Wow! Pesepak Bola ini Membuat Tato Wajah Yesus di Sekujur Tubuhnya

424
pada sekujur tubuh Pasquale Mazzocchi tampak tato gambar wajah Yesus.

TEMPUSDEI.ID (8/2/22)-Pemain sepak bola  berbakat ini menyukai seni tubuh dan menggunakannya untuk menonjolkan hal-hal yang paling dia sukai dalam hidup.

Namanya Pasquale Mazzocchi, 26 tahun asal Napoli. Kini ia bermain di klub Salernitana. Dia berhasil masuk ke Serie A (liga top Italia) dengan keringat, pengorbanan, dan kemauan keras.

Dia memutuskan untuk membuat tato besar di seluruh punggungnya. Untuk itu dia tidak memilih naga, tengkorak, atau slogan, tetapi gambar indah Yesus dengan mahkota duri.

Ia terinspirasi oleh gambar terkenal aktor Robert Powell: Yesus dari Nazareth karya Franco Zeffirelli.

Hal menarik lain dari Mazzocchi, keluarga adalah segalanya, dimulai dengan istri yang ia temui di masa mudanya dan selalu bersamanya. Dia juga seorang yang rendah hati. Mazzocchi tetap sama setiap kali kembali ke Barra, di pinggiran Napoli. Di sana dia selalu mengenang masa kecil dan pengalamannya ketika pada usia 11 tahun mengejar mimpi. Mimpi itu kemudian menjadi kenyataan. Mimpi yang sama membawa kegembiraan bagi dirinya sendiri, keluarga, teman-temannya, dan seluruh lingkungan, yang saat ini menganggapnya sebagai teladan.

Iman dalam keluarga

“Bagi saya, iman adalah segalanya,” katanya kepada Fan Page. “Jika Anda tidak percaya pada Tuhan, Anda tidak percaya pada apa pun. Beberapa orang mengkritik saya karena tato itu, tapi saya benar-benar percaya. Saya, keluarga saya dan istri saya juga. Saya menghormati semua orang, dan saya berharap orang lain melakukan hal yang sama kepada saya”.

Tato bayi di Dadanya

Mazzocchi tidak hanya memiliki tato Yesus. Dia juga memiliki tato lain yang sangat penting—seorang anak ditato di dadanya. Dia menjelaskan kepada Fan Page: Dia adalah teman yang kepadanya saya dedikasikan gol saya saat melawan Empoli. Dia anak laki-laki yang tumbuh bersama saya di lingkungan itu. Kami tidak terpisahkan. Sayangnya, ketika dia berusia 9 tahun, meningitis membawanya pergi dan sejak itu tidak ada hari tanpa saya mengingatnya. Hari ini orang-orang muda sering memanggil satu sama lain “Saudara”, tetapi dia benar-benar saudara untuk saya. Dan ketika dia meninggal, sebagian dari diriku pergi bersamanya. Kedengarannya seperti klise, tetapi saya dapat meyakinkan Anda bahwa saya mengalaminya. Saya juga berhutang budi padanya, karena saya yakin, dalam beberapa hal, dari atas sana, dia memberi saya keberanian untuk meninggalkan segalanya dan pindah ke Benevento. (Aleteia/tD)