Salib Simbol Kelemahan Orang Kristen?

72

Oleh Romo John Kota Sando, Pr

Kehidupan iman umat Kristiani tak bisa lepas dari Salib Kristus. Perayaan Jumat Agung – mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus – harus membangkitkan kesadaran kita untuk selalu bangga pada Salib Kristus.

Ada orang yang menganggap salib sebagai penghinaan. Orang Kristen ditertawakan “Apa itu Allah orang Kristen – kalau memang Dia Tuhan mengapa harus disalibkan?” Buat banyak orang di luar kita, salib dianggap sebagai titik terlemah dalam kekristenan kita. Betulkah demikian?

Bagi kita orang Kristen, seluruh hidup dan keselamatan kita ada di dalam Salib Kristus. Setiap kali kita memandang Salib, kita menjadi bangga karena seluruh dosa kita dipaku dan ditebus di sana. Setiap kali kita memandang salib, kita menjadi bangga karena seluruh kelemahan kita diselesaikan di sana. Setiap kali kita memandang salib, kita menjadi bangga karena seluruh luka kehidupan kita disembuhkan di sana. Setiap kali kita memandang salib, kita menjadi bangga karena seluruh berkat kehidupan tersedia bagi kita di salib itu.

Joel Osteen, seorang pengkhotbah dan motivator terkenal mengatakan, “Jika anda ingin tahu bahwa di dalam salib ada kehidupan, maka gantungkanlah Salib Kristus itu pada dinding hatimu dan takhtakan Dia di rumah batinmu”.

Ungkapan ini selain meneguhkan, juga boleh jadi menyindir mereka yang belum mengerti dan menghayati secara mendalam apa makna Salib Kristus dalam kehidupannya. Banyak orang Kristen dengan penuh kebanggaan mengenakan salib di dada mereka, tetapi jiwanya begitu kecil dan rapuh ketika berhadapan dengan tantangan.

Sebagian besar rumah orang Katolik ada salibnya, tetapi sering ketika ada persoalan dalam keluarga selalu saja diselesaikan dengan kekerasan dan sikap putus asa yang berlebihan. Kita harus meletakkan sebuah kesadaran dalam kehidupan beriman kita bahwa Salib Kristus adalah solusi terbaik bagi persoalan hidup kita.

Bacaan Pertama dari Kitab Nabi Yesaya 52:13-53:12 mewartakan kepada kita bahwa buah dari Salib penderitaan Kristus adalah keselamatan dan penyembuhan: “Derita-Nya mendatangkan keselamatan dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes.53:5). Begitupun juga melalui Kisah Sengsara Yesus (Yoh.18:1-19:42) kita diyakinkan akan kebesaran dan keagungan cinta Tuhan atas hidup kita. Ia tidak akan pernah sedikitpun mengubah cinta-Nya menjadi sebuah kebencian atau malapetaka.

Sedangkan Rasul Paulus dalam bacaan kedua (Ibr.4:14-16; 5:7-9) menegaskan bahwa ketaatan Yesus secara total pada kehendak BapaNya menjadi anugerah istimewa bagi setiap umat manusia untuk memperoleh keselamatan abadi: “Kesempurnaan Yesus dalam menaati seluruh kehendak Bapa-Nya menjadi kekuatan bagi semua orang untuk menjadikan Dia sebagai pokok keselamatan abadi” (Ibr.5:9).

Dengan ini Salib Kristus tidak dapat dipandang sebagai lambang kehinaan atau titik terlemah kekristenan, tetapi sungguh adalah lambang kesempurnaan. Maka berbahagialah kita yang melihat kesempurnaan Salib sebagai pembawa kehidupan dan keselamatan. Kita harus bangga pada Salib Kristus!

Dengan kekuatan Salib kita disadarkan bahwa tiada kebahagiaan tanpa penderitaan, tiada cinta tanpa pengorbanan dan tiada keberhasilan tanpa perjuangan.

Dengan kekuatan Salib kita dimampukan untuk bersyukur dalam segala hal karena Tuhan tidak pernah sedikitpun menghendaki dan merencanakan sesuatu yang buruk atas kehidupan kita.

Yakinlah bahwa di dalam kekuatan Salib setiap doa, usaha, kesakitan, derita dan air mata kita tidak ada sedikitpun yang jatuh sia-sia, karena Ia telah menampung semuanya itu di atas tangan-Nya yang penuh kasih, dan pada waktu yang indah akan mengubahnya menjadi berkat, kesembuhan dan kebahagiaan bagi kita. A M I N.

Merauke, 15 April 2022.

Salve dan Berkat Tuhan.