunianya sendiri dengan cara bermain HP/gadget tanpa harus membantu orang tuanya.

Selain itu, ketika ada orang yang sangat membutuhkan bantuan, ada kaum muda yang tidak membantu karena mereka  sibuk  dengan dunianya sendiri, yakni sibuk dan asyik bermain handphone. Selain rendahnya kepekaan hati kaum muda akibat penggunaan alat teknologi komunikasi (handphone) yang intens, juga menyebabkan kaum muda sering bertindak dan bertutur tanpa harus melibatkan dan mendengarkan suara hati apakah perbuatan tersebut sesuai dengan moral yang berlaku atau tidak. Fakta yang dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari ketika kaum muda menemukan ada sesuatu yang tidak disukai dalam diri teman/kerabat, dan lebih memilih untuk membeberkan dalam media sosial.

Berlomba Menyindir

Hal ini dapat kita saksikan dalam Facebook, WhatsApp, Instagram bahwa kaum muda zaman sekarang berlomba-lomba untuk saling menyindir dan mengeluarkan kata-kata kasar terhadap sesamanya tanpa harus mempertimbangkannya dengan hati  nurani.

Paus Fransiskus dalam rangka Hari Komunikasi Sedunia yang ke-57, mendorong umat Kristiani untuk peka terhadap kebutuhan sesama, yakni kebutuhan untuk saling mendengarkan satu sama lain.

Kepekaan untuk mendengarkan satu sama lain merupakan persembahan yang paling berharga dan menghidupkan yang dapat kita berikan satu sama lain. Kepekaan hati berarti mendengarkan bisikan suara hati dan melaksanakannya dengan setia.

Dengarkan dengan Hati

Paus Fransiskus juga mendorong kaum muda untuk selalu bertindak dan bertutur dengan melibatkan dan mendengarkan hati. Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan.

Dalam Katekismus Gereja Katolik ditegaskan bahwa suara hati adalah keputusan akal budi, di mana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah dilaksanakan, baik atau buruk secara moral (KGK 1778).

Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan negatif sebagaimana yang telah disebutkan merupakan perbuatan-perbuatan yang menunjukkan rendahnya kepekaan hati kaum muda untuk brsikap dan bertindak yang baik secara moral.

Paus Fransiskus menginginkan agar kita, termasuk kaum muda, bisa berkomunikasi dari hati ke hati karena kaum muda pun dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih.

Dalam rangka mendidik suara hati dan melatih kepekaan hati, kaum muda perlu menggunakan alat teknologi komunikasi dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Kaum muda jangan gunakan alat teknologi komunikasi (handphone) sebagai media untuk mengungkapkan sikap dan perilaku yang tidak sesuai dengan suara hati.

Sebarkan Nilai Kebaikan

Gunakalah alat teknologi komunikasi untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan manfaatkan alat teknologi komunikasi untuk belajar apa saja yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.  Apabila kaum muda menggunakan alat teknologi komunikasi secara bijaksana dengan menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran di antara sesame kaum muda, nilai-nilai kebaikan dan kebenaran akan tertanam dan berakar dalam hati para kaum muda.

Dengan demikian, alat teknologi komunikasi seperti handphone menjadi sarana untuk merawat kepekaan hati kaum muda. Kepekaan hati itulah yang menentukan kualitas sikap, tindakan dan tutur kata kaum muda di dunia nyata dan di dunia maya.