Fenomena “Boneka Arwah”: Sebuah Gugatan Akal Sehat dan Iman

105
Bukan boneka arwah/ist

Simply da Flores, Harmony Intitute

Spirit Doll atau Boneka Arwah menjadi sebuah fenomena yang sedang viral di jagad maya. Masyarakat heboh dan resah. Banyak tanggapan dan komentar, umumnya merasa cemas bahkan ketakutan.

Boneka arwah artinya boneka yang memiliki kekuatan supranatural, dan sosok pribadi seperti manusia. Maka boneka ini mendapat perawatan dan perlakuan khusus seperti manusia oleh pemiliknya. Bedanya, boneka ini tidak buang hajat.

Terhadap fenomena ini, saya mencatat beberapa hal untuk menjadi bahan sharing dan tukar pikiran lebih lanjut.

Pertama, adanya boneka dengan kekuatan magis dari sosok penghuni di dalamnya bukanlah hal baru dalam budaya di Nusantara maupun Asia, Afrika dan Eropa. Ini terlihat dalam banyak film horor, lupa judulnya, tentang adanya boneka yang bisa berlaku seperti manusia. Bisa bicara, membantu pemiliknya dan ada yang jahat. Atau dalam filmnya Harry Potter, pohon pun bisa berlaku seperti manusia.

Dalam tradisi adat budaya di Nusantara, ada banyak benda pusaka yang dipercaya keramat karena memiliki kekuatan gaib; entah dari leluhur atau makhluk gaib – kekuatan alam supranatural. Misalnya keris, pedang, tongkat, kain, batu mustika, cincin, dll. Lalu, oleh pemiliknya dipelihara dan diperlakukan khusus seperti manusia. Ada sajian khusus, makanan, pakaian, kotak atau rumahnya, dll.

Kedua,  Tentang bonekanya sendiri pasti ada ceritanya dan sejarah asal-usulnya. Apakah itu peninggalan dari sosok pribadi tertentu, lalu rohnya hadir dalam boneka itu, atau ada makhluk gaib yang menjadikan boneka tersebut sebagai rumahnya, atau ada yang memanggil sosok makhluk gaib dan memasukkan ke boneka tersebut sesuai pesanan sang pemilik. Pemilik yang tahu persis cerita dari boneka arwah tersebut.

Ketiga,  Soal perawatan oleh baby sister boneka arwah, dengan gaji yang menggiurkan. Sebagai info, bisa-bisa saja. Tetapi kebenarannya perlu dipertanyakan. Karena, soal relasi benda-benda yang ada unsur magisnya, tidak biasanya menjadi konsumsi publik. Maka, wajar menjadi viral, jika hal yang biasanya privat justru dipublikasi umum. Hal yang biasanya rahasia, lalu seperti barang dagangan. Ada apa dan apakah benar demikian ada yang pamerkan “rahasia” pribadinya, seperti peliharaan hoby? Misalnya binatang kesayangan: anjing herder, kucing, kadal, ular, burung, dll.

Keempat, tentang perilaku pemilik “boneka arwah”. Zaman milenial digital, menawarkan berbagai informasi dan hiburan. Ketika semua kesenangan hiburan dirasakan tidak memuaskan, maka ada pribadi atau kelompok orang yang mencari sensasi baru. Mencari yang lain, yang tidak biasa, atau yang aneh untuk memuaskan diri dan proyeksi diri. Ada ekspresi pribadi yang mencari obsesinya pada dunia gaib, demi mendapatkan pengakuan diri atau kepuasan diri. Ingin tampil beda. Lalu, dengan media informasi digital, hal itu dipublikasi. Dan banyak yang menjadi konsumen. Manfaat terdekat yakni beritanya sensasional dan viral. Jika pelaku adalah pegiat Medsos, bisa mendulang keuntungan duit karena postingannya viral, viewers lebih dari 5 juta.  Info tentang baby sister boneka arwah, dilihat lebih dari 15 juta viewers.

Kelima,  “anomali milenial” – kelainan zaman now. Maksudnya, dengan perubahan zaman digital milenial, lalu teknologi informasi membanjiri kehidupan manusia, maka muncul kelainan individu dan komunitas baru. Persoalan dasarnya, pesatnya teknologi informasi dengan booming data dan tawaran, tidak sebanding dengan kemampuan pikiran manusia mencerna data dan membuat keputusan, serta ketrampilan menguasai sistem teknologi informasi digital. Maka lahirlah fakta manusia dikuasai teknologi informasi, dan bingung dalam hidup. Individu yang terasing dengan dirinya, lalu mencari sosok diri dengan hal baru dan aneh di luar dirinya. Salah satunya, yakni boneka arwah.

Pernah dijelaskan oleh Mr. Roy Kiyosih dalam acaranya di televisi, bahwa ada banyak boneka gaib yang dikoleksi di rumahnya. Barang-barang magis diserahkan oleh pasiennya, karena tidak mampu dikendalikan dan mendatangkan masalah bagi pemiliknya.

Keenam,  bagi masyarakat umum, kecemasan dan ketakutan akan fenomena boneka arwah, antara lain disebabkan oleh ketidaktahuan atau kekurangan informasi tentang boneka arwah. Banyak orang takut hantu atau setan, karena diceritakan menakutkan, lalu diterima dan diamini sebagai hal menakutkan, dan tidak lagi dicari tahu infonya. Zaman ini didukung lagi dengan kemudahan teknologi informasi digital, maka gampang disebarkan. Jadilah viral dan bisa menciptakan ketakutan publik. Hal itu bisa jadi obyek bisnis yang menguntungkan bagi pegiat media dan selebriti pemilik bonekanya.

Dengan beberapa poin di atas, hemat saya, fenomena boneka arwah – spirit doll, menggugat dua hal berikut bagi pribadi kita masing-masing.

Pertama, bagaimana kemampuan akal sehat kita, daya kritis kita, kesadaran kognitif kita untuk mengolah informasi media sosial, bagi pilihan dan keputusan hidup kita di zaman teknologi digital ini?

Kedua, bagaimana kita introspeksi, merawat  dan menghidupi iman kepercayaan kita masing-masing, sebagai umat beragama di zaman digital milenial ini.

Semoga fenomen boneka arwah justru membuat kita semakin kritis dan ber-“akal sehat” serta beriman dengan sadar. Bukan menjadi korban teknologi digital karena terasing dengan diri sendiri. Orang gila milenial.