MENGENANG HELENA DEWI JUSTICIA

832
Helen, Requiescat in pace. (ist)

Oleh Eka Budianta, penyair, kolumnis

Posting terakhir Helena Dewi Justicia, Jumat 11 Maret 2022 tentang Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang sangat bersejarah.

Helena mengingatkan, Supersemar ditanda-tangani oleh Bung Karno.  Begitu tulisnya di Laman Perpustakaan St. Andreas tempatnya bertugas sebagai pustakawati.   Berikutnya dia tambahkan, hari itu umat Katolik berpantang makan daging. “Sama dengan pasien kanker,” katanya.

Indra Nurpatria, adik dari Helen memberi testimoni tentang Kakaknya. (ist)

Setelah itu dia tidak menulis lagi, akibat koma sampai Senin, 6 Juni 2022 diberitakan wafat pukul 04 pagi, dalam usia 50 tahun.

Siapakah Helena?  Pertama kali bertemu dalam Lokakarya Lingkungan di Malang, saya terpana.  Dia narasumber tetap tenang menghadapi serangan “penyelundup” yang jelas-jelas datang untuk mengacau pertemuan itu.

Saya juga pembicara, satu panel bersama Helena.  Bedanya saya sangat panik dan ketakutan saat 3 atau 4 orang berteriak-teriak menganggap kami mengekor program pemerintah.

Helena tenang sekali, terus mencatat usul-usul yang masuk, tanpa menghiraukan teriakan-teriakan para pengacau.

Setelah merasa diabaikan, para pengacau itu meninggalkan ruangan. Lokakarya dapat diselamatkan.  Kesan mendalam itu perlu dicatat sebagai prestasi penting bagi perempuan kelahiran Malang, 3 Februari 1972.

Saya baru maklum karena ternyata dia lulusan S-2 Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia.

“Helena itu sangat cerdas. Rumahnya seperti gudang buku,” kata Bambang Sasmita Utomo, Pakdenya. “Helena memang pejuang literasi yang menghimpun buku dari berbagai sumber untuk dikirimkan ke daerah-daerah terpencil.”

Sebelum pindah ke Jakarta,  Helena menyelesaikan S-1 di Jurusan Sastra Indonesia,  Universitas Negeri Jember, Jawa Timur.  Selama beberapa tahun, Helena tinggal di rumah kakak dari ibunya itu.

Ayah Helena adalah J.A. Noertjahjo, pensiunan wartawan Kompas dan pejuang kemanusiaan dari kota Malang.

Dari ayahnya Helena mewarisi bakat mengamati lingkungan dengan seksama dan menyukai sejarah.

Helena suka mencatat teladan para pahlawan, termasuk R.A. Kartini dan para misionaris yang bekerja di berbagai daerah.  “Dalam penderitaan bersama, akan tercapai saling pemahaman,” tulisnya dalam laporan bertajuk Pandemi Bukan Berarti Terhentinya Empati.

Sebagai penulis, Helena sering meliput kegiatan rohani termasuk ke pulau-pulau di Nusa Tenggara.

Dalam esai terakhirnya tentang perayaan Natal 2021, Helena mencatat, “Umat Katolik dipanggil untuk lebih memperhatikan dan membantu mereka yang kecil, lemah, miskin, sakit, tersingkir dan difabel.”

Helena meninggalkan suami bernama Deuxiemanto yang bekerja di sebuah penerbit terkenal.

Adiknya, bernama Indra Nurpatria meneruskan Facebook Helena selama tidak sadar sejak bulan Maret lalu.

Atas nama keluarga, Indra berterima kasih untuk doa dan perhatian para rohaniwan serta teman-teman Helena.

Jenasah aktifis literasi yang sangat berbakat itu akan dikremasi hari Rabu, 8 Juni 2022 di Oasis Lestari, Tangerang.

Semoga ketenangan dan kesungguhan Helena menjadi inspirasi bagi generasi penerus.

Selamat beristirahat dalam damai abadi.  Teladanmu tidak akan kami lupakan.*