Suara Hati: Landasan Perilaku Pro Sosial Remaja

Oleh Giovanca Yusmardinca Utomo, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Katolik Weetebula, Sumba-NTT

Perilaku pro sosial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif bagi penerima, baik dalam bentuk materi, fisik maupun psikologis, tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi orang yang memberi pertolongan. Perilaku prososial mencakup berbagi, kerja sama, menyumbang, menolong, kejujuran, berderma dan mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain (Dayakisni & Hudaniah, 2009).

Menurut Staub (1978) ada tiga indikator yang menjadi tindakan prososial, yaitu: pertama, tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku; kedua, tindakan itu dilahirkan secara sukarela; dan ketiga, tindakan itu menghasilkan kebaikan. Di era modern ini, dengan maraknya berbagai kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, perilaku prososial dari remaja sudah perlahan-lahan diabaikan.

Perilaku pro sosial semacam itu sudah mulai diabaikan oleh remaja karena keberadaan dan penggunaan alat teknologi komunikasi, seperti handphone. Teknologi yang dimaksudkan, yaitu teknologi komunikasi seperti handphone atau smartphone.

Keberadaan alat komunikasi seperti smartphone, yang dilengkapi dengan berbagai aplikasi media sosial menyebabkan remaja zaman sekarang mulai mengabaikan sikap jujur, tolong-menolong dan kerjasama.

Abaikan Keutamaan

Dalam kehidupan sehari-hari, ada remaja yang mengabaikan sikap menolong-menolong dan kerjasama karena lebih mementingkan bermain handphone. Remaja cenderung mengabaikan sikap menolong dan kerjasama, kejujuran, entah  kepada orang tua atau pun kepada orang lain.

Kalau pun remaja berperilaku prososial, tidak semuanya karena motivasi internal, melainkan karena dipaksakan dari luar oleh pihak lain.

Dalam hubungan dengan penggunaan media sosial, ada remaja yang mengabaikan salah satu wujud perilaku prososial, yakni kejujuran.

Salah satu wujud ketidakjujuran yang dilakukan oleh remaja adalah menyebarkan informasi atau berita bohong (hoax) melalui facebook, whatsapp, instsgram dan sebagainya. Penyebaran berita palsu atau bohong memperlihatkan rendahnya perilaku propsosial.

Dalam kaitan dengan perilaku pro sosial, Paus Fransiskus dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 menegaskan bahwa umat Kristiani, termasuk kaum remaja, harus berani untuk mengomunikasikan kebenaran dengan kasih.

Seseorang perlu menyucikan hatinya agar ia mampu mengomunikasikan kebenaran dengan kasih.  Hanya dengan mendengarkan dan berbicara melalui hati yang murni, kita dapat melihat, melampaui apa yang tampak dan dapat mengatasi suara-suara tidak jelas yang dalam hal informasi.  Paus Fransiskus menekankan peran hati.

Berbicara dengan hati membuat setiap orang, termasuk remaja tidak mudah mengeksploitasi kebenaran dan menyebarkan berita palsu.

Paus menghimbau kita agar dapat mempertahankan nilai kejujuran. Selain itu, melalui berbicara dengan hati, kita menjadi peka terhadap sesama di sekitar kita dan tidak mengabaikan sesama yang membutuhkan pertolongan.

Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat dan mendengarkan. Dengan perkataan lain, hatilah yang mendorong kita untuk dapat bersikap dan bertindak dengan baik.

Suara Hati

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK art. 1778) ditegaskan bahwa suara hati adalah keputusan akal budi, dimana manusia mengerti apakah suatu perbuatan konkret yang ia rencanakan, sedang laksanakan, atau sudah dilaksanakan, baik atau buruk secara moral.

Perilaku berbagi, kerjasama, menyumbang, menolong, jujur, berderma dan menghargai hak dan kesejahteraan orang lain merupakan perilaku prososial yang bersumber dari hati yang murni

Perilaku sosial semacam ini merupakan perilaku yang terpuji dan baik secara moral.  Dalam konteks pembentukan perilaku prososial remaja, para remaja hendaknya menggunakan alat teknologi komunikasi dengan baik dan bijaksana sehingga alat teknologi komunikasi tidak menjauhkan remaja dari sikap dan perilaku prososial. Sebaliknya, alat teknologi komunikasi (handphone atau smartphone) digunakan untuk menyebarkan berita, opini,video atau apa pun yang menginspirasi orang lain, khususnya sesama remaja untuk mengembangkan perilaku prososial.

Penggunaan alat teknologi komunikasi yang berlandaskan suara hati akan memampukan remaja untuk bersikap dan berperilaku prososial.