Frido Halang, Mantan Tukang Sapu Gereja, Kini Beromzet 150 Miliar Rupiah

789
Frido Halang dan keluarga: Tuhan sangat baik.
Karena tidak punya uang makan dan uang kos, Frido tinggal di gereja dan menjadi tukang ngepel gereja dan pembersih kandang burung pendeta. Ternyata melalui jalan inilah Tuhan membawa dia ke pelataran keberhasilan. 

Ketika berangkat ke Kota Yogyakarta pada tahun 1999 Frido Halang membawa serta semangat belajar yang tinggi.

Dengan semangat itu dia mengikuti ujian masuk UGM, tapi tidak diterima. Dia bahkan sempat dua kali ikut ujian masuk di “Kampus Ndeso” itu.

Karena tidak lulus di UGM, anak bungsu dari sembilan bersaudara ini pun ikut ujian masuk di Stiper (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian). Dia diterima pada jurusan Budidaya Kehutanan.

Pada awalnya, kuliah Frido berjalan lancar. Kiriman uang uang  dari orang tua terbilang cukup. Tapi entah mengapa, kemudian orang tuanya tidak mengirimi uang bulanan lagi sejak masuk semester III.

“Banyak hal lain yang keluarga urus di kampung. Saya pun tidak bisa paksa mereka untuk kirim uang,” ungkap Frido kepada LAPIERO TV dan TEMPUSDEI.ID di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Karuan saja Frido bingung dengan keadaan ini. Pasalnya, selain tidak bisa bayar uang kuliah, dia juga tidak punya uang untuk makan, kos dan untuk kebutuhan-kebutuhan lain.

Ditempa Habis-habisan di Gereja

Lantas, apa yang Frido lakukan?  Dalam keadaan panik, dia mendapat informasi bahwa ada kesempatan tinggal di Gereja Kristen Nazarene “Gloria” Yogjakarta.

Di gereja ini dia menjadi “tukang ngepel” gereja dan pembersih kandang burung pendeta dan melakukan pekerjaan-pekerjaan lain.

Di sini, ternyata Frido tidak hanya menjadi pekerja seperti pada umumnya.

Dia bersama beberapa temannya yang juga tinggal di kompleks gereja itu secara rutin harus bangun pagi-pagi pukul 4-30 lalu berdoa, lakukan pujian penyembahan dan renungan pribadi.

Baru setelah itu ngepel dan urus kandang burung serta pekerjaan-pekerjaan lain.

Tentu saja, rutinitas ini adalah hal-hal yang sama sekali baru bagi Frido, yang terbiasa hidup semaunya sendiri.

Apalagi sebelumnya dia bersama banyak kawan tinggal di sebuah kos dengan kebiasaan minum mabuk, merokok. Pokoknya, hidup tidak teratur. “Sampai karena tidak punya uang untuk beli rokok, saya pungut putung rokok sehingga sempat batuk dan muntah darah,” aku ayah tiga anak ini.

Tidak ada pilihan lain. Frido harus patuh dengan aturan yang ada. “Melawan lalu tinggalkan gereja, berarti benar-benar jadi gelandangan,” kata pria asal Anakalang, Sumba Tengah ini.

Frido bersama karyawannya. Berkat kerja keras dan penyertaan Tuhan.

Dengan Terpaksa

Semula Frido jalani rutinitas dengan terpaksa, tapi rupanya melalui “keterpaksaan” itulah Tuhan bekerja. Dia malah mendapat pendampingan dan bimbingan yang baik dari Bapak Gembala di gereja.

Frido belajar menundukkan diri dan egonya. Secara perlahan, dia nikmati rutinitas tersebut.

Tuhan pun mengubah karakternya menjadi rendah hati, dengar-dengaran dengan orang, lebih rajin belajar dan mengerjakan tugas-tugas kampus.

“Ketika di gereja itulah, gaya hidup, karakter saya berubah semua. Di gereja saya ditempa habis-habisan,” aku Frido dengan kata berkaca-kaca.

“Kalau awalnya merasa diri paling hebat, tapi ketika gak punya apa-apa di tanah orang, harus tinggalkan kesombongan,” katanya lagi.

Berkat kerja keras dan pertolongan tahun 2004 Frido berhasil menyelesaikan kuliah.

Salah satu hal yang membanggakan bagi Frido, skripsinya masuk dalam Jurnal Internasional.

Judul skripsinya Keberhasilan Tumbuh Beberapa Klon Jenis Ekaliptus dengan Penerapan Dua Teknik Sambungan.

Tada tahun 2005-2012 dia bekerja di Penerbir Erlangga, Jakarta. Di sini dia menangani Marketing buku-buku sekolah.

Bertekad untuk Sukses

Selama di Erlangga, Frido belajar banyak hal dan membangun relasi dengan banyak orang.

Sementara itu, dia selalu membangun dan memupuk niat untuk menjadi orang sukses di Ibukota.

“Sudah terlanjur tinggalkan keluarga dan orang tua, jadi harus bertarung,” tekad pria hitam manis ini.

Ketika di Erlangga, dia juga sering ikut kelas motivasional bersama para motivator papan atas Indonesia. Dari situlahdia membangun mimpi, termasuk mimpi memiliki perusahaan sendiri. “Makanya jangan takut bermimpi, tapi jangan berlama-lama juga, harus ada action,” katanya sambil tertawa.

Menurut Frido, manusia harus punya target pencapaian dalam hidup. “Saya nggak mau seperti kata orang ‘mengalir seperti air’,” ungkapnya serius sambil tersenyum.

Digerakkan oleh mimpinya, tahun 2008, walau masih bekerja di Erlangga, dia “iseng” membuat perusahaan bernama Mitra Cerdas Indonesia (MCI).

“Waktu itu hanya iseng, kebetulan ada teman yang bisa urus, lalu saya bilang, mau dong,” kisah Frido. Karena sambil kerja di Erlangga, MCI tidak tertangani dengan baik.

Setelah meninggalkan Erlangga tahun 2012, Frido secara serius mengelola MCI dengan core bussines distribusi buku-buku dan peralatan sekolah.

Dengan MCI Frido bekerja sama dengan Depdiknas dalam mendistribusikan buku-buku pelajaran dan perlengkapan belajar lainnya ke seluruh Indonesia.

Frido tidak kenal menyerah di tengah tantangan yang silih berganti. Dan uniknya, persis ketika tantangan datang dengan dahsyat, Frido menuai berkat Tuhan yang berlimpah.

“Ketika Covid-19 mengganas, bagi banyak orang benar-benar jadi tahun yang tidak baik atau kiamat. Tapi tergantung bagaimana melihatnya. Justru peluang ada di situ,” katanya.

Justru di saat Covid itulah omzetnya meningkat tajam, sampai harus membuat tiga perusahaan baru agar bisa menangani pesanan dengan lebih baik.

Ketiga anak perusahaannya adalah Maheswara Perkasa, Media Loka Tara, Muri Hammu Global Sentosa.

Dan sekarang, kalau dikapitalisasi, omzet perusahaannya telah mencapai 150 miliar.

“Sungguh! Semuanya berkat Tuhan, kerja keras dan kecermatan membaca peluang,” ungkapnya memungkasi obrolan sore itu. (Emanuel Dapa Loka)