DARI HATI MENUJU KOMUNIKASI YANG RAMAH

Oleh Nikodemus Longo Woli, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Unika Weetebula, Sumba, NTT

Komunikasi yang ramah merupakan sebuah kondisi yang diharapkan oleh setiap manusia karena komunikasi yang ramah sungguh menyenangkan dan membahagiakan orang-orang yang terlibat dalam komunikasi itu.

Komunikasi yang ramah adalah cara kita berbicara yang baik dengan lawan bicara tanpa harus menyinggung perasaan orang lain.

Komunikasi yang ramah juga merupakan suasana yang sangat disenangi oleh setiap orang karena komunikasi yang ramah akan semakin mempererat relasi antarpribadi.

Selain itu, komunikasi yang ramah tentunya membawa dampak yang baik untuk kita dimana kita mudah diterima dan dijadikan sahabat oleh siapa saja yang berjumpa dan berkomunikasi dengan kita.

Komunikasi yang ramah ditunjukkan lewat tutur kata yang sopan, tidak berbicara kotor dan tidak menyinggung perasaan lawan bicara kita.

Dengan komunikasi yang ramah, secara tidak langsung, kita mengajak orang untuk masuk dalam suasana kegembiraan hati kita.

Komunikasi yang ramah atau tidak ramah bersumber dari hati, sebagaimana yang diungkapkan oleh Yesus: “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Lukas 6:45).

Pengalaman dalam kehidupan sehari-hari memperlihatkan bahwa komunikasi yang ramah makin hari semakin merosot, terutama di era berkembangnya teknologi komunikasi ini.

Kondisi ini mendorong Paus Fransiskus untuk mendesak umat Kristiani untuk mengembangkan budaya komunikasi yang ramah, yakni sebuah komunikasi yang bersumber dari hati.

Dengan kata lain, Paus Fransiskus mendorong umat Kristiani untuk berbicara dengan hati karena dalam hati ada kebenaran dan kasih.

Sejauh yang saya amati atau yang saya alami, masih banyak orang-orang yang mampu berkomunikasi dengan ramah terhadap lawan bicaranya.

Komunikasi yang tidak ramah tidak hanya terjadi dalam komunikasi langsung di dunia nyata, tetapi juga terjadi dalam dunia maya. Dunia media tidak jarang dijadikan sebagai ruang untuk berbicara kasar, saling sindir, saling hujat dan saling ancam serta menjadi wadah untuk mengungkapkan kebohongan dan kebencian.

Situasi komunikasi seperti ini menunjukkan  rendahnya komunikasi yang ramah. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef 4:29).

Pesan senada diungakpkan oleh oleh Paus Fransiskus dalam pesannya pada Hari Komunukasi Sosial Sedunia ke-57 pada tanggal 21 Mei 2023.

Paus Fransiskus mendesak kita untuk berkomunikasi dengan ramah. Komunikasi yang ramah menjadi penangkal ampuh terhadap sesuatu yang dapat meracuni hati dan relasi manusia, yaitu kekejaman.

Selain itu, kebanyakan pengguna gadget (gawai) sekarang ini kurang menaruh rasa hormat terhadap lawan bicara ketika berkomunikasi dengan sesama yang ada bersama dengan mereka.

Ketika berkomunikasi dengan orang lain, mereka cenderung berfokus pada gadget (gawai) dan menikmati berbagai fitur yang disediakan daripada merespon dengan baik lawan bicaranya. Perilaku seperti ini tentu menutup komunikasi yang ramah dan tidak menyenangkan.

Dalam kasus ini, kehadiran gadget  dan penggunaannya yang cenderung sulit untuk dikendalikan dapat merusak relasi pertemanan dan mengganggu komunikasi tatap muka yang merupakan pola relasi antarpribadi yang paling asli dan hakiki.

Dengan kata lain, kehadiran dan penggunaan gadget  mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Komunikasi yang ramah merupakan tuntutan panggilan dari setiap orang Kristiani. Semua orang Kristiani dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih.

Dalam menjalankan tugas panggilan itu, umat Kristiani didesak untuk menjaga dan mengendalikan lidah dari yang jahat (bdk. Mzm. 34: 14).

Tindakan Konkret

Apa yang perlu kita lakukan sebagai umat Kristiani untuk membangun komunikasi yang ramah?

Pertama, kita perlu menata hati kita,  dan peka terhadap suara hati kita sebagai sumber kebenaran dan kasih agar kita mampu berkomunikasi dengan ramah.

Kedua, ketika sedang berkomunikasi dengan orang lain, kita usahakan untuk saling mendengar satu sama lain dan berbicara dengan rasa hormat sehingga siapa saja yang berjumpa dan berkomunikasi dengan kita mengalami kegembiraan.

Ketiga, hindari “bahasa kotor” dalam berkomunikasi sebagaimana yang diajarkan oleh Rasul Paulus: “Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Keempat, jadikan media sosial sebagai wadah untuk menuangkan kelembutan cinta dan kebenaran, bukan sebagai ruang untuk melampiaskan amarah, kekesalan, dan kedengkian yang mengarah pada permusuhan dan kekejaman.

Saling Hargai dalam Komunikasi

Komunikasi yang ramah sangatlah penting bagi kita semua di mana kita bisa saling menghargai. Komunikasi yang ramah tidak hanya menyenangkan hati, tetapi juga mendatangkan kasih karunia.

Kita perlu meneladani gaya berkomunikasi Yesus yang ramah ketika Ia berbicara dengan para murid-Nya dalam perjalanan menuju Emmaus sesudah tragedi di Golgota. Yesus berbicara dari hati sambil dengan rasa hormat menemani kedua murid-Nya yang sedang mengalami kekecewaan dan kehilangan harapan.

Komunikasi yang ramah hanya muncul dari hati yang penuh rasa hormat dan cinta. Siapa pun mendengarkan pembicaraan kita dan membaca tulisan kita akan melibatkan kita dalam berbagai situasi kehidupan mereka.

Kita sebagai umat Kristiani diajak dan bahkan didesak untuk berbicara dengan hati, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, karena hanya dari hati yang berisi kebenaran dan kasih, komunikasi yang ramah akan dinikmati oleh setiap orang yang berjumpa dengan kita.