Masa Diakonat Diakon Benny Mencapai 22 Tahun, Kok Bisa? Begini Kisahnya

1032
Diakon Benny Margono (tengah) bersama Diakon John Mezer Manullang dan Diakon Marudut Xaverius. (ist)

Theodorus Wiryawan, dari Kelas Persiapan Pertama angkatan 79 (KPP 79) Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius Mertoyudan, membagikan sebuah berita yang dia sebut “berita gembira sekaligus mengejutkan”.

“Kawan saya Benny Margono akan ditahbisan sebagai Imam di usia 62 tahun pada tanggal 16 Februari 2023 oleh Mgr Vitus Rubianto Solichin,” tulis Wir, demikian sapaan pria berkaca mata ini.

Atas sepengetahuan Theodorus Wiryawan, tempusdei.id menurunkan kisah unik ini untuk pembaca. Berikut kisah selengkapnya sebagaimana dituliskan Wiryawan:

Perjalanan hidup Benny untuk menjadi Imam berliku-liku dan mungkin memegang rekor masa diakonat terlama, yaitu selama 22 tahun (2 Juli 2000 sampai 16 Feb 2023) sebelum ditahbiskan menjadi Imam.

Saya mengenal Benny saat di Mertoyudan dan bertemu lagi di Unika Atma Jaya. Kami sama-sama satu Fakultas, yaitu FIA dan sama-sama  aktif di Pastoran Atma Jaya. Saya sering mengatakan, Benny lebih Karmelit dari pada saya mantan karmelit, karena Benny aktif di pastoran terutama berkaitan dengan kegiatan rohani dan liturgi.

Sedangkan  saya lebih seperti Jesuit daripada Benny (ex jesuit)  karena saya senang berorganisasi, kaderisasi dan pembinaan mahasiswa dengan semangat kebangsaan. Persahabatan kami terus berlanjut dalam WAG ex Pastoran Atma Jaya.

Perjalanan hidup Benny sungguh menarik. Menurut Benny keinginan menjadi  imam sudah ada sejak kecil. Untuk mewujudkan panggilannya, setelah tamat SMA, Benny masuk Seminari Mertoyudan.  Dia masuk sebagai KPA tahun 1981 – 1982, dan dilanjutkan masuk Novisiat Serikat Jesus 1982 – 1984.

Entah mengapa Benny meninggalkan Novisiat SJ dan pada Agustus 1984 kuliah di Unika Atma Jaya dan memilih  FIPK (kemudian menjadi FIA).

Lulus dari Atma Jaya 1989, Benny bekerja di Matahari Dept Store sampai juli 1992 . Ternyata panggilan menjadi imam menguat lagi dan Benny memutuskan melamar menjadi Praja Padang.

Saat itu Benny berpastoral di Paroki Padang sambil bekerja sebagai Sekretaris Direksi di RS Katolik Yos Sudarso Padang, milik Keuskupan.

Undangan tahbisan Diakon Benny

Setahun kemudian Benny diizinkan masuk Tahun Rohani Praja di Seminari Tinggi St Petrus Pematang Siantar, studi S 1 Filsafat dan post S1 selama dua tahun  sampai tahun 2000. Setelah  itu Benny ditahbiskan menjadi Diakon oleh Mgr Pius Datubara di Medan 2 Juli 2000.

Benny menjalani masa diakonat 3 bulan di Muara Siberut Mentawai. Suasana hening ternyata mendorongan Benny ingin hidup kerahiban. Benny memohon pada Uskup  agar diperbolehkan mulai hidup kerahiban di Rawaseneng. Tahun 2005  Benny kembali ke Padang mohon supaya boleh ditahbiskan menjadi imam di Padang.

Uskup Padang Alm. Mgr Martinus Dogma Situmorang menolak, dan memintanya supaya mohon laisasi dari tahbisan diakonnya. Benny menolak mohon laisasi karena ingin tetap mempertahankan tahbisan diakonnya.

Sampai saat ini saya tidak tahu mengapa Alm Uskup Martinus menolak menahbiskan Benny sebagai imam.

Kembali Benny menjalani hidup sebagai awam. Dia bekerja di Betadine sebagai HRD Manager sampai pensiun November 2021.

Dari ceritanya, selama 16 tahun bekerja di Betadine, Benny tetap hidup selibat. Keinginan menjadi imam tetap tinggi. Dia sering berdoa: jika Tuhan mau,  aku yakin Ia akan membuka jalan bagiku .

Benny menghadap Mgr Vitus menceritakan status Diakonatnya yang “tergantung”. Akhirnya Mgr Vitus menerimanya  kembali sebagai Klerus Keuskupan Padang.

Benny diminta berpastoral melayani sebagai Diakon di Paroki Dumai April 2021 sampai Des 2021.   Setelah evaluasi dan rekomen Pastor Paroki Dumai dan kesaksian umat yang dilayani,   Uskup Vitus mengabulkan permohonan untuk ditahbiskan menjadi imam tanggal 16 Februari 2023.

Saya tanya bagaimana perasaan Benny? Benny mengatakan bahwa dirinya melihat semua ini sebagai jalan Tuhan baginya. Benny mengatakan, sering tidak setia. Jatuh bangun, tapi Tuhan tetap setia. “Tuhan membuka jalan bagiku asal aku mau menyerahkan diri pada-Nya.”

“Semoga di usia 62 tahun ini, dalam sisa hidupku aku boleh melayani Umat Allah dalam pelayanan sebagai imam sampai akhir hayatku. Mohon  doakan diriku,” pinta Benny.

Perjalanan hidup Benny menyadarkan kita bahwa kita selalu diberi kesempatan baru untuk  melakukan sesuatu yang benar, yang kita rindukan dalam mengisi hidup kita.

Kita selalu bisa memperbaiki kekurangaan yang ada dan yang pernah ada, dan melanjutkan alur cerita ke depannya sampai saat usia yang sudah ditetapkan-Nya.

Mereka yang gagal dan penuh perjuangan dalam mengejar panggilan hidup akan lebih menghargai kehidupan. Mereka yang pernah jatuh akan sangat menghargai arti kejatuhan.

Mereka yang telah terkuras air matanya akan semakin mengerti betapa mahal arti setetes air mata. Semua perasaan, pengalaman, setiap kondisi apa pun adalah pupuk untuk pohon kehidupan yang tumbuh dalam jiwa kita.

Saya mendoakan, Tuhan  selalu menyertai setiap langkah Benny.  Karena Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar.

Tuhan selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan  jawaban di setiap doa Benny.

Semoga berkat Tuhan selalu untuk sahabat saya Benny Margono.