MUSIK UNTUK PERJUANGAN

80
Eka Budianta, Sastrawan dan kolumnis

 

Eka Budianta, sastrawan

Apakah bernyanyi bisa disebut berjuang?  Tentu tidak.  Tapi berjuang bisa dilakukan dengan bernyanyi. Sudah sering kita dengar Cak Markuwat masuk penjara gara-gara bernyanyi Jula-juli Surabaya  yang menyindir penguasa Jepang. Lagunya “Bekupon omahe dara / Melok Nippon awak sengsara”.

Kita juga mendengar bagaimana lagu Indonesia Raya  menyemangati bangsa ini sejak 1928, hingga mencapai kemerdekaan pada 1945 bahkan sampai sekarang.  Semoga begitulah selama-lamanya.  Saya teringat ketika mengunjungi Balai Kota Strassbrough, ada ruang bersejarah, tempat lagu kebangsaan Perancis pertama kali dinyanyikan!

Tentu La Marseillaise.  Meskipun tidak punya paspor Prancis, saya tergetar setiap kali menyanyikan lagu itu.  Sama terharu dan tergetar dengan bernyanyi: Hitam kulit, keriting rambut Aku Papua!…. (Terus sampai habis )…“Bila nanti langit terbelah, Aku Papua!”

Lagu-lagu nasional (lebih-lebih lagu kebangsaan) selalu membuat kita terharu-biru.  Dengan menyanyikan Kimigayo yang sangat lembut, kita merasakan jiwa bangsa Jepang. Kita diberi pengharapan bahwa kerikil yang kecil akan tumbuh menjadi bukit.  Itulah lagu kebangsaan paling tua dan paling singkat.  Puisinya diciptakan lebih dari seribu tahun silam, meski dinyanyikan hanya 56 detik.

Begitu pula bila mengentak-entak dengan Star Spangled Banner, rasanya kita ikut lebur dalam perjuangan Amerika Serikat, menjaga benderanya agar selalu berkibar.  Meskipun peluru roket merobek-robek langit.  Gubahan Francis Scott Key dari tahun 1814.

Untuk Kemanusiaan

Kalau sobat saya Sari Narulita bernyanyi “Siapa berani menurunkan engkau?” saya cepat membalas: “ Serentak rakyatmu membela!”  Kita boleh teringat bagaimana Ibu Sud menghargai sikap seorang karyawan yang tidak mau ketika disuruh menurunkan Sang Saka.

Lagu memang sangat menggerakkan.  Sahabat saya, Robert Gallaher di Afrika Selatan, mengajar saya lagu “Senzenina Senzenina” –  (artinya: Apa yang kulakukan) dan saya suka sekali.  Itulah lagu yang menumbangkan rezim Apartheid.  Bisa dinyanyikan dengan nada sedih saat pemakaman.  Bisa juga diteriakkan  untuk mengobarkan semangat dalam demonstrasi.

Unjuk rasa, upacara, doa dan semua perjuangan bersama tidak mungkin dilakukan tanpa bernyanyi.  Jadi bernyanyi bisa berarti berjuang, meskipun berjuang tentu tidak berhenti pada bernyanyi.

Pada hari raya Valentine, 14 Februari 2022 kemarin, saya mendengar putri bungsu kami, Marya Budianta ikut dalam acara Senandung Cinta.  Saya tersentuh ketika ia menjerit “Salah pakaianku kah? Rambutku kah?”  Ia menulis lagu berjudul Sesat Pikir untuk mendukung Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

Ya Ampun!  Dalam  acara Masyarakat Advokasi Pendukung UU PKS itu saya baru tahun bahwa  hak untuk dilindungi sebagai pelapor pun perlu diperjuangkan.  Dan lagu sangat berfungsi untuk mendidik masyarakat.  Bukan hanya untuk membela bendera, tanah air dan menang dalam perang, tapi juga untuk melindungi manusia. Apalagi yang lemah dan sudah menjadi korban tindak kekerasan.

Kita semua tahu, Wage Rudolph Supratman juga menulis lagu Ibu Kita Kartini. Dengan lagu itu, kita diajar mencintai dan menghormati seorang putri sejati.  Lagu itu mengajar publik memahami perjuangan kaum perempuan.  Dan ternyata, perjuangan mereka belum selesai.

Semoga kita semakin pandai meresapi dan mendukung upaya memanusiakan manusia.  Lagu perjuangan terindah memang upaya mendidik diri sendiri.  Terima kasih pada almarhum Franky Sahilatua  yang sudah mengajar kita bernyanyi Aku Papua.  Kita disadarkan pula bahwa hak minoritas  perlu mendapat jaminan. *