Berkomunikasi dari Hati dan Terciptanya Predikat Pembicara yang Baik

Oleh Dionisius Raymundus Popo, Mahasiswa Prodi Keagamaan Katolik Unika Weetebula, Sumba, NTT

Berkomunikasi merupakan aktivitas manusia sehari-hari. Dengan berkomunikasi kita dapat mengenal setiap orang dan mengetahui karakter seseorang.

Pembicara yang baik adalah dia yang mampu berkomunikasi dari hati ke hati.  Komunikasi dari hati ke hati merupakan bagaimana olah pikir dan olah rasa mengendalikan ego sehingga tidak menggangu hubungan dengan pihak lain. Olah pikir dilakukan agar tercipta sikap positif, sedangkan olah rasa dilakukan untuk mengasah kepekaan sehingga tercipta hal yang baik.

Seseorang yang berkomunikasi dengan baik dapat membuat dia memiliki sahabat yang banyak dan  keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis. Hatilah yang menggerakkan orang untuk berkomunikasi dengan baik dan menciptakan suasana yang positif. Berkomunikasi dengan baik dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dalam tindakan maupun pikiran.

Seseorang dapat berbicara dengan baik apabila ia mencintai secara baik. Sayangnya, pada saat ini banyak sekali orang yang tidak berbicara dengan baik sehingga menimbulkan konflik antara sesama, baik berkomnikasi dalam kehidupan nyata maupun melalui jejaring sosial.

Terjadi banyak sekali perdebatan yang terjadi di Indonesia dan telah menimbulkan konflik, hal tersebut diakibatkan  seseorang berbicara tidak dari hati.

Perdebatan yang Menabur Benci

Salah satu perdebatan yang terjadi pada saat ini adalah perdebatan antar umat beragama. Perdebatan antar umat beragama sangat marak pada saat ini seperti yang telah kita lihat di unggahan-unggahan media sosial banyak sekali para pemimpin agama yang berdebat mengenai agama dan mempertahankan keyakinan masing-masing lalu menjatuhkan yang lain dan menganggap agamanyalah yang paling benar.

Selain perdebatan antar umat beragama terjadi juga hal yang yang dapat membuat orang tidak berbicara dari hati yaitu diakibatkan oleh teknologi.

Teknologi saat ini memiliki dampak negatif bagi kehidupan manusia, salah satu contoh pengaruh negatif teknologi bagi kehidupan manusia yaitu, mereka selalu menyimpulkan sesuatu hal yang belum tentu mereka tahu kepasti dan mereka  berkata-kata di media sosial tanpa ada pertimbangan.

Merasa Paling Hebat

Petanyaannya, mengapa seseorang tidak mampu berkomuniasi dari hati? Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti, seseorang telah dikuasai oleh ego, menganggap hanya dirinya yang paling hebat tidak ada orang yang melebihi dia, menolak kebenaran dan kebaikan orang lain terus menjadi-jadi, seolah benar sendiri bahkan berbalut dengan argumentasi, dan mereka selalu ingin terlihat benar meski penuh kepalsuan tersembunyi.

Berkomunikasi yang baik dapat tercipta apabila seseorang berbicara dari hati, artinya dalam berkomunikasi harus ada keterbukaan, cinta kasih, kejujuran, dan kepedulian.

Sucikan Hati

Seperti yang dikatakan oleh bapak Paus Fransiskus pada hari komunikasi sosial sedunia ke-57, ”Oleh karena itu, agar dapat mengomunikasikan kebenaran dengan kasih, seseorang perlu menyucikan hatinya. Hanya dengan mendengarkan dan berbicara melalui hati yang murni, kita dapat melihat melampaui apa yang tampak dan dapat mengatasi suara-suara tidak jelas yang dalam hal informasi, justru tidak membantu kita memahami dunia yang begitu kompleks. Seruan untuk berbicara dengan hati ini merupakan tantangan yang radikal bagi zaman kita, yang cenderung tidak peduli dan marah, bahkan kerap mengeksploitasi kebenaran dan menyebarkan informasi palsu”.

Paus Fransiskus menekankan supaya orang-orang dapat berkomunikasi dari hati, artinya komunikasi yang baik dapat tercipta jika dalam komunikasi dengan kasih, seseorang perlu menyucikan hatinya.

Dalam komunikasi kita perlu menghindari hal-hal yang bersifat bohong dan tidak menyebarkan informasi palsu agar dapat tercipta suasana yang kondisif dan positif. Salah satu contoh paling cemerlang dan tetap memikat hingga saat ini tentang “berbicara dengan hati”, dapat ditemukan dalam diri Santo Fransiskus de Sales, seorang Pujangga Gereja.

Santo Fransiskus de Sales mengatakan, “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik.”

Baginya, komunikasi tidak boleh direduksi menjadi suatu kepalsuan, yang saat ini mungkin kita sebut sebagai strategi marketing.

Komunikasi merupakan cerminan jiwa, permukaan dari inti cinta yang tidak terlihat oleh mata.

Cara Berkomunikasi yang Baik

Selain itu, cara yang digunakan untuk menciptakan komunikasi yang baik adalah Pertama jangan pernah menganggap diri paling hebat atau selalu merendahkan diri. Dalam berkomunikasi seseorang yang merendahkan diri akan memiliki pertemanan yang baik, seperti yang tertulis dalam kitab suci “sebab barang siapa yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 14:11).

Kedua memiliki sikap jujur. Sikap jujur sangat diperlukan dalam berkomunikasi karena jika sebuah komunikasi diawali dengan kebohongan maka akan menghasilkan hasil akhir yang buruk.

Ketiga memiliki keterbukaan dalam berkomunikasi. Keterbukaan adalah hal yang diperlukan dalam berkomunikasi karena dengan begitu kita lebih santai dalam berbicara dengan siapa lawan bicara kita, namun beberapa orang dalam berbicara mereka selalu melebih-lebihkan apa yang dia miliki dan menutupi yang sebenarnya padahal dengan keterbukaan adalah salah satu bentuk kepercayaan diri dan menerima diri apa adanya.

Berdasakan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa berkomunikasi dari hati dapat menciptakan kondisi yang positif dan menjadikan kita pembicara yang baik.

Orang yang tidak dapat berkomunikasi dari hati dikarenakan mereka berkomunikasi hanya menggunakan pikiran tanpa melibatkan hati.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar tercipta komunikasi yang baik yaitu, tetap merendah diri, adanya keterbukaan dan adanya sikap jujur. Maka sangat diperlukan berkomunikasi dari hati dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang berbicara dari hati akan menjadi pembicara yang baik.