Pendeta Gilbert Lumoindong Picu Kemarahan Keluarga Brigadir J dan Netizen

151

Gilbert Lumoindong dikecam karena dianggap memfitnah Brigader J, Pendeta Gilbert minta maaf secara terbuka.

Oleh Emanuel Dapa Loka

S etelah menjadi sasaran kemarahan keluarga Brigader J dan netizen dari berbagai penjuru atas pernyataannya yang (seakan-akan) mengonfirmasi bahwa Brigadir J melakukan pelecehan seksual atau pemerkosaan terhadap istri Sambo, Pendeta Gilbert Lumoindong meminta maaf dan men-take down videonya yang sudah viral ke mana-mana dan telah bersalin rupa menjadi virus berbahaya itu.

Dalam video minta maafnya, Gilbert mengaku tidak ada niat untuk menyakiti. Dia juga mengatakan bahwa sebagai manusia dan hamba Tuhan, pasti ada kekurangannya.

Bahwa manusia pasti punya kekurangan, ini premis yang berlaku umum. Namun, untuk “kasus Gilbert”, premis tersebut tidak terlalu berlaku. Mengapa?

Orang mengira Gilbert ini memiliki kematangan intelektual, spiritual, psikologi dan berwawasan luas sehingga sangat tidak wajar dia melakukan ini. Apalagi dia seorang tokoh agama dan public figure. Ingat! Dalam masyarakat berlaku hukum tak tertulis: jika secara sosiologis dan keagamaan seseorang sudah terlanjur dipercaya dan menjadi panutan, maka “pengikutnya” cenderung memercayai apa pun yang keluar dari mulutnya. Belum lagi karena seseorang itu tokoh agama, lalu menaburi omongannya dengan firman Tuhan dan ungkapan-ungkapan indah dan memesona, itu akan lebih membius lagi.

Dengan semua kematangan yang masyarakat andaikan Gilbert miliki itu, mestinya dia melakukan discernment atau menimbang-nimbang kebenaran informasi yang dia miliki dan efek dari informasi yang dia sampaikan itu.

Mengherankan! Gilbert begitu memercayai informasi yang dia dapatkan dari keluarga Sambo sambil dia mematikan daya kritis dan pikiran skeptisnya.

Dia juga dengan lugu meyakini begitu saja pendapat psikolog yang dia mintai pendapat tentang kemungkinan Brigadir J menenggak obat perangsang atau melihat tontonan yang memicu gairah seksual….

Sekali lagi, Gilbert sangat yakin dengan informasi yang dia miliki, lalu tanpa pertimbangan apa pun meriisnya begitu saja. Ini jelas tindakan ceroboh dan gegabah!

Humas Keluarga Sambo?

Pertanyaan lain yang segera muncul setelah melihat Gilbert dengan pernyataan yang membela keluarga Sambo itu, siapa sebenarnya Gibert ini? Dia Humas keluarga Sambokah? Penasihat hukumkah? Atau netizen pinggir jalan yang sok tahu atau merasa sebagai sumber satu-satunya sebuah kebenaran sehingga bicara seenaknya? Apa sebenarnya  kepentingan Gilbert ini?

Tentu saja wajar keluarga dan netizen berang! Brigadir J sudah meninggal dengan cara sangat keji—entah kekejian macam apa lagi yang melebihi kekejian yang dia alami itu.

Dengan demikian, Brigadir J pasti tidak bisa membela diri. Saya setuju ungkapan ayah Brigadir J yang mengatakan, “Baru sekarang ada Pendeta yang memfitnah orang yang sudah meninggal”.

Bukan porsi Gilbert pula membicarakan hal sensitif semacam ini, apalagi menyampaikan ke publik.

Kalaupun hal ini menjadi materi dalam perkara, biarkan saja pengadilan yang membuktikannya nanti. Apakah Gilbert sudah kurang kesibukan sehingga dia membuat atau mencari-cari kesibukan baru dengan mengurusi kasus tersebut dan hal-hal lain?

Sekarang Gilbert minta maaf setelah videonya viral dan mengotori otak berjuta-juta otak. Dia pun menyebut telah men-takedown video itu.

Saya harus berkata, “Heiiiiiii! Videomu itu sudah berganda-ganda melalui banyak platform. Dengan begitu, tindakanmu men-takedown videomu itu tidak terlalu berpengaruh. Beruntunglah Anda sudah sadar!”

Sambil sangat menyesali tindakan Gilbert itu, saya menyarankan kepada Gilbert untuk lebih berhati-hati dan tidak memupuk sikap sok tahu. Tingkatkan daya kritis alias sikap sketis. “Pikirkan baik-baik apa yang anda lakukan. Jangan cepat-cepat melakukan apa yang Anda pikirkan. Timbang baik-baik apa manfaat dan masalah yang akan timbul. Mestinya Anda tidak perlu lagi diajari hal-hal semacam ini.”

Apakah Gilbert mengira, dengan “menimpakan” penyebab kemarahan Sambo kepada Brigadir J yang menyebabkan dia kalap kemudian membunuh, akan memengaruhi hakim? Nanti dulu. Mikir…..! Kata Cak Lontong.

Sekali lagi, Gilbert, kembalilah tempatkan dirimu pada tempat yang sebenarnya. Belajar lebih banyak. Lebih rendah hati dalam tindakan. Sikap rendah hati untuk dipraktikkan, bukan untuk dibicarakan, dikhotbahkan.

Jangan Anda berpikir: dengan nama dan badan besar, kekaguman besar dari banyak orang, orang akan menerima begitu saja yang Anda katakan? Tidak!

Saya jadi ingat ketika tahun lalu Gilbert yang ini juga merilis sebuah video yang menuding Paus Fransiskus merestui pernikahan sejenis, padahal bacaannya yang salah. Dengan bacaan yang salah itu, lalu dia mengajak penontonnya mendoakan Paus Fransiskus untuk bertobat. Sebuah doa yang salah sasaran!!