Bukanlah Tugas Kita Menghakimi Diri dan Sesama

133
Eleine Magdalena

Oleh Eleine Magdalena, Penulis buku-buku renungan best seller

Minggu lalu, Sinta mengajak suaminya ke gereja. “Pa, tidak ikut Misa?”  Si suami yang kelihatannya memang tidak bersiap-siap ke gereja itu menjawab, “Nggak usahlah, masih banyak dosa nih.. Nggak pantas ke gereja…”.

Ketika Tuhan dekat, bisa saja kita merasa amat takut karena Allah sangat kudus dan kita sangat berdosa. Ketika Sang Terang mendekati kita, segala yang kotor dalam diri kita menjadi tampak jelas.

Dalam Kitab Suci kita baca Musa yang menutupi mukanya karena takut memandang Allah (Kel 3:6). Ketika Sang Terang mendekati kita, segala yang kotor dalam diri kita menjadi tampak jelas.

Demikian pula Yesaya. Dia ketakutan ketika melihat Allah karena ia merasa sangat berdosa dan tidak pantas (Yes 6:5-6). Apa yang dilakukan malaikat Tuhan terhadap Yesaya? Segala dosanya diampuni dan dibersihkan. Batin Yesaya menjadi bening sehingga ia mendengarkan permintaan Tuhan: “Siapakah yang akan Kuutus, siapakah yang mau pergi untuk Aku?”

Pergi untuk apa? Pergi untuk mewartakan keselamatan dari Tuhan dan perlunya bertobat. Yesaya yang hatinya telah dibersihkan dari dosa menjadi dekat di hati Tuhan. Ia dapat mengerti begitu mendesak dan pentingnya permintaan Tuhan sehingga ia segera menjawab: ”Ini aku, utuslah aku!”

Bisa juga kita merasa sangat kagum karena melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa. Dalam Injil Lukas 5:1-11 kita bisa mengetahui reaksi Simon Petrus yang takjub setelah penangkapan ikan di siang hari. Siapa pun tahu waktu menangkap ikan yang terbaik terjadi pada malam hari. Yesus bukanlah nelayan. Tapi Petrus menurut, karena percaya. Petrus lalu tersungkur di depan Yesus setelah melihat hasil tangkapan yang sangat banyak itu dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa”.

Yesus menjawab: “Jangan takut”. Yesus menginginkan agar Petrus lebih dekat kepada-Nya. Yesus mau menjalin hubungan khusus dengan Petrus, orang yang merasa sangat tidak layak itu. Bahkan Ia memercayakan tugas baru kepada Petrus. Karena Yesus, Petrus dapat menangkap ikan yang sangat banyak itu. Demikian pula Petrus dapat menyelamatkan banyak jiwa bersama-Nya. Yesus memilih perahu Petrus sebagai simbol Gereja yang akan dibangun di atas batu karang Petrus.

Mengajak orang lain untuk bertobat dan datang kepada Allah yang menyelamatkan adalah tugas setiap orang yang telah dibaptis. Tugas ini tidak selalu mudah. Suatu kali kita mungkin menghadapi perlawanan. Seperti Nabi Elia di Gunung Karmel seorang diri melawan 450 orang nabi Baal. Hal ini dilakukannya demi menunjukkan bahwa hanya Allah Israellah satu-satunya Allah yang hidup dan benar.

Tuhan mendengarkan doa Elia dan menurunkan kuasa-Nya sehingga tugas Elia berhasil. Setelah melawan nabi Baal, Nabi Elia mendapat ancaman pembunuhan dari Isabel. Elia hampir putus asa dan merasa takut sehingga melarikan diri. Waktu itu ia pun berseru kepada-Nya dan Tuhan menolongnya. Tuhan mengirimkan malaikat untuk memberi Elia makan sehingga Elia kuat untuk meneruskan perjalanannya.

Allah kita bertanggung jawab. Jika Ia memberi tugas, Ia memperlengkapi dan menyertai kita dengan kuasa-Nya sehingga kita tidak akan dipermalukan. Bukanlah tugas kita untuk menghakimi diri sendiri dan orang lain. Tugas kita adalah melaksanakan perintah-Nya menjadi penjala manusia dengan menebarkan jala kasih, pengampunan, kemurahan hati, kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.