JANGAN BERHENTI BERBICARA JUJUR!

                               Oleh Anjela Putri Umbu Pati, Mahasiswa Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Katolik Weetebula, Sumba-NTT

Paus Fransiskus dalam pesannya pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 mendesak umat Kristiani untuk berbicara dengan hati dalam komunikasi dengan sesama.

Berbicara dengan hati artinya berbicara secara jujur, ikhlas, dan penuh kasih sayang. Dalam hubungan dengan hati,  Konsili Vatikan II menegaskan bahwa hati nurani adalah inti yang paling rahasia, sanggar sucinya; di situ ia seorang diri bersama Allah (Gaudium et Spes 16).  Dengan demikian, hati nurani merupakan titik pusat manusia yang terdalam, yang tidak bisa diselami dan dilihat oleh orang lain, kecuali pergumulan dan pengalaman sendiri bersama Allah.

Salah satu aspek dari berbicara dengan hati adalah berbicara secara jujur. Berbicara jujur berarti menyampaikan kebenaran berdasarkan suara hati, menyatakan yang sebenar-benarnya dan tidak berbohong.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai orang-orang yang berbicara jujur  dalam menyampaikan kebenaran kepada kita, tetapi ternyata kita kurang sadari dan bahkan abaikan karena mungkin kebenaran yang disampaikannya mengganggu pikiran atau membuat perasaan kita tidak nyaman.

Kita kurang menyadari bahwa kebenaran yang disampaikan kepada kita dengan jujur oleh sesama merupakan wujud kepedulian mereka terhadap kita.

Pertanyaannya, apakah kejujuran itu dapat diterima oleh semua orang?  Pengalaman dan fakta menunjukkan bahwa ketika orang lain menyampaikan kebenaran, kita tidak mudah menerimanya. Demikian pula, ketika kita berbicara jujur atau menyampaikan kebenaran kepada orang lain, tidak semua orang dapat menerimanya meski apa yang kita sampaikan sungguh bermakna atau berguna untuk hidupnya.

Banyak orang yang menyepelekan kejujuran. Bahkan ketika kita berbicara jujur, kita dianggap sebagai orang yang sok alim atau sok suci.  Dalam banyak kasus, orang yang berbicara jujur sering di-bully, dijauhkan dari pergaulan dan bahkan diancam. Dalam situasi seperti ini, kita bisa tergoda untuk berhenti berbicara jujur di dunia nyata maupun di dunia maya karena kita merasa tidak nyaman atau bahkan tersakiti.

Berbicara jujur tidak hanya menjadi tuntutan dalam komunikasi langsung di dunia nyata, tetapi dalam komunikasi di dunia maya. Kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi telah memungkinkan manusia untuk berkomunikasi di dunia maya lewat berbagai media komunikasi yang diciptakan.

Selain berdampak positif bagi kehidupan manusia, kemajuan teknologi komunikasi dan penggunaan alat komunikasi telah dan sedang membawa dampak negatif bagi relasi dan komunikasi antarmanusia.

Fakta menunjukkan bahwa alat komunikasi seringkali digunakan untuk menyebarkan ketidakbenaran atau kebohongan. Berhadapan dengan berbagai  bentuk ketidakbenaran dan kebohongan di media sosial, jalan yang harus ditempuh adalah  keberanian untuk tetap mewartakan kebenaran.

Paus Fransiskus lewat pesannya pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 menegaskan bahwa kita tidak perlu takut mewartakan kebenaran, meskipun terkadang tidak nyaman, tetapi kita melakukannya dengan belas kasih dan dengan hati.

Artinya, ketika kita mengungkapkan suatu kebenaran yang bersumber dari hati nurani, kita tidak perlu takut untuk berbicara jujur, meskipun terkadang tidak merasa nyaman untuk orang lain dan tidak membuat kita nyaman.

Dalam situasi tidak nyaman sekalipun, kebenaran tetap harus diwartakan, bukan dengan memaksakan kehendak dan menempuh jalan kekerasan, tetapi melakukannya dengan belas kasih dan dengan hati.

Bicara dengan Hati

Paus Fransiskus mengajak semua orang, khususnya umat Kristiani agar berbicara dengan hati, karena di lubuk hati yang paling dalamlah kita bisa berjumpa dengan Tuhan.

Berbicara dengan hati berarti memancarkan atau membagikan cinta yang datang dari Allah. Ketika kita berbicara dari hati, kita bisa berbicara dengan terbuka tanpa dibalut dengan berbagai keinginan-keinginan tersembunyi.

Dalam Katekismus Gereja Katolik ditegaskan bahwa “di dalam lubuk hati seseorang bekerjalah hati nurani. Kalau ia mendengar hati nuraninya, manusia yang bijaksana dapat mendengar suara Allah, yang berbicara di dalamnya (KGK 1777).

Dengan perkataan lain, seseorang yang berbicara jujur adalah ia yang berbicara berdasarkan bisikan hati nuraninya.

Memang, menyampaikan kebenaran yang bersumber dari hati nurani tidak selalu tanpa tantangan dan ancaman. Fakta memperlihatkan bahwa orang-orang yang berani menyuarakan kebenaran tidak jarang mengalami penolakan, ancaman, dan bahkan kehilangan nyawa.

Meskipun banyak orang yang tidak suka terhadap kita ketika kita berbicara jujur atau ketika kita mewartakan kebenaran, janganlah kita takut karena apa yang kita sampaikan atau kita lakukan merupakan wujud kepedulian kita terhadap mereka.

Tuhan Yesus sendiri, meski dibenci, ditolak, difitnah dan diancam karena menyampaikan kebenaran, Ia tidak berhenti untuk menyampaikan kebenaran lewat ajaran-ajaran-Nya.

Oleh karena itu, sebagai pengikut Yesus, kita jangan pernah berhenti menyampaikan kebenaran yang bersumber dari perjumpaan kita dengan Allah. Tetaplah bicara dan berlaku jujur  menurut kebenaran dan dalam kasih.