STKIP Weetebula dan Ikhtiar Menebus Learning Loss

79
Upaya menghadapi Learning Loss

 Wilhelmina Kurnia Wandut, S.Pd., M.Hum, Dosen STKIP Weetebula

Helmy: Mari belajar

Pandemi Covid-19 memberi dampak pada semua aspek kehidupan manusia termasuk pendidikan. Pandemi yang sudah berlangsung kurang lebih selama dua tahun ini menyebabkan learning loss yang sangat berdampak pada perkembangan pendidikan.

The Education and Development Forum (2020) mengartikan bahwa learning loss sebagai situasi peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum atau khusus atau kemunduran secara akademis, yang terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau ketidakberlangsungannya proses pendidikan.

Ada berbagai ketertinggalan yang harus ditebus agar kesengjangan learning loss yang dialami oleh para pelajar dapat dipersempit.

Perlu diakui tidak mudah untuk menebus ketertinggalan yang telah berlangsung cukup lama ini. Lembaga Pendidikan harus mengambil langkah-langkah inovatif dan bekerja sama untuk menyediakan solusi-solusi terbaik bagi kondisi Pendidikan saat ini.

Hironimus Sugi, Program Manager Lembaga Inovasi mengatakan bahwa corona ini mengakibatkan ketertinggalan secara general dalam Pendidikan kurang lebih sebanyak 6-7 bulan. Namun, Provinsi NTT (Nusa Tenggara Timur) mengalami ketertinggalan dalam Pendidikan selama 26-48 bulan. Hal ini disebabkan karena sebelum adanya pandemi, Provinsi NTT sudah mengalami ketertinggalan dalam pendidikan. Hal ini membuat kita harus bekerja sama dengan lebih optimal agar percepatan atau akselerasi dalam pendidikan dapat terwujud.

Ketertinggalan dalam literasi memberi dampak yang cukup besar. Pada Tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengeluarkan Permen No 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Gerakan Literasi Sekolah memandang kemampuan literasi sebagai upaya untuk menumbuhkan budi pekerti yang menekankan pada kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas seperti, berbicara dan berkomunikasi, melihat, membaca, menulis, atau menyimak sebuah objek. Dari sini, kita bisa berpersepsi bahwa Pemerintah melihat Sekolah merupakan lembaga yang tepat untuk memupuk dan mengembangkan kemampuan literasi pelajar.

Budaya literasi perlu dipupuk sedini mungkin. Oleh karena itu, guru-guru pada level kelas rendah perlu memiliki bekal yang baik dalam menyajikan pembelajaran yang berkaitan dengan penguatan literasi. Salah satu Langkah inovatif yang dilakukan oleh Lembaga Inovasi adalah mengajadakan pelatihan Pemanfaatan Buku Berjenjang untuk Dosen STKIP Weetebula.

Semoga sukses

Ikhtiar STKIP Weetebula

Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dengan pemerintah Indonesia. Lembaga ini bekerja langsung dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), INOVASI berupaya memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa di sekolah-sekolah yang ada di berbagai kabupaten di Indonesia, terutama dalam hal kemampuan literasi dan numerasi.

Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 6 April 2022 di Sumba Barat Daya. Pelatihan ini bertujuan untuk membagi pengetahuan dan ketrampilan langsung bagi dosen-dosen di STKIP Weetebula agar ilmu tersebut dapat berguna dan dibagikan ke mahasiswa atau kelompok kategorial lain yang membutuhkan.

Pelatihan ini dihadiri oleh Hironimus Sugi bersama staff Inovasi, Wilhelmus Yape Kii, M.Phil., M.A sebagai Ketua Lembaga STKIP bersama 20 orang dosen sebagai peserta dan Lembaga YLAI (Yayasan Literasi Anak Indonesia).

Pelatihan ini berlangsung dengan lancar dan dikemas secara menarik. Di awal pelatihan, para dosen melakukan pre-test mengenai kegiatan membaca termbimbing menggunakan buku berjenjang. Lalu, narasumber yang merupakan trainer dari Lembaga YLAI (Yayasan Literasi Anak Indonesia) memberikan pelatihan yang dibagi dalam empat sesi. Peserta diberikan pengetahuan mengenai differensiasi keterampilan dan penilaian diagnostik yang sangat berguna dalam mendeteksi kemampuan, karakter dan kebutuhan siswa. Dengan begitu, guru dapat memberikan penguatan literasi yang berdasarkan kemampuan dan kebutuhan dari siswa/I tersebut.

Para dosen juga diajarkan keterampilan langsung dalam menggunakan buku berjenjang dengan melakukan simulasi langsung.

Selain itu, dosen-dosen juga dibekali dengan cara menilai kemampuan peserta didik dalam menggunakan buku berjenjang ini.

Sangat Bermanfaat

Pater Doni Kleden, CSsR sebagai Kaprodi dari Pendidikan Bahasa Indonesia mengatakan bahwa pengetahuan yang didapatkan sangat bermanfaat dan dikemas dengan cara yang sangat menarik. Pater berharap metode membaca tembimbing bisa digunakan mahasiswa sebagai salah satu topik yang diangkat dalam skripsi-skripsi mahasiswa. Metode ini efektif dalam mendukung kemampuan membaca siswa dikelas rendah.

Ferdinanus B. Sole, M.Pd sebagai dosen PGSD mengakui bahwa pelatihan ini sangat baik dan menjawabi isu literasi bukan saja yang terjadi dalam kampus STKIP tetapi juga yang terjadi secara general khususnya bagi dosen PGSD yang akan menghasilkan guru Sekolah Dasar. Dia sangat berharap agar dosen-dosen yang telah mengikuti pelatihan ini dapat menjadi fasilitator bagi mahasiswa atau guru-guru yang membutuhkan.

Program Manager STKIP, Herlinda mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat dan inovatif untuk diterapkan khususnya pada Prodi Paud, PGSD dan PBI. Pelatihan ini juga dilakukan dengan sangat detail dan sangat menarik.

Jika kegiatan membaca tembimbing menggunakan buku berjenjang dengan baik ini dilakukan secara baik maka siswa pasti akan termotivasi untuk terus membaca dan sampai pada kemandirian untuk mengembangkan kemampuan literasi mereka.

Selain memberikan pelatihan, Inovasi juga memberikan sumbangan berupa 4000-an buku berjenjang yang siap dipakai oleh Lembaga STKIP Weetebula.

Wilhelmus Yape Kii mengucapkan terimakasih atas sumbangan yang diberikan karena akan sangat bermanfaat untuk Lembaga STKIP yang mendidik calon guru di pulau Sumba ini.

Usaha peningkatan literasi dalam dunia pendidikan memang bukan usaha yang mudah. Kita perlu berkerja sama dan berjalan beriringan untuk memecahkan personalan bersama. Pelatihan ini telah memberikan pengetahuan dan ketrampilan konkrit kepada para dosen dalam menggunakan buku berjenjang.

Hal ini dilihat dari hasil post-test dan refleksi yang diberikan di akhir pelatihan. Harapannya, dengan adanya Kerjasama antar pihak yang bergerak dunia Pendidikan, persempitan terhadap kesenjangan dari learning loss dapat dilakukan dan budaya literasi dapat berakar sedini mungkin pada pelajar di pulau Sumba.