Katarsis Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kultur Nusantara

375

 

Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

Pendidikan nasional berbasis kultur nusantara merupakan tantangan tersendiri untuk dipraktikkan dalam kurikulum pembelajaran. Kurikulum sebagai locus pendidikan membutuhkan milieu atau lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan kompetensi dan pendewasaan kepribadian para murid.

Sekolah menjadi rumah formasi untuk mengembangkan kualitas layanan pendidikan. Dalam rumah formasi, kultur nusantara seharusnya mendapatkan tempat terhormat untuk diselaraskan dengan berbagai metode pembelajaran terbaru.

Anak-anak bangsa jangan sampai tercerabut dari akar budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Oleh karena itu para pendidik perlu memperhatikan signifikansi dan relevansi kultur nusantara ke dalam pembelajaran pada tingkat pendidikan dasar menengah.

Situasi dan kondisi pendidikan nasional akhir-akhir ini secara kontekstual berada dalam situasi yang tidak mudah. Selain ada pandemi Covid-19, kultur kekerasan fisik dan verbal terjadi di mana-mana. Ujaran kebencian tersaji di depan mata, dan dapat diklik di sosial media dengan sangat mudah.

Kultur kekerasan fisik dan verbal yang terjadi dan menjamur di berbagai tempat, sejatinya merupakan kegagalan formasi pendidikan dalam diri oknum-oknum yang terlibat. Masyarakat yang rentan, frustrasi, mudah dihasut dan disulut kemarahan secara mikro menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah untuk diperbaiki.

Emosi yang tidak stabil dalam diri seseorang atau kelompok dapat menimbulkan hegemoni yang dapat merusak sendi-sendi kerukunan dalam hidup bermasyarakat.

Polarisasi hubungan yang tidak sehat antarkelompok kepentingan dapat memicu kerusakan silaturahmi anak-anak bangsa yang sedang membangun dan merajut negeri yang indah bagaikan zamrud khatulistiwa.

Perilaku menyimpang yang terjadi pada sebagian orang dapat memunculkan kekacauan nilai dan peradaban. Dalam ilmu sosiologi, perilaku menyimpang disebabkan oleh adanya sosialisasi kebenaran semu, anomie (kehilangan pegangan norma), differential association (terkait pengaruh lingkungan yang buruk), dan labeling (pemberian cap buruk pada seseorang atau kelompok).

Perilaku menyimpang yang terjadi di masyarakat perlu diperbaiki. Karya pendidikan dalam kultur nusantara merupakan salah satu basis penting dalam memperbaiki kualitas moral bangsa.

Keluhuran Budi

Menurut Ki Hajar Dewantara (1936, dalam 2013) kultur atau kebudayaan didefinisikan sebagai buah dari keadaban manusia. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa adab manusia merupakan keluhuran budi yang melahirkan kebudayaan.

Esensi kebudayaan mengandung upaya manusia untuk mencapai kemajuan hidup secara pribadi maupun komunal. Oleh karenanya, dibutuhkan strategi kebudayaan sehingga manusia dapat memperbaiki kualitas diri atau kelompok.

Strategi kebudayaan membantu para pendidik mengatasi persoalan prilaku menyimpang di kalangan pelajar. Strategi yang digunakan adalah katarsis pendidikan dalam lingkungan sekolah.

Secara etimologis, katarsis berasal dari kata Yunani katharsis, κάθαρσις yang berarti pemurnian atau pembersihan. Sekolah adalah tempat yang suci untuk memurnikan dan memperbaiki sikap-sikap hidup yang menyimpang.

Dalam katarsis pendidikan, yang perlu dilakukan adalah pembelajaran agama, logika kebenaran, etika, humaniora, di samping pembelajaran ilmu pengetahuan. Dalam logika kebenaran para murid dilatih bernalar, menganalisis dan menarik kesimpulan secara benar.

Kultur berupa adab memungkinkan manusia menjadi makhluk merdeka. Manusia merdeka merupakan pribadi yang berdaulat, bebas dari kekangan natur atau alam semesta dan bahkan menurut Driyarkara (2006) makhluk kebudayaan bukan lagi bagian dari nature.

Manusia merdeka melalui daya kreativitas yang dimiliki dapat melakukan inovasi, terobosan, dan alternatif pengembangan diri. Aneka tindakan kreatif manusia digunakan untuk menjawab problematis kebutuhan esensial. Persoalan problematis hidup – acap kali – terjadi karena repetisi masalah-masalah keseharian yang tidak dapat diselesaikan. Karya kreatif muncul dari kesulitan hidup manusia.

Manusia dalam kesulitan berupaya mengatasi persoalan-persoalan hidup yang dialami.  Hasil pembangunan dalam 20-an tahun terakhir di Indonesia sebagai bukti konkret yang mengindikasikan bahwa produk budaya kreatif, dan inovatif berkembang secara luar biasa pasca masa sulit, krisis ekonomi 1998.

Peradaban Dunia

Kultur nusantara merupakan bagian peradaban dunia yang kaya dengan hasil-hasil kebudayaan. Produk kultur nusantara tercermin dalam adat istiadat yang dipraktikkan di dalam kehidupan bermasyarakat. Kekayaan kultur nusantara terangkum dalam pandangan bangsa yang tertuang dalam butir-butir Pancasila.

Pada sila ketiga butir kelima, dikatakan, “Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.” Sila ketiga butir kelima mau menegaskan bahwa bangsa Indonesia kaya akan keberagaman kultur nusantara.

Banyak kearifan lokal berbasis kultur nusantara yang menginspirasi anak-anak bangsa dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai salah satu contoh, ada istilah—dalam bahasa Jawa—tatag (daya tahan) dan teteg (kokoh, kuat).

Orang yang di dalam dirinya terdapat tatag dan teteg tidak lagi merasa amat khawatir, tetap tabah menjalani hidup, menjadi pribadi yang kukuh, tangguh, dan mempunyai prinsip hidup yang kuat.

Keteguhan hati dalam konsep tatag dan teteg memampukan manusia menata rasa khawatir menjadi ketenangan batin. Ketenangan batin yang demikian dapat mengantar manusia pada transformasi diri, yaitu menanggalkan kelekatan-kelekatan tak teratur dan berani memulai hidup baru dengan fokus dalam karya, rukun sebagai warga negara, rela berkorban demi nusa dan bangsa.

Sebagai catatan akhir tulisan, penulis menekankan pentingnya katarsis dalam pendidikan. Hal-hal buruk yang terjadi dalam lingkaran pendidikan perlu dibersihkan dan diperbaiki.

Manajemen sekolah yang unggul membantu para murid untuk memperbaiki kualitas diri mereka berdasarkan budaya sekolah yang diperkaya oleh keberagaman kultur nusantara.

Dalam komunitas pendidikan yang berkualitas, perihal sosialisasi kebenaran semu, anomie, differential association, dan labeling tidak perlu terjadi. Komunitas pendidikan perlu membangun integritas lembaga sekolah, dengan memperhatikan hubungan formatif antar pribadi.

Sekolah dalam kultur nusantara menjadi kaya karena keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan dihargai sebagai kenyataan yang menyatukan.

Semoga katarsis pendidikan dalam kultur nusantara dapat menghasilkan profil lulusan sekolah yang bermartabat, cerdas, peduli, dan berkarakter mulia.*