Tentang Renovasi Ruang Hati

87
Eleine Magdalena

Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

Kami pernah merenovasi rumah. Ruangan di lantai dua kami perbaiki untuk menjadi ruang doa dan ruang baca.

Ruangan atas ini sudah lama tidak terpakai. Namun karena kami bermaksud menempatinya, perlu dibersihkan dan ditata ulang.

Selama renovasi, kami terganggu suara keras dari pekerjaan ini. Debu di rumah membuat mata pedih, tenggorokan sakit.

Begitu juga kira-kira, jika Tuhan sedang merenovasi rumah-Nya dalam hati kita. Tuhan ingin membuat ruangan hati kita sesuai gambaran, rancangan dan keinginan-Nya.

Jika Ia mau merenovasi hati kita, tentu kita patut bersyukur. Itu berarti Tuhan mau datang dan tinggal dalam hati kita.

Ketika Tuhan mau tinggal dalam hati kita, berarti Tuhan juga mau mengendalikan hidup kita.

Ketika proses tata ulang atau renovasi itu sedang berlangsung, kita akan mengalami sejumlah ketidaknyamanan.

Mungkin kita akan sering jengkel, kecewa atau marah karena keinginan tidak terpenuhi.

Kita sering mendengar orang mengatakan bahwa setelah dibaptis, mau sungguh-sungguh hidup benar dan melayani Tuhan, masalah justru bertambah banyak.

Padahal dulu sebelum ikut Tuhan pekerjaan lancar-lancar saja, relasi dengan teman pun tidak terganggu, keinginan-keinginan mudah terpenuhi.

Sekarang setelah ikut Tuhan, kok segala yang kita inginkan menjadi sulit tercapai. Banyak halangan dan tantangan dalam pekerjaan.

Sebelumnya, mencari uang mudah saja karena segalanya bisa diatur. Kita merasa sakit hati. Apa yang biasanya mudah saja kita dapatkan, sekarang menjadi sulit.

Kita cenderung menyalahkan Tuhan atau orang lain. Namun, pernahkah kita bertanya apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak-Nya?

Kalau belum, sebenarnya kita sedang ditolong Tuhan untuk kembali pada jalan yang benar. Tuhan sedang memahat hati kita. Ia membentuk kita agar sesuai dengan kehendak-Nya.

Terasa sakit, karena kita sudah terbiasa memanjakan keinginan dan egoisme kita.

Jadi intinya bukan pada bertambah banyaknya masalah, melainkan karena semakin dekat kita pada apa yang benar.

Tuhan mulai membersihkan ruangan hati kita. Ia sedang menata ulang rumah hati kita untuk dijadikan layak bagi-Nya.

Apabila Tuhan berkenan tinggal di hati, kita akan bahagia. Apa yang tidak membawa kepada keselamatan dipangkas oleh Tuhan.

Banyak dari keinginan kita sesungguhnya tidak membawa pada kebahagiaan sejati. Keinginan-keinginan tersebut malah bisa menghancurkan kita.

Tuhan tahu bahwa ambisi saya akan gelar dan karier dapat menjauhkan saya dari-Nya. Itulah sebabnya Tuhan memangkas.

Keinginan ego yang dituruti terus membuat kita makin tidak bebas. Ego kita semakin kuat mencengkeram dan mengendalikan keinginan-keinginan kita.

Kita pun menjadi terikat oleh pelbagai macam hal yang membuat kita menderita.

Saya membayangkan setelah masa renovasi ini lewat, kami akan memiliki ruang doa yang lebih besar di lantai atas. Ada semacam perpustakaan dan tempat kerja yang lebih nyaman. Alangkah senangnya.

Demikian pula jika Tuhan sudah merenovasi hati kita, maka Tuhan tentu akan senang tinggal dalam hati kita dan bersama kita sepanjang hari.

Kita pun akan senang dengan hidup baru bentukan Tuhan ini. Tuhan tidak pernah salah dalam membentuk kita. Ia memberi yang terbaik.

Sekarang, setelah ruangan atas ini selesai, kami sekeluarga sering berkumpul dan menghabiskan waktu membaca dan belajar bersama di ruangan ini.

Apabila Tuhan tinggal dalam hati, kita akan bahagia. Ruangan hati kita perlu dibersihkan dari kelekatan pada ciptaan agar Tuhan saja yang memenuhi hati kita.

Hati kita diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan sehingga hanya Tuhan saja yang dapat memenuhi kerinduan hati kita yang terdalam.