Catatan Ringan dari Bale-bale Kampung tentang Politik Uang

121

Oleh Emanuel Dapa Loka

Kira-kira jam menunjukkan pukul 11 lebih sedikit WITA pada hari Minggu terakhir Maret lalu. Walau tampak mendung tipis, hawa terasa panas. Rasanya daya sengat panas matahari siang itu mencubit-cubit kulit. Karena panas yang sama, buah pinang yang telah diiris-iris dan dijemur di atas batu kubur dan tikar di pelataran rumah di kampung Pu’u Uppo, Desa Piero, Waijewa Barat, SBD, mulai mengering.

Seperti galibnya jika bertandang ke rumah tetangga, minimal dua hal segera disajikan, yakni sirih pinang dan kopi atau teh. Sudah merupakan kebiasaan juga, tamu tidak akan ditanyai “mau minum atau tidak” atau “minum teh atau kopi”. Benar saja! Kopi segera tersaji menyusul sirih pinang. Wow! Rasanya nikmat sekali menyeruput kopi sumba siang itu.

IKUTI ULASANNYA di LAPIERO TV:https://www.youtube.com/watch?v=GnM6whbUSTg

Materi obrolan di bale-bale itu zig-zag ke sana ke mari. Didahului seputar nostalgia tentang berbagai tempat bermain, tindakan-tindakan usil  atau kenakalan gaya anak kampung semasa kecil atau remaja. Tiba-tiba obrolan berbelok ke wilayah kebijakan atau pelayanan publik, pendidikan dan politik, juga gereja.

Seseorang bertanya kepada seseorang yang lain tentang “kemungkinan” untuk ikut bertarung dalam perhelatan atau pesta demokrasi 2024. “Benar mau maju nanti 2024 ko? Kalau benar, biar kita tahu dan siap-siap,” timpal Kaka Ande, demikian, pria 60-an tahun itu akrab disapa.

Dengan diplomasi, pria yang dimintai konfirmasi menjawab, “Kalau Tuhan menghendaki dan kalau yemmi mendukung, saya akan coba.” Yemmi dalam Bahasa etnis Waijewa berarti “kalian”. Jawaban tersebut mengisyaratkan ketidakpongahan dan terlampau semangat bin percaya diri. Dengan kata lain, yang bersangkutan masih akan membaca kemungkinan dengan cermat, apalagi masih ada sedikit waktu untuk menimbang-nimbang.

Berkaca pada realitas dan pengalaman selama beberapa periode terakhir, Kaka Ande lalu segera melanjutkan. “Ini pendapat saya orang yang tidak sekolah. Kalau benar-benar maju nanti, tidak usah banyak berjanji dan tidak usah juga bermain uang. Dua hal ini berbahaya untuk masyarakat dan anak-anak kami,” kata Kaka Ande sambil membetulkan tempat duduknya.

Kalau calon sudah beli suara lanjut Kaka Ande, jangan harap dia datang lagi setelah menang, sebab dia sudah beli kita orang. “Akibatnya, ya begini-begini saja kampung kita. Dan janji-janji yang tidak masuk akan hanya bikin bodoh,” kata Kaka Ande sambil membetulkan posisi cincinnya yang berhiaskan batu berwarna putih keabu-abuan.

Alasan lain yang Kaka Ande sampaikan sehingga tidak setuju gaya “bermain uang”, agar tidak menutup kemungkinan anak-anak orang kecil yang tidak memiliki uang untuk ikut bersaing secara sehat dalam kontestasi serupa. “Kalau yang punya uang pakai uang, nanti bagaimana dengan anak-anak kami? Mereka tidak akan bisa ikut, sebab kami ini tidak punya uang. Sampai kapan bermain uang semacam ini?” tanya Kaka Ande retoris.

Sementara itu, seorang anak muda, dengan dalih bahwa zaman sudah berubah mengatakan, permainan uang tidak terhindarkan. Kaka Ande pun tetap pada pendiriannya. “Kalau tetap pakai uang, di mana harga diri kita, dan kapan anak-anak kita bisa ikut juga. Ya, begitu pendapat saya orang yang tidak sekolah,” kata Kaka Ande mengulangi alasannya.

Realitas Politik Uang dan Harga Diri

Dari waktu ke waktu, permainan uang dalam perhelatan politik sudah menjadi “rahasia umum” di mana-mana. Bahkan ada calon yang tidak pernah kelihatan. Hanya uangnya yang kelihatan menjelang pencoblosan, tahu-tahu menang. Dan setelah itu lebih tidak kelihatan lagi. Lalu bagaimana orang semacam ini diharapkan menjadi teman seperjalanan, kawan seperjuangan rakyat di daerah pemilihannya? Dan yakinlah, dia tidak akan memiliki ikatan apa pun dengan rakyat Dapilnya. Dia bahkan akan katakan, “Selamat tinggal,” sambil bergumam dalam nada melecehkan, “Dasar manusia murahan yang hanya senilai 100 ribu!! Matilah kalian di situ!” Kenyataan semacam ini terjadi dari periode ke periode.

Dan benar yang dikatakan Kaka Ande. Membuka jalan terhadap politik uang atau aksi beli suara merupakan aksi sadar dan nyata yang meracuni jalan politik generasi kemudian yang merupakan anak-anak masyarakat setempat juga. Pada saat yang sama, berbicara tentang anak kampung atau ana tana membangun kampungnya sendiri adalah sebuah omong kosong.

Permainan uang untuk jual beli suara hanyalah sebuah pertanda bahwa moral yang membeli dan dibeli sangat dipertanyakan. Mempertahankan harga diri dengan tidak menerima uang 100 atau 200 ribu tidak akan mendatangkan kematian.

Jadi, jika kita ingin memutus rantai yang sudah terlalu lama membelenggu yang menyebabkan wajah kampung tidak pernah berubah dari waktu ke waktu, hentikan politik uang. Jangan menjerembabkan diri semakin dalam ke lubang yang sama, makin dalam dan dalam. BANGKITLAH!!